435. Antediluvian

Viewed : 225 views

Setelah Adam Hawa diusir dari Taman Eden, peradaban langsung semakin sedeng. Perkara sederhana dapat berakhir dengan kematian. Hubungan sesama, bahkan diantara saudara bersaudra pun cedera hanya karena berbeda cara dalam menjalankan keyakinan (Kejadian 4:3-5).

Kain, sang abang, bertindak tidak main-main. Rasa iri yang memuncak membuatnya kehilangan penguasaan diri. Kalau sudah menyangkut isu agama, daku bisa kehilangan akal. Tidak saja di era dahulu kala, bukankah sekarang pun serupa? Karena ucapan sepele yang menyerempet perkara keyakinan, dapat dituduh sebagai penistaan agama yang berakibat terjadinya huru hara.

Habil, sang adik, ritual ibadahnya membuat emosi Kain labil. Tidak tanggung-tanggung, Kain tega menipu adik dengan pura-pura mengajak pelesiran ke luar kampung. Dan benar saja, tiba-tiba Kain menusuk dari belakang, tega melihat adik kehilangan nyawa di depan mata (Kejadian 4:8).

Puaskah sang abang karena nyawa adik sudah melayang?

Alkitab tidak banyak cerita, seakan-akan kitab Kejadian hemat berkata-kata. Adinda tidak akan dapat penjelasan yang lengkap, bagaimana perkembangan peradaban di era sebelum air bah tiba, antediluvian. Apakah stori abang membunuh adik sebagai pertanda awal bagaimana arah sejarah ke depan?

Setelah kitab Kejadian pasal 3, tatkala manusia pertama terbujuk melawan titah-NYA, di pasal ke 4 dan ke 5 Adinda tidak akan dapat banyak data, bak semua peristiwa tersembunyi bagi telinga dan mata. Namun apa hendak dikata, di ke dua pasal inilah terletak rahasia, kepingan kunci trailer sehingga DIA pun merasa menyesal menjadikan manusia.

Kalau dikau membaca kitab Kejadian, kemungkinan besar pasal ke 4 dan pasal yang ke 5 akan di-skip begitu saja. Mengapa? Ya, tidak menarik. Ke duanya hanya berisi deretan nama dari generasi ke generasi dan daftar umur yang umumnya sangat janggal bagi telinga anak muda yang gandrung hidup di era serba maya.

Dan Metusalah masih hidup tujuh ratus delapan puluh dua tahun, setelah ia memperanakkan Lamekh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Metusalah mencapai umur sembilan ratus enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati. (Kejadian 5:26,27)

Sepintas tidak ada yang menarik, sepertinya peradaban berjalan seirama dengan berjalannya roda kehidupan. Lahir, menikah, muncul keturunan berikutnya, dan akhirnya mati! Hanya yang mungkin membuat mata Adinda terbelalak, rata-rata umur mereka panjang luar biasa. Selebihnya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Lalu, mengapa DIA sedemikan kecewa sehingga menyesal menciptakan manusia?

Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. (Lukas 17:26,27)

Setali tiga uang, kitab-kitab di Perjanjian Baru pun tidak banyak bernostalgia masa lalu, di era nabi Nuh. Sebagaimana layaknya peradaban, baik di era purba maupun kini, sama saja. Bahkan digambarkan suasana sosial kemasyarakatan di era antediluvian tidak beda dengan nanti waktu kedatangan-NYA yang ke dua kali!

Makan-minum, kawin-dikawinkan, bukankah ini rutinitas normal dari bagian kehidupan sejak dahulu? Lalu, mengapa DIA begitu menyesal sehingga berakibat pemusnahan total. Jika hanya menyangkut kebutuhan fisik Adinda untuk bertahan hidup dan keberlanjutan peradaban, rasa-rasanya kekecewaan DIA tidaklah berakibat malapeta yang sedemikian luar bisa.

Lantas, peristiwa apakah gerangan yang terjadi di era antediluvian sehingga Sang Maha Kuasa kecewa tak terkira? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments