390. Headquarter

Viewed : 335 views

Pada awalnya, langit belum terbentuk, suasana begitu gelap gulita. Tidak terlihat apa-apa karena belum ada cahaya yang menerangi jagad raya. Dari tiada, akhirnya terbentuklah alam semesta, rangkaian galaksi bertebaran bak mutiara di langit yang jumlahnya tak terkira.

Jangan bertanya, bagaimana penjelasan ilmiahnya. Dikau akan kecewa. Apakah alam semesta bermula dengan peristiwa Dentuman Besar (Bing Bag)? Ataukah tranformasi perubahan dimensi singgularity ke multi dimensi? Ataukah alam semesta sudah ada sejak kekal dan terus berkembang hingga berlangsung selama-lamanya?

Seakan-akan, narasi Kitab Kejadian tidak memperdulikan teori penciptaan! Ataukah itu tidak penting karena bukan itu yang hendak disampaikan. Sesuai pemahaman peradaban, seturut dengan perkembangan ilmu pengetahuan, layaknya asal mula alam semesta terbuka untuk berbagai penjelasan.

Dikau tidak perlu pakar, siswa Sekolah Dasar pun dengan segera dapat mengerti. Yang pasti, lebih singkat dari naskah proklamasi, padat, dan berisi. Berita yang hendak disampaikan, ada Sang Pencipta, Elohim (Hebrew Bible), yang menciptakan langit dan bumi.

Pada mulanya Allah [Elohim] menciptakan langit dan bumi. (Kejadian 1:1)

Langit dan bumi bukanlah ada dengan sendirinya, apalagi oleh peristiwa random alami yang terjadi oleh aktivitas mindless unguided natural process, sebagaimana diyakini oleh penganut atheism. Bukan! Melainkan, ada satu pribadi yang menciptakan dengan ada maksud dan tujuan.

Tidak perlu berlama-lama, setelah baris pertama Alkitab, narasi berubah ke bab selanjutnya. Singkat, cepat, adegan beralih ke bumi yang masih kosong korontang. Sementara, jangan hiraukan apa yang terjadi di alam semesta, ataupun menduga-duga misteri apa yang ada di balik tata surya. Sang Pencipta tengah mengajak pembaca untuk mengalihkan perhatian ke bumi beserta isinya.

Boleh jadi, dibutuhkan berlaksa-laksa masa, agar terbentuk air dan udara. Kembali lagi, Alkitab tidak terlalu peduli bagaimana proses kimiawi sehingga itu semuanya boleh jadi. Juga tidak tertarik menjelaskan rangkaian peristiwa fisikawi, sehingga bumi bisa dihuni.

Dari jumlah tak terbilang bintang, planet, dan benda angkasa, siapa sangka perhatiannya ke bumi. Walau bumi hanyalah bak debu di alam semesta (Yesaya 40:15), namun ke sanalah perhatian-NYA sejak semula.

Mengapa bumi, bukan yang lainnya? Tidak heran, setelah kalimat pertama dalam Alkitab, kisah berlanjut hingga kepada kitab yang penghabisan, Kitab Wahyu, tentang seputar bumi dan penghuninya. Seakan-akan kisah lainnya, hanyalah pelengkap misteri kisah cinta-NYA kepada Adinda.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. (Kejadian 1:2)

Sejak semula, dari awal cerita, DIA mencari tempat ‘berpijak’ di dunia. Sebagaimana burung merpati dilepas dari bahtera (Kejadian 8:9), begitulah Sang Pencipta mencari lokasi bak untuk menginjakkan kaki. Ibarat DIA ke sana kemari untuk mencari tempat yang pas untuk domisili.

Sorga di bumi, itulah Taman Eden yang berkenan di hati. Luas tak seberapa, namun di sinilah DIA nyaman berdiam diri (Kejadian 3:8). Dimensi adikodrati berjumpa dengan alam insani. Melalui taman ini, aroma Kerajaan Sorga menyebar ke seluruh pelosok negeri. Itulah rencana-NYA sejak dini.

Dapatlah diduga, Taman Sorga, lokasi Kerajaan-NYA bermula. Taman ini sebagai semacam kantor pusat, headquater, dalam mengeksekusi maksud-NYA bagi dunia. Di mana Sang Raja hadir, disitulah pemerintahan-NYA terlaksana.

Apa hendak dikata! Sejarah berkata lain. Headquater telah direbut, dan DIA ibarat tertunduk kalah, diam tutup mulut. Taman Sorga telah hilang, entah kemana. Alih-alih suasana sorgawi, bau tak sedaplah dengan cepat bergerak ke segala penjuru, kematian memburu setiap insan.

Pembaca yang Budiman! Bumi ini bukan Taman Sorga. Celaka nan fana menghantui peradaban. Gagalkah rencana-NYA di seantero negeri? Masihkah ada tempat yang bersedia menerima-NYA di dunia ( Matius 8:20)? Itu tergantung kepada kerelaan Puan dan Tuan! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments