353. Orang-Orang Sekampung

Viewed : 377 views

Bersyukur daku terlahir di Nusantara, alam permai tiada duanya. Negeri ribuan pulau, aneka ragam budaya, seribu satu macam bahasa. Sejak dahulu kala dipuja-puja bangsa. Ini tanah air beta, tanah tumpah darah hingga kelak daku tutup mata.

Daku dan dikau bisa saja berasal dari latarbelakang suku yang berbeda. Setiap etnik punya tradisi unik, logatnya pun khas nan spesifik. Dari intonasi ucapan kata, dikau dapat diterka berasal dari daerah atau pun suku yang mana.

Ada suku Jawa, yang dikenal sabar nan legowo. Ingat suku Madura, ingat pula budaya caroknya: lebih baik mati daripada menanggung malu. Batak yang identik dengan daerah Sumatera Utara. Suku bangsa yang bicara blak-blakan yang cenderung dianggap kasar, namun baik hatinya.

Ada pula suku Minangkabau yang berasal dari Sumatera Barat. Ke mana pun bertandang, dikau akan temui resto Padang. Suku dengan darah sebagai pedagang. Satu-satunya suku yang sepakat mengikatkan diri secara formal dengan prinsip: adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah.

Falsafah hidup yang mengikat masyarakat Minangkabau. Tingkah laku yang didasarkan kepada kitab suci agama. Jangan mengaku sebagai orang Minang, jika dikau tidak beragama sebagai mana seharusnya bagi orang Padang.

Walau negara tidak berdasarkan agama, namun pemerintah ikut campur mengatur isu-isu agama warganya. Seorang anak, secara legal mengikuti agama orangtua. Sehingga anak-anak akan belajar agama di sekolah seturut agama orangtua. Menikah pun haruslah seagama agar diakui negara.

Identitas agama dibutuhkan dalam keperluan yang berhubungan dengan semua administrasi kepemerintahan. Mulai dari sejak lahir, masuk sekolah, hingga mencari pekerjaan, menikah, bahkan hingga di kuburkan di mana. Semua membutuhkan identitas agama.

Dalam kehidupan nyata masyarakat, umum dijumpai dalam satu keluarga besar terdapat penganut dari berbagai agama. Karakteristik yang, mungkin, hanya ada di Nusantara. Bertetangga pun jamak dari suku berbeda, namun ramah saling tegor sapa.

Ada 6 agama resmi yang diakui negara, satu agama mayoritas dan 5 lainnya minoritas. Dari sekitar 270an juta, 240 juta peduduk penganut agama moyoritas. Sisanya tersebar di antara ke 5 agama lainnya.

Sudahlah menjadi rahasia umum, jika daku dari mayoritas dan percaya kepada Mesias, maka itu diidentikan dengan merubah identitas agama ke kelompok minoritas. Perubahan ini dapat saja menyebabkan gejolak sosial politik bahkan tindakan anarkis.

Begitu juga, jika percaya kepada Sang Raja, tentulah dianggap sebagai penganut salah satu agama mioritas di negara ini. Tidak dapat dibayangkan, bila dikau percaya Mesias dan tetap dalam identitas agama mayoritas. Seribu satu macam pertanyaan akan segera bermunculan.

Yesus… berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Markus 5:19)

Kerajaan agama gandrung kepada ritual ibadah, bagaimana sikap yang benar dalam menyembah Allah. Tergoda untuk memastikan perubahan identitas lahiriah, apakah iman sinkron dengan agama yang sah.

Di tanah air, perluasan kerajaan agama akan menimbulkan tatanan sosial kocar-kacir. Bagi orang-orang sekampung, tetangga, kolega dan saudara-saudara, perubahan identitas agama berakibat yang bersangkutan tersingkir, dari lingkungan terusir.

Tidak demikian dengan Kerajaan Allah (KA). KA tidak tertarik dengan identitas lahiriah, termasuk mana agama yang sah di hadapan Allah. Sebaliknya, KA berfokus kepada perubahan manusia batiniah, kehidupan yang berubah.

Kerajaan agama akan menjadikan negeri seribu pulau pecah belah, tetangga bahkan saudara pun tidak lagi dapat betah duduk berdampingan. KA sebaliknya, ditunggu-tunggu oleh semua suku. Bahkan harmonis, cocok untuk dikau yang terlahir di ranah Minang yang sangat agamais. Uiiisss..✈️ (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments