Cahaya utama dari nilai kerajaan-NYA telah lama redup, diganti dengan sesuatu yang membuat daku gugup. Akibatnya aroma Kerajaan Allah (KA) dianggap menjadi bau yang tidak sedap. Entah kemana aroma semerbak itu telah pergi, tinggallah umat heran mencari-cari.
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, hanya tinggal semboyan. Kata-kata pemanis di akhir kebaktian, slogan hampa yang hampir tidak ada lagi makna. Motto yang digunakan sekadar perhiasan, ucapan kosong jauh dari nyata dalam kehidupan.
Pelan, namun pasti, jema’at disuguhi aroma KA yang diidentikan dengan pengertian cara pandang bau kerajaan agama. Berjalannya waktu, tahu-tahu, alih-alih meluaskan KA, tokoh-tokoh agama berusaha memaku KA dalam bingkai lembaga agama yang dingin nan kaku.
Akibatnya cukup rusak, meninggalkan fondasi nilai KA akan selalu membuat dada sesak. Jema’atlah yang paling terkena dampak. Para ahli Taurat yang memegang kampak. Daku yang tidak memenuhi standar akan segera tercampak. Dikau yang dianggap memenuhi kritera dipersilakan untuk merapat.
Fokus untuk mencari KA terlebih dahulu, bergeser ke seberapa setia daku mengikuti ibadah di hari Minggu. Mata Sang Raja tertuju kepada hati, kerajaan agama mengutamakan seberapa besar dapat berkontribusi. Mesias rindu mendekapmu, ahli Taurat sibuk menimbang-nimbang untuk mengklasifikasi daku.
Ahli agama sibuk terus menerus mendorong agar jema’at membaca Alkitab. Menghafal sebanyak mungkin ayat, dan terampil mengutipnya kembali setiap saat. Menghibur mereka yang berduka dengan memberi ayat-ayat pelipur lara. Mengkhotbahi dengan kata-kata jenaka.
KA lebih peduli bagaimana daku menghormati orangtua, memperlakukan mereka dengan mulia. Sehingga di masa tua, bahkan kala penyakit alzheimer menyapa, ada yang membuat mereka masih bisa tertawa. Karena ada anak senantiasa sedia diajak bicara, walau kata-kata sudah tidak lagi bermakna.
Elite rohaniwan gandrung melatih umat agar lancar berdoa, fasih merangkai kata sehingga serasa permohonan akan didengar Sang Pencipta. Mendapat meme dua jempol jika memimpin ritual perjamuan kudus tanpa cacat cela. Pendeta senang, jema’at pun girang karena semua sudah berjalan sesuai dengan kebiasaan.
KA berbeda. KA lebih tertarik melihat bagaimana daku memperlakukan sesama. Sikap kala saudara melakukan kesalahan dalam memimpin ritual ibadah Minggu di gereja. Akankah sikapku membuat dia rendah diri, atau lebih semangat untuk mencoba lagi?
Apa daku akan berkata: ‘Celaka! Kok kau bisa lupa, makanya kalau persiapan datang dong. Ibadah kali ini kan jadi seperti sia-sia!’ Atau: ’Tidak apa-apa. Persiapan kemarin berhalangan ya, tapi keluarga aman-aman saja kan?’ Yang satu menilai tampilan, yang lain lebih tertarik melihat keadaan yang bersangkutan.
Lembaga rohani fokus kepada bagaimana melatih jema’at agar memenuhi profil pekerja yang diisyaratkan. Menawarkan jenjang jabatan, bagi mereka yang dinilai cukup setia ikut kebaktian. Siap-siaplah lebih sering tampil di depan.
Yang tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan, relalah dianggap belum siap melayani Tuhan. Dan dikelompokkan sebagai pemain cadangan, duduk menonton pertandingan. Dipanggil kalau hanya diperlukan, bak pelengkap jalannya pertunjukan.
Mesias melihatnya tidaklah demikian. Boro-boro bicara melayani Tuhan, DIA lebih senang bertanya: ’Apakah dikau sudah baikan dengan tetangga yang di sebelah kanan?’ Tinggalkan kebaktian, lupakan pelayanan, datangi saudara yang mengjengkelkan. Dalam KA, tidak ada pemain cadangan, semua berperan.
Bau kerajaan agama memang bertolak belakang dengan aroma semerbak KA.
Yang pertama, mengotak-ngotak jema’at dalam berbagai grup berdasarkan kualitas. Sebagai cadangan atau pemain papan atas. Beda kelas! Daku hanya sebagai alas, dikau bisa jadi terlihat jelas.
Yang kedua, tidak ada beda kelas, semua sekelas, menjadi pemain teras. Daku dan dikau menjadi pemain utama di masing-masing arena. Gelanggang yang dikaulah satu-satunya yang tepat ada di sana untuk menghadirkan aroma semerbak KA. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |



