313. Golongan Intelek

Viewed : 757 views

Dalam sistem Kerajaan Agama, ada sekelompok golongan atas yang begitu berkuasa. Mereka dianggap umat sebagai panutan, teladan dalam mengikut Tuhan. Titah mereka setara dengan Firman Tuhan, karena golongan ini dianggap sebagai wakil Tuhan.

Jika mereka berbicara, kontan umat terdiam seribu bahasa, hening karena serius menyimak setiap kata. Mereka berwibawa, karena mereka golongan rohaniawan bukan dari orang kebanyakan. Satu-satunya kelompok yang dianggap bonafide dalam mengurai Firman Tuhan.

Mereka kelompok pakar, paham doktrin hingga ke akar. Rahasia pun bagi mereka terbuka lebar. Umat berpaling kepada mereka jika sudah menyangkut masalah dunia yang tidak kelihatan. Hidup kerohanian jema’at total bergantung kepada kaum rohaniawan.

Di tengah-tengah masyarakat mereka dijungjung tinggi. Ke mana pun mereka pergi, selalu disediakan permadani. Dalam acara resmi, selalu mereka duduk di tempat VIP. Aparat sigap beri hormat sambil berdiri. Bahkan presiden pun membungkuk di depan para padri.

Dalam sejarah, kaum elite rohani sering lebih berkuasa dari pada pemerintah. Keberadaan raja belum sah jika belum direstui hamba Allah. Itu dulu, tapi bukankah kini juga seperti itu?

Tidak disadari ataukah memang itu yang diingini? Umat ada dalam kendali. Kaum elite menguasai sampai kepada aspek jema’at yang paling pribadi. Sampai-sampai, siapa istri ataupun suami, belum terasa plong jika belum direstui oleh golongan ini. Bahkan masa depanku pun layaknya ada dalam genggaman tangan kaum padri.

Kekuasaan memang sangat mengoda, kedudukan dapat membuat daku gila. Sekali dikau di sana, baru tahu rasanya sebagai yang istimewa. Ke mana-mana selalu bak duduk di singgasana. Acara belum dapat berjalan jika daku belum ada. Walau dikau anggap diri sendiri sebagai orang biasa, namun jema’at tidak mungkin lupa dikau siapa.

Di persekutuan begitu juga di ibadah mingguan, kelompok ini selalu duduk di muka. Di sinode ataupun institusi menjadi ketua. Kata-katanya menjadi arahan, pedoman kehidupan beberapa tahun ke depan. Dan umat digiring untuk melakukan mimpinya yang didasarkan atas ayat-ayat Firman Tuhan yang begitu meyakinkan.

Jadilah, entah apa latar belakangmu ataupun apa pergumulanku, daku dan dikau menjadi objek, alat alias pelaku harapan golongan intelek. Hati siapa yang tidak gentar, jika ketaatan kepada kaum pakar terkesan sama dengan ada di jalan yang benar.

Kehidupan umat diseragamkan, daku dan dikau dipapah ke satu jurusan. Bersyukur, jika arahan itu sesuai dengan pergumulan. Sila tafakur, jika itu tidak sesuai dengan kenyataan hidup sebagai insan.

Janganlah kalian mau dipanggil orang dengan sebutan demikian. Karena hanya Allahlah yang menjadi ‘Rabi’ kalian, sedangkan kalian ini semua sederajat sebagai saudara. (Matius 23:8 FAYH)

Berbeda dengan Kerajaan Allah, semua saudara sedarah. Tidak ada strata, semua sama rata. Daku dan dikau, semua, anak-anak Sang Maha Kuasa. Hanya ada Satu Kepala, Sang Pencipta. Kepada DIA-lah mata umat mengharapkan iba-NYA.

Latarbelakang boleh berbeda, pergumulan tidak sama, itulah sebabnya relasi antar sesama umat percaya bak di dalam satu keluarga. Layaknya bubungan anak dengan orangtua.

Yang terdahulu legowo memberi kesempatan kepada yang lebih muda. Yang muda berani tampil beda karena hidup di era yang tidak serupa, walau hati tetap sama. Semua hormat kepada yang lebih tua. Saling bergantung, empati bagi yang tersandung. Senang dengan yang dapat nilai gemilang. Begitulah silih generasi pergi dan datang.

Setiap anggota keluarga berperan sesuai dengan keberadaanya. Kalau saja, gereja menfasilitasi, organisasi jeli melihat setiap pribadi. Maka, setiap pribadi menjadi subjek, penentu apa yang harus dilakukan institusi.

Warna warnilah yang akan menjelma, Kerajaan Allah memang berbeda. Setiap invidu berharga, berperan tepat di mana pribadi itu berada. Bukankah untuk itu daku dan dikau tercipta? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Photo by Jacob Bentzinger on Unsplash

Comments

comments