324. Kursi Musa

Viewed : 819 views

Ini jelas! Tidak mungkin bias. Tertulis dengan tinta emas, ucapan-ucapan pedas. Tegoran keras, semua pendekar agama jadi lemas. Tokoh-tokoh agama dilibas. Dan kaum kebanyakan, orang-orang biasa, jadi bebas.

Ini peristiwa sekitar 2000 tahun yang lalu. Kala itu, pendekar agama menjadi pandu yang menuntun umat untuk maju. Mereka sebagai referensi untuk menentukan apa yang perlu. Fatwa yang dibuat dijadikan buku, kumpulan aturan yang ditanamkan hingga menyatu dengan kalbu.

Umat kebanyakan, sangat tertolong dengan adanya petunjuk praktis dalam kehidupan. Bagaimana menjalankan iman dalam keseharian. Apa yang boleh dimakan, apa yang harus dihindarkan. Dan paling diutamakan, bagaimana hidup berkenan di hadirat TUHAN.

Lambat laun, umat mungkin tanpa maksud demikian, namun kedudukan sebagai elite rohaniawan di gada-gada. Kedudukan di mata orang biasa posisi itu sangat berwibawa. Kalau sudah menyangkut perkara sorga, mata jema’at berpaling kepada para pendekar agama.

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. (Matius 23:1-2)

Peringatan bagi daku dan dikau! Tidak dapat lagi dihindari, kenyataan dalam kehidupan rohani. Di lembaga agama ada berbagai macam kursi. Kursi Musa, posisi yang paling tinggi. Itu bak puncak jenjang karier rohani.

Anggapan umat, semakin tinggi jenjang kursi semakin taat beribadat. Jemaat terlena kepada kehidupan ahli Taurat, sabdanya sarat dengan hikmat. Untuk perkara yang tidak kasatmata, ke golongan ini umat berharap.

Para pemegang kunci sorga, mereka telah menduduki kursi Musa. Ataukah umat tidak sengaja, seiring berlalunya era, mereka didorong ke puncak tahta? Kursi Musa kursi dengan seribu kuasa. Bak raja dengan segudang kuasa, kedudukan yang sangat menggoda.

Kehadiran golongan ini dinantikan di mana-mana. Bak selebriti, apa saja yang dikatakan diberitakan. Dari kegiatan keseharian, info seputar jalan-jalan, sehingga kehadiran di suatu pertemuan selalu menjadi headline.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Matius 23:3)

Karena tuntutan peran, golongan ini dipaksa untuk banyak mengeluarkan pengajaran. Setiap hari didorong untuk mengarahkan umat dengan berbagi Firman Tuhan. Dan umat pun rindu untuk mendengarkan.

Amanat dari yang merasa menduduki kursi Musa padat dengan petuah. Anjuran-anjuran tulus yang dibungkus dengan bahasa indah-indah. Kata-kata motivasi mendorong umat untuk taat kepada Allah.

Namun Sang Raja keras mengungkapkan inti masalah!

Bukan kursi itu yang dipersoalkan, juga bukan isi ajaran yang dipermasalahkan. Tantangan bagi daku dan juga mungkin bagi dikau sepanjang masa, apakah yang dikatakan itu dilakukan? Ataukah merasa, itu hanya bagi pendengar atau bagi pembaca?

Tidak satunya kata dengan tindakan, membuat jema’at yang mengidolakan pendekar agama menjadi kecewa tak terkatakan. Kecewa yang membuat sebagian umat balik kanan, tidak percaya ada Tuhan! Ini tantangan bagi generasi kekinian.

Di era digital ini, peringatan Sang Mesias semakin perlu diperhatikan. Bisa saja dikau mem-forwad-kan renungan, video, ataupun pesan yang sangat menjanjikan bagi pertumbuhan iman. Alih-alih melakukan, daku yang menyebarkan saja belum tentu menyimak konten yang disampaikan.

Era zoom, era virtual. Semua berlomba menyebarkan renungan. Terlalu banyak ilmu untuk disimpan, berlimpah pengetahuan untuk siap disebarkan. Tidak disengaja, tuntutan masa, bak semua telah menduduki kursi Musa!

’Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu,’ kata Sang Raja. Bagi daku dan dikau, di era yang serba sarat dengan berita, lakukan apa yang dibaca. Forward-lah yang sudah dicerna. Namun demikian, pilihan tetap ada di tangan pembaca! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments