314. Super Body

Viewed : 353 views

Ini perjalanan panjang nan melelahkan. Pikiran melayang-layang, ini tidak mungkin dapat dilakukan. Setiap langkah suatu keajaiban, petualangan tak kenal batas melalui lembah kekelaman. Memasuki medan yang belum pernah dilalui sebelumnya, journey menuju tanah Kanaan.

Tanah idaman, rumah yang diimpi-impikan. Tanah subur penuh dengan kelimpahan madu dan susu. Semua kenikmatan yang dapat dikhayalkan tersedia di hadapan. Walau tanah Perjanjian belum kelihatan, namun itu semua memberi harapan.

Pengharapanlah yang membuat umat Israel dapat terus berjalan. Walau langkah tertatih-tatih dan napas gelagapan, namun imanlah yang memungkinkan kaki terus dapat melangkah ke depan. Mereka seakan-akan melihat yang tidak kelihatan, terus maju walau penghalang berjejer menunggu geliran.

Musa pun letih seharian mengurus begitu banyak persoalan. Bayangkan, seorang diri memimpin jutaan umat Israel keluar dari tanah Mesir, melewati tanah tandus padang pasir. Belum lagi masalah perkara isu perut, makanan dan minuman, ditambah lagi berbagai sengketa diantara jema’at, lengkaplah beban yang Musa harus angkat.

Saran dari Yitro, sang mertua, langsung diterima. Diangkatlah orang-orang pilihan dari umat, untuk turut berbagi beban mengadili dakwaan sesama rakyat (Keluaran 18). Demikian juga halnya dengan tua-tua Israel yang dari awal melihat, bagaimana Musa disertai dengan mukjizat. Mereka juga turut berbagi suka duka dalam memelihara iman umat agar tidak tersesat.

Sering kali tua-tua ini gemetar menyertai Musa menghadap TUHAN. Adakalanya, kelalaian umat juga menjadi beban di pundak mereka. Keberadaan tua-tua menjadi sangat menolong Musa untuk bersama-sama mengembalakan umat yang demikian besar.

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Kumpulkanlah di hadapan-Ku dari antara para tua-tua Israel tujuh puluh orang, yang kauketahui menjadi tua-tua bangsa dan pengatur pasukannya, kemudian bawalah mereka ke Kemah Pertemuan, supaya mereka berdiri di sana bersama-sama dengan engkau. (Bilangan 11:16)

Waktu begitu cepat berlalu, terbangnya pun buru-buru. Ribuan tahun setelah Musa tinggal kenangan masa lalu, posisi 70 tua-tua ini masih bertahan bahkan hingga sampai di Perjanjian Baru. Jatuh bangun umat, begitu ditentukan oleh mereka. Kedudukan yang begitu prestise, jabatan begitu terhormat di depan jema’at.

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. (Matius 23:2)

Kehadiran tua-tua yang begitu berguna, di kemudian hari berubah menjadi pembawa bala. Pelan tapi pasti, awalnya itu diperlukan namun menjadi perangkap setelah sekian generasi. Bentuknya masih tetap, fungsinya sudah jauh tersesat.

Kursi Musa telah diduduki, 70 tua-tua telah beroleh posisi. Lembaga yang begitu bergengsi. Kelak kursi ini berubah menjadi Mahkamah Agama bak Super Body yang ditakuti. Penentu nasib umat dalam seluruh aspek kehidupan rohani. Keputusannya dianggap sebagai suara ilahi.

Imam-imam kepala dan bahkan segenap anggota Mahkamah Agama berkumpul di tempat itu dan mencari saksi-saksi yang bersedia berdusta tentang Yesus, supaya Ia dapat dijatuhi hukuman mati, (Matius 26:59 FAYH)

Siapa kira, kalau Mahkamah Agama inilah juga yang menjatuhkan hukuman mati kepada Anak Maria. Tua-tua yang dahulu menolong Musa, ribuan tahun kemudian menjelma menjadi algojo sesama. Betapa kusut, mempertahankan bentuk jika sudah tidak melayani maksud.

Kelompok elite yang begitu berkuasa, bahkan layaknya melebihi Sang Pencipta. Kedudukan yang begitu dihormati, dijungjung tinggi-tinggi. Begitulah bisa jadi, bentuk-bentuk posisi dalam oraganisasi rohani, jikalau tidak hati-hati.

Posisi selalu berhubungan dengan kekuasaan, semakin tinggi kedudukan semakin berkuasa yang bersangkutan. Jema’at tanpa sadar pelan-pelan dikendalikan, tua-tua dianggap sebagai atasan karena lebih berpengalaman.

Terciptalah anak tangga rohani, hirarki dalam kedekatan kepada Sang Ilahi. Semakin tinggi melangkah, dikau dianggap semakin berserah. Semakin berperan dalam pelayanan, daku dianggap semakin dekat dengan Tuhan. Hubungan sesama umat percaya bak atasan-bawahan, jauh dari aroma kekeluargaan..😢(nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

https://id.wikipedia.org/wiki/Yitro

Comments

comments