Entah mengapa, namun begitulah adanya. Siapa sangka, kalau yang seperti itu memang ada. Ini bukan katanya, ini fakta, terjadi di depan mata. Tidak percaya, namun kata-kata itu lancar ke luar dari tangan pertama.
Sejauh inikah akibat pengajaran golongan pendekar agama?
Kaum elite rohani begitu diagung-agungkan, jema’at begitu takzim kepada golongan imam. Sehingga apapun yang diucapkan, itu dianggap sepadan dengan perintah Firman Tuhan. Lama kelamaan, petuah kelompok pemegang kunci surga, akhirnya mengkristal membentuk cara pandang kehidupan.
Pasti walau prosesnya lambat, cara pandang jema’at selaras dengan apa yang diajarkan ahli Taurat. Kadang kala, ada jema’at lebih semangat menerapkan bahkan jauh melebihi dari yang mengajarkan. Dan kalau itu telah menjadi keyakinan, apapun dikorbankan.
Jema’at militan, menomorsatukan sabda hamba Tuhan. Rela mengesampingkan segala-galanya asal senyum para imam. Tidak peduli kiri kanan, hidup hanya ada satu tujuan. Demi dapat memberi persembahan bagi pelayanan, rela tidak makan. Keluarga terabaikan, waktu senggangpun dihasbiskan untuk memenuhi panggilan pelayanan.
Sejauh inikah akibat pengajaran golongan pendekar agama? Ataukah teman di depan mata ini yang salah mengartikan?
Pas pula lagi semangat-semangatnya ikut persekutuan. Pantang ditantang, pasti disambut dengan lantang. Ditawarkan pilihan, melayani Tuhan dengan giat di kegiatan kerohanian ataukah habiskan hidup hanya untuk hal-hal keduniawian?
Jiwa muda mendapat tantangan untuk melayani Tuhan, tentu disambuat dengan antusias tak terkatakan. Hati membara, waktu dan dana pun dipersembahkan. Tak kenal waktu selalu berada di rumah Tuhan. Gaji yang biasanya disisihkan untuk tabungan pun tidak lagi dihiraukan. Seakan-akan bahwa semua itu milik Tuhan dan haruslah digunakan untuk kegiatan pelayanan.
Hingga suatu saat, dia melihat kenyataan yang tak akan mungkin diabaikan.
Mereka [ahli Taurat] mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. (Matius 23:4)
Dia merasa dimanfaatkan! Firman Tuhan digunakan untuk memanipulasi agar jema’at rela memberi. Tidak absen mengikuti kesibukan organisasi. Pulang kerja langsung harus ikut kegiatan itu ini. Semua demi menutupi rasa bersalah di hati. Masakan hidup hanya untuk mencari sesuap nasi.
Kekecewaan melewati batas toleransi. Ketulusan mengikut Tuhan digunakan untuk mewujudkan ambisi. Waktu, dana , dan pengorbanan keluarga ternyata dalam rangka merealisir mimpi. Dan semua dibungkus dalam petuah yang sangat rohani, didasari dengan segudang ayat suci.
Bak ahli Taurat yang meletakkan beban berat di pundak umat. Karena militansi jiwa muda, itupun disambut dengan hangat. Hingga ketahuan, pendekar agama ternyata tidak melakukan apa yang dikatakan. Teman itu merasa semua pengorbanannya hanya untuk kepentingan ambisi pribadi hamba Tuhan.
Kekecewaan yang tak terkira! Fakta yang tidak dapat diterima. Tidak disangka, ketulusan mengikut Tuhan disalahgunakan sedemikian rupa. Ayat-ayat Firman Tuhan digunakan untuk mengeksploitasi jema’at yang lugu tulus tidak berpengetahuan. Pengajaran yang terus menerus menekankan untuk berkorban demi melayani Tuhan.
Rasa dimanfaatkan yang demikian dalam, akhirnya teman itu putuskan menjadi seorang ateis alias tidak percaya ada Tuhan.
Ini sulit dimengerti! Dari pemimpin pelayanan, giat dalam berbagai kegiatan, dan militan dalam mengikut Tuhan. Hingga memutuskan tidak percaya ada Tuhan, sulit daku paham! Mungkin saja mudah untuk berkomentar ataupun menganalisis dari sisi psikologis. Namun kala itu, daku hanya tertegun diam.
Sebegitunyakah akibat tidak satunya kata dan perbuatan hamba Tuhan? Sampai-sampai ada teman memutuskan untuk balik kanan.
Rasa dimanfaatkan, hanya sekedar alat, memang menyakitkan. Dan itu bisa menimpa daku dan mungkin juga dikau yang tulus rindu ikut Tuhan.
Bagaimanakah harus mengambil sikap, kala mendapat petuah dari golongan pejabat? Agar daku dan dikau ikut Tuhan dan bukan menjadi hamba ahli Taurat. Sila berpendapat! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


