Sudahlah kodratnya, daku dan dikau itu berlainan rupa. Lahir di tempat berbeda. Yang satu terlahir sekitar danau Toba, yang lain dibesarkan dalam suasana takwa suku Madura. Sedari bayi dibesarkan dalam alam taat beragama. Namun tumbuh kembang dalam budaya yang tidak sama.
Namun semua hidup rukun di Nusantara, tanah air beta. Tanah tumpah darah yang daku dan dikau cinta. Nenek moyang mempertaruhkan nyawa agar tanah ini merdeka. Selanjutnya, generasi berikutnya bahu membahu membangun negara, jayalah Indonesia.
Gemah ripah loh jinawi, senasib seperjuangan membangun Nusantara bagi keadilan dan kemakmuran bersama. Negara ini kokoh berdiri karena rakyatnya rela bekerjasama, hidup damai bertetangga. Bangga dengan keanekaragaman, itu kekayaan sebagai anugerah alam.
Entah mulainya kapan, tiba-tiba kawan sepertinya jadi lawan. Hanya karena berbeda agama, jadi tidak lagi tegor sapa. Sesama tetangga pun sudah enggan bersua. Semakin mendalami keyakinan, semakin menjauh dari lingkungan. Jangankan berjabatangan tangan, berpapasan di tengah jalan pun seakan-akan bersikap buang badan.
Apa yang terjadi? Daku tidak mengerti. Sikap intoleransi semakin menjadi-jadi di seantero negeri. Keyakinan menjadi perkara yang sensitif, yang sayangnya juga melanda kaum yang terdidik.
Kalau sudah menyakut keyakinan, logika sudah tidak jalan. Barang kali dikau lulusan luar negeri atau pun profesor di perguruan tinggi, kalau sudah berhubungan dengan sentimen iman, langsung emosi tidak terkendali.
Pendidikan tadinya diharapkan membantu cara berpikiran luas, ternyata kalau sudah menyangkut agama daku dan dikau bisa jadi tidak waras. Emosi membara, tidak peduli engkau siapa, semua bisa gelap mata, bak menjadi binatang buas.
Agama menjadi pemantik, salah sedikit, hati-hati bisa didemo berjilid-jilid. Istilah penistaan agama menjadi momok di negeri ini. Jadilah istilah ’kita’ vs ’mereka.’ Umat yang kebanyakan tidak tahu menahu menjadi terbagi-bagi. Dan keadaan ini semakin hari semakin menjadi-jadi.
Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya [Yesus]: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) (Yohanes 4:9)
Tak usah terkejut, apalagi kening berkerut. Situasi ini telah terjadi lebih dari 2 milenium yang lalu. Karena SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) tetangga tidak tegor sapa. Yahudi enggan duduk berdampingan denga orang Samaria. Yang satu anggap diri suci, yang lain dituduh najis yang harus dihindari.
Jangankan antar agama, beda denominasi pun bisa terjadi hal sama. Golongannya merasa lebih benar dari doktrin kelompok lain. Aaahhh, tak terkecuali, beda organisasi misi pun dapat membuat seperti perasaan kita vs mereka! Sempurnahlah perpecahan antar sesama!
Sang Raja lain! Hanya karena seorang wanita Samaria, DIA rela menabrak semua tradisi yang dianggap tabu. Tidak peduli dengan ketegangan SARA sejak dahulu, DIA menjumpai jiwa yang rindu. Bagi-NYA harkat satu jiwa itu lebih berharga dari dogma baku nan kaku.
Ini berita gembira tentang kerajaan-NYA. Sistem nilai, doktrin, dan kebiasaan sakral sejak dulu pun dijungkirbalikkan hanya untuk dapat memeluk dikau dan daku. Pandangan kudus-najis dan perbedaan SARA tidak dapat menghalangi kasih-NYA. Malahan perkara pantang bagi agama pun dikangkangi-NYA, demi manusia yang DIA cinta.
Kabar tentang Kerajaan Allah membawa angin segar, di tengah-tengah lembab, pengap, dan sumpeknya udara intoleransi. Siapkah melanggar tabu? Dianggap tidak takwa karena melanggar tradisi baku. Demi dapat berjabat tangan dengan tetangga itu! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
