Di sepanjang sejarah, pemahaman kehendak bebas telah tercatat menimbulkan peristiwa berdarah-darah. Bukan hanya kaum cerdik pandai dibuatnya marah-marah, umat pun ikut-ikutan terbelah.
Tak tahulah, bagaimanakah mungkin hanya karena pengertian yang berbeda kesatuan umat percaya pun pecah? Apakah haram jika daku dan dikau berbeda paham? Masa karena melihat sesuatu dari sudut yang tidak sama, daku dan dikau tidak lagi bisa duduk sebagai saudara bersaudara.
Bagi dikau generasi kini, ataupun daku yang hidup sekarang ini, bisa jadi tidak lagi ambil pusing dengan isu asal usul denominasi. Bisalah dikatakan, pengelompokan jemaat tersebut kurang lebihnya beralaskan karena perbedaan penafsiran.
Pakar ataupun tokoh di setiap golongan, ada kecenderungan, merasa interpretasinyalah yang paling mendekati kebenaran. Yang lain, tak kalah keren, menganggap pendapat kelompoknya yang paling beken.
Tidak dapat dihindari, bagaimana pun ini sudah terjadi! Daku (dan mungkin juga dikau) yang dikatagorikan sebagai bagian dari orang awam, tidak ada upaya kecuali mengikuti apa yang dikatakan mereka yang termasuk kelompok dalam.
Akibatnya, tatkala membaca Alkitab, daku, orang biasa, tanpa disengaja memahaminya dengan kacamata penafsiran tokoh agama. Tidak seperti para tokoh itu yang kemungkinan bersikap luwes, daku bisa begitu kaku nan lurus. Jika ada yang berbeda, daku langsung bersikap judes.
Tafsir tetaplah suatu interpretasi yang kemungkinan dapat berubah sesuai dengan perubahan zaman. Ayat yang sama di sepanjang masa dapat dimaknai dengan berbeda-beda. Bisakah daku dan dikau tetap sebagai Saudara walau berbeda tafsir terhadap suatu perkara?
Bukankah DIA saja tidak memaksa agar daku percaya DIA ada? Mungkinkah itulah unsur utama, elemen inti dari kehendak bebas, tidak ada pemaksaan. Yang Maha Kuasa saja merelakan dikau pilih jalan sendiri. Bisa-bisanya daku memaksakan pemahaman denominasiku kepada kelompok lainnya!
Pembaca SELA yang budiman! Bolehlah sekali-sekali daku dan dikau melepas satu persatu pemahaman aliran. Copot kacamata kuda yang membelenggu daku melihat dari sisi yang berbeda. Tradisi yang membatasi cara berpikir, sikap kerdil yang membuat daku kikir sehingga mudah tersindir.
Mari melihat apa yang terjadi di Taman Sorga, sebagaimana masyarakat kuno Israel memahaminya. Bisa jadi, cara pandang mereka sudah sangat jauh berbeda dengan daku yang hidup di era serba maya. Namun satu yang pasti, makna hakiki tetap karena serasa dengan suara hati. Nurani di zaman kuda gigit besi, masih saja sepadan dengan jeritan sanubari di masa kini.
Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam, di sana mereka telah berkhianat terhadap Aku. (Hosea 6:7) But like Adam they transgressed the covenant; there they dealt faithlessly with me. (ESV)
Trailer di Taman Eden, drama asal mula pengkhianatan cinta. Janji setia dinodai, Adam Hawa memilih yang lainnya. Meskipun di Eden terasa Adam Hawa dicobai, bisa jadi itulah suatu bentuk pilihan. Kebebasan tentukan sikap, tetap setia atau ikut yang lainnya karena kelihatannya lebih sedap.
Layaknya dalam suatu relasi cinta, masing-masing pihak dituntut untuk memegang teguh janji setia. Bukankah cinta semakin membara kala godaan maupun cobaan ditolak walau harus bertaruh nyawa? Di manakah cinta murni nan tulus kalau didasari niat hati yang terpaksa, apalagi direkayasa?
Mungkinkah anugerah kehendak bebas kepada manusia, dapat dimaknai, dalam bingkai relasi asmara antara sejoli dengan Sang Pencipta? Apakah itu sebabnya, akhir dari masa, dirayakan sangat meriah dalam suasana pernikahan sorgawi yang tiada duanya (Wahyu 19:7)?
Reuni akbar semesta, Perkawinan Anak Domba. Ungkapan momen seleberasi dari epkspresi cinta sejati, antara daku dan dikau dengan Sang Maha Tinggi. Luapan suasana hati ketika cinta murni sebagai perwujudan kehendak sendiri untuk memilih Sang Ilahi menjadi kekasih hati! Terlepas apapun resiko yang harus dihadapi.
Dengan latarbelakang ini, bukankah kehendak bebas jadi jauh lebih mudah dimengerti karena sesuai dengan nurani? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


