113. ’Cinta Itu Relasi’

Viewed : 1,268 views

Gulungan ombak berlari menuju pantai, disertai angin pagi berhembus sepoi². Mentari pagi bersinar cerah, menyambut hari penuh berkah. Hati dua sejoli larut dalam ‘amor’ di taman sorgawi. Ini kisah cinta dua insan di taman nirwana. Kalau sudah cinta, terasa semua ikut gembira. Alam ria, walaupun berdua terasa meriah. Senantiasa berada disamping Hawa, itulah rindu dendamnya.

Lalu TUHAN ALLAH membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-NYA-lah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. (Kej 2:19)

Menamai binatang adalah pekerjaan kaum ahli biologi. Di taman nirmawa, dimana cinta me-nari² diantara pepohonan, Adam sibuk memberi nama. Entahlah bagaimana proses penamaan itu berlangsung, mungkin juga setiap binatang datang ke hadapan Adam sepasang². Sepasang rusa beriringan dengan dua ekor angsa yang ditemani juga sesetel serigala. Ya, ini ekosistem yang asing, lingkungan dimana anak domba bercengkrama ria dengan induk singa (Yes 11:8). Silakan tarik napas dalam², rasa dan bayangkan suasana, atmosfer, dan aroma cinta yang memenuhi Taman Eden!

Tak tahu Adam perlu berapa lama menyelesaikan pekerjaan itu. Apakah dia bekerja 40 jam seminggu? Apakah dia sempat makan ataupun beribadah di kelang² itu? Alkitabpun tak merasa perlu dikau dan aku tahu. Bisa jadi perlu ber-minggu² atapun sewindu. Sepertinya bagi Adam, pekerjaan adalah kehidupannya. Pekerjaan adalah ibadahnya dan sekaligus perwujudan jati dirinya. Di taman yang beraroma cinta seperti itu, maaf, tak dikenal pemisahan jam kerja dan waktu ibadah! Apalagi gedung atau tempat ibadah, itu asing!

Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. (Kej 2:20)

Jika saja, di taman itu juga mentari terbit dan terbenam di Timur dan Barat, maka bukan pekerjaan sederhana memberi nama seluruh binatang. Jika udara yang dihirup penuh dengan aroma cinta, maka pekerjaan yang kelihatan membosankanpun menjadi menggairahkan. ‘The only way to do great work is to love what you do’ (Hanya dengan mencintai pekerjaan, sdr dapat menghasilkan karya luar biasa, Steven Jobs). Nama² klasifikasi hewan apalagi tumbuhan –dengan istilah² bahasa ‘dewanya’- paling jemu untuk dihafalkan kala masih disekolahan. Namun tidak begitu bagi Adam.

Cintalah yang mendorong Adam bekerja habis²an dengan segala hikmat dan kemampuan. Mengapa? Karena Adam diciptakan dengan cinta, dalam cinta, dan untuk cinta. Setelah dia beri nama kesekian puluh ribu, dia berhenti sejenak! Dia tepuk dahi, ahaaa, dia tersenyum dapat nama ‘ayam’ kepada sepasang unggas yang kelak menjadi hidangan favorite resto cepat saji di zaman now!

Pada hari kesekian, ketika pekerjaan telah hampir selesai, angin bertiup silir² di senja hari. Dua ekor simpanse, jantan dan betina, mendekati Adam sampil pegangan tangan. Adam terbelalak, sudah sekian lama baru dia sadar ada yang kurang dalam hidupnya. Dia melihat sekeliling, rusa, angsa, domba, serigala semua berpasangan. Dan Alkitab berkata: ’tetapi baginya sendiri ia [Adam] tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.’

Sejatinya, Adam, dikau dan aku diciptakan untuk cinta. Pekerjaan apalagi hewan tidak dapat mengisi relung hati terdalam. Relasi dengan alam, bagaimanapun dikau mencintainya itu tak sepadan. Bagaimanapun hubunganmu sepesialnya dengan seekor kucing, itu bukanlah pasanganmu. Lubuk hati itu tak dapat dipuaskan bahkan oleh doktrin dan ritual agama. Ingat sabda Sang CINTA: ‘Cintailah sesamamu manusia.’ Karena cinta itu hubungan², maka ia tak membutuhkan waktu khusus dan tempat spesifik agar itu dapat dilakukan. Tepat seperti di taman itu, begitupun sekarang, hidup adalah mencintai sesama.(nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

 

Comments

comments