310. An Unshakable Kingdom

Viewed : 578 views

Cukuplah sudah, 2 tahun ada dalam ancaman wabah. Paling tidak sepintas telah terlihat kemana langkah arah sejarah. Dalam waktu sekilas, semua kebiasaan telah dilibas. Bahkan yang paling esensi dari agama, ritual suci ibadah pun tidak berdaya. Tata cara menyembah yang selama ini bertahan lebih dari satu milenium akhirnya juga lemas rebah.

Di hadapan si virus yang tidak kelihatan, tidak ada yang cukup kuat untuk bertahan. Dulu-dulu itu dianggap akan bertahan selama-lamanya, ternyata itu hancur berantakan dalam kedipan mata. Serasa tidak ada kuasa yang dapat merubah, ternyata ada virus yang tampil begitu gagah. Ritual belasan abad pun, yang ajek diwariskan dari turun temurun, diobrak-abrik selama hampir 2 tahun.

“Pertahanan terakhir agama kita, meluruskan dan merapatkan barisan shaf shalat, itu tidak lagi diikuti karena wabah. Sekarang, bukan saja ada celah karena shaf tidak rapat, syaitan pun disediakan tempat dengan memberi tanda ‘X’ dalam rangka physical distancing,” ujar ustaz kondang galau melihat penerapan ‘jaga jarak’ yang juga menimpa aqidah shalat.

Shaf rapat bukan sekedar kebiasaan, namun itu sudah menyangkut keyakinan. Kepercayaan yang dipegang sebagai bagian dari perintah iman. Doktrin yang meliputi ranah hingga terkait dengan dunia yang tidak kelihatan. Belum lagi keharusan melaksanakan rukun agama untuk ke tanah suci, yang 2 tahun terakhir dihalang-halangi. Sendi-sendi iman dilanda badai topan pandemi.

Bukankah agama Nasrani juga mengalami hal yang sama? Tidak terbayangkan agama ini jadi apa, jika ibadah tidak lagi di gedung gereja! Agama Nasrani tidak dapat dipisahkan dengan kehadiran bangunan gereja. Bangunan gereja sebagai simbol selama sekitar 17 abad, oleh pandemi perannya dieliminasi hanya dalam waktu sekejap.

Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. (Iberani 12:28)

Pemerintahan dari waktu ke waktu berganti, bentuk kerajaan hampir sudah tidak ada lagi yang berarti. Kepala pemerintahan pun tidak ada yang abadi. Yang satu datang, yang lain pergi, begitulah terus berputar bak roda pedati. Jangan ditanya, bagaimana dengan peradaban besar ribuan tahun yang lalu, itu semua sudah berlalu, tinggal sejarah masa dahulu.

Namun siapa sangka, hal yang sama juga menggoyang sendi-sendi utama semua agama. Kebiasaan yang dibungkus dengan keyakinan, juga ternyata tidak dapat bertahan. Betapa banyak dana bahkan nyawa telah melayang untuk mempertahankan keberadaannya, ternyata itupun sia-sia. Akhirnya semua tidak berdaya, tekuk lutut di hadapan si corona.

Bukankah telah dipertontonkan dengan nyata? Bagaimana kaidah agama belasan abad berjaya, berguguran seketika. Itu cukup membuktikan bahwa kebiasaan yang selama ini dianggap kebal dari perubahan karena sesuai dengan Firman Tuhan, ternyata juga bukanlah demikian.

Namun ada yang bertahan dari goncangan, tak lekang karena hujan. Kerajaan yang dianugerahkan kepada orang beriman. Kerajaan Allah, kerajaan yang tidak tergoncangkan bahkan oleh wabah. Itu ada sejak dulu kala, kini pun sama saja, bahkan akan terus bertahan hingga sepanjang masa.

Semua drama ini terjadi di depan mata, sumbernya bukan dari apa yang dibaca. Bukankah daku dan dikau nyata mengalaminya dan seluruh dunia menyaksikannya? Ini kejadian langka, dalam sejarah tidak ada duanya. Semua dilibas si virus tidak berdaya, termasuk ‘kerajaan’ agama.

Kerajaan Allah berbeda dengan kerajaan agama. Yang pertama abadi, yang ke dua goyang hanya karena pandemi. Ini seperti mimpi, apakah semua ritual yang dilakukan selama ini hanyalah sebuah ilusi? Ayo kembali ke esensi, Kerajaan Allah yang lestari. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Photo by kHanya Litabe on Unsplash

Comments

comments