Apa yang Baik, yang Berkenan Kepada Allah dan yang Sempurna

Viewed : 1,936 views

Roma 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Satu truk tanah liat tidaklah terlalu bernilai, bahkan sering dibuang begitu saja karena dianggap menganggu. Paling-paling digunakan untuk ditimbun menutup lubang dan diinjak-injak.

Jika datang air mengalir, barangkali tanah liat tersebut akan ikut hanyut dan menghilang. Air kelihatan jadi kotor.

Berbeda halnya bila tanah liat tersebut ditempa menjadi sebuah periuk atau alat lainnya, maka fungsinya akan lebih bernilai. Harganya jadi lebih mahal.

Apalagi jika seorang ahli yang menempanya, tanah liat itu dapat dibentuk menjadi sebuah guci indah. Harganya menjadi lebih berlipat ganda. Tempatnya pun tidak sembarangan lagi. Akan dipajang di tempat yang lebih terhomat. Menjadi pusat perhatian.

Dalam sejarah penciptaan, Allah membentuk manusia sempurna dan menjadi makhluk paling beharga. Diciptakan-Nya dari debu tanah. Namun ciptaan Allah yang sempurna itu jatuh ke dalam dosa.

Allah kemudian menebus manusia berdosa. Manusia sebagai ciptaan Allah dikembalikan statusnya. Bagian ini telah digenapi dengan tebusan darah Kristus.

Manusia yang telah ditebus, tidak sekedar statusnya dikembalikan, tapi juga karakternya perlu dibentuk dan dibaharui. Untuk itu diperlukan proses dan waktu bagaikan pembentukan barang berharga dari tanah liat.

Dalam proses tersebut, manusia yang telah ditebus harus rela dibentuk dan ditempa. Pembentukan itu menyangkut perubahan tingkah laku dan perbuatan. Ada banyak sifat-sifat manusia lama dalam tabiat dosa yang harus ditinggalkan dan diubah.

Sering proses pembentukan itu begitu sulit, tetapi kita harus rela dan siap. Manusia harus mau belajar dan taat. Dengan demikian, sifat dan tabiat sebagai manusia baru akan menjadi sifat anak-anak-Nya. Buah-buah pertobatan akan dihasilkan. Itulah yang dikehendaki dan yang berkenan di hadapan Allah.

Oleh karena itu…
Kita diingatkan agar jangan menjadi serupa dengan dunia ini.
Kita diinginkann Tuhan untuk berubah dalam pembaharuan budi.
Kita disuruh untuk dapat membedakan: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan apa yang sempurna yang menjadi kehendak-Nya.

Selamat beraktivitas.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Roberto Sorin on Unsplash

Comments

comments