Aaahhh, insyah Allah, akhirnya dapat juga melewati bulan-bulan di bawah ancaman wabah. Mengakhiri tahun ini terasa jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Ini tahun dalam dominasi varian Delta yang tampil pongah nan gagah.
Hari-hari dalam puncak serangan si Delta sungguh suasananya sangat mencekam. Di mana-mana terjadi kepanikan, fasilitas rumah sakit tak mampu menghadapi lonjakkan pasien dan tim medis sudah kelelahan. Berjatuhanlah korban!
Suara sirine ambulans meraung-raung tak henti-henti bersaut-sautan. Begitu nyatanya kematian, daku rasanya tinggal tunggu giliran. Berseliweran kabar dari kiri kanan, beritakan sanak saudara maupun handai tolan sudah pergi ‘duluan.’ Sedemikian banyaknya korban, sampai-sampai jenazah pun antri menunggu giliran untuk dikebumikan.
Bagi sebagian korban, duka nan nestapa yang diakibatkannya begitu mendalam. Bagaimana tidak, ditinggalkan orang yang dikasihi tidak mungkin dilupakan. Itu berbekas secara emosi yang akan terus menerus tergiang-giang siang malam.
Ikut tertunduk empati kepada keluarga yang telah kehilangan orang yang dikasihi. Kenyataan duka ini mengingatkan daku dan dikau bahwa semua juga akan ada titik henti. Pada gilirannya nanti, daku dan dikau pun tidak terkecuali. Semua juga akan mengalami, apa dengan jalan yang itu ataupun yang ini. Nasib yang akan menimpa semua makhluk yang hidup di bawah matahari.
Bersyukur jika daku dan dikau dapat melalui bulan-bulan dalam cengkraman amarah wabah, kendati hidup ke depannya tidak akan lebih mudah. Dari satu bencana ke rupa lain dari pandemi, itu tidak akan dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Malapetaka dan air mata, itu kawan akrab dari manusia.
Pahitnya hidup ini dapat menimpa dalam berbagai rupa. Sebagian ada yang belum sempat melihat terang karena telah gugur dalam kandungan. Yang lain, ada kelainan dari bawaan. Nasib yang melekat dalam hidup, tulah yang membuat daku gugup.
Walaupun mungkin dikau, dianggap normal, baik secara fisik maupun mental. Tetap saja tak dapat mengelak dari penyakit, musibah, penuaan, bahkan segudang kelemahan. Perlahan tapi terkendali, jatah waktu sudah pasti, semua juga akan menuju ke tepi. Ini nasib yang menimpa mahkluk di bawah mentari.
Bumi ini bukanlah Sorga. Taman Eden yang sudah hilang sejak dahulu kala, belum sempat dirasa sudah hilang entah ke mana. Jangan lupa, ini dunia! Onak duri, keringatan untuk mencari sesuap nasi, itu pengalaman sehari-hari. Dan akhirnya, tiba-tiba kematian menghampiri daku dan dikau bak pencuri. Entah itu karena petaka atupun karena pandemi.
Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. (2 Petrus 3:11, 12)
Mungkinkah si virus mengajari bahwa tidak ada yang abadi di bawah matahari? Apakah sejatinya yang daku dan dikau cari kalau semua akan ditinggal pergi? Ataukah dipertotonkan bahwa ritual rohani pun dilibas pandemi?
Pengalaman hidup dengan wabah, belum jugakah daku tahu ke mana arah? Sudah 2 tahun kehadiran si Corona, masihkah belum paham apa maksudnya? Untuk mengetahui isi hati, arti hidup yang sejati, haruskah ada pandemi?
Terasa lega sudah ada di ujung tahun, moga pandemi segera berakhir dan tidak menjadi penyakit yang menahun. Dengan demikian, talisilaturahmi dengan handai tolan dapat kembali dijalin. Dan asap dapur kembali dapat ngebul. (nsm)
![]() | NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Photo by Elena Mozhvilo on Unsplash

