Yohanes 8:23
_ … dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu._
Alkisah…
Seekor anak tikus melihat bahwa di rumah tempatnya berkeliaran dipasang perangkap tikus. Anak tikus menceritakan hal itu ke ibunya. Mereka ketakutan. Lalu tikus itu pergi ke ladang dan ke beberapa pelosok dimana sekumpulan binatang berkumpul.
Tikus berteriak-teriak, ”Awass…awass…bahaya… hati-hati…! Di rumah ada perangkap tikus!”
Mendengar teriakan tikus, kaum binatang terheran-heran dan merasa tidak ada hubungannya dengan mereka, maka para binatang itu tak peduli dengan pengumuman sang tikus.
Ayam berkata sambil menggaruk-garuk tanah, ”Aduh tikus… tikus… soal perangkap itu kan masalah kamu, tidak ada hubungannya dengan saya kok, jadi nggak usah ribut-ributlah!”
Kambing sambil tiduran berkata, ”Kasihan juga kamu tikus ya, tapi cobalah berlaku bijaksana dan atasilah dengan cara kamu sendiri!”
Lembu juga sambil mengunyah rumput berkata, ”Pak tikus, kalau soal perangkap nggak usah dibesar-besarin dah. Saya ada masalah yang lebih besar ni… Cobalah pergi sana dan temukan solusi terbaik disitu!”
Malam harinya perangkap tikus itu berhasil menangkap mangsanya. Di tengah kegelapan, istri pemilik rumah mendekati perangkap. Tetapi malang, yang tertangkap rupanya ular. Lantas ular itu menggigit sang istri. Suaminya membawa dia ke rumah sakit.
Dokter menganjurkan agar cepat sembuh harus diberi kaldu ayam. Maka haruslah dipotong ayam.
Karena penyakit tak kunjung sembuh, banyak tamu dari kampung datang. Sebagai hidangan makan malam, terpaksalah kambing disembelih.
Sang istri tak terobati, maka meninggallah dia.
Dalam acara adat dan ritual penguburan, lembu yang tadinya menganjurkan tikus mencari solusi, akhirnya menjadi lauk hidangan makan siang… karena meremehkan soal perangkap.
Binatang yang tadinya merasa tidak ada hubungannya dengan teriakan tikus, justru menjadi korban. Sementara tikus yang ketakutan malah selamat karena menyingkir jauh.
Sering orang tak peduli dengan nilai kebenaran yang dia ketahui, maupun apa yang harus dia ketahui. Dia merasa pandang enteng karena merasa tidak ada hubungannya. Akibatnya dia menjadi korban dari ketidakpeduliannya.
Pedulilah dengan kebenaran meskipun nampaknya kecil.
Awal kemalangan sering terjadi bukan karena tidak tahu apa yang benar, tetapi karena sepele dan tidak peka serta merasa enteng dengan nilai kebenaran dan aturan.
Meskipun banyak orang berkata, ”Tak ada gunanya mempertahankan idealisme dan kebenaran karena akan sia-sia…”, tetapi kita diingatkan: Pedulilah dan perjuangkanlah kebenaran!
Selamat beraktivitas.
Tuhan menyertai dan i memberkati hidup kita. Amin.
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Image by zanna-76 from Pixabay




