237. ’A New Building’

Viewed : 492 views

Ini masa-masa yang menentukan dalam kehidupan umat percaya. Walau sebagian besar akan menganggap waktu-waktu ini biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Seperti yang terjadi sejak lama. Semua juga akan reda. Kembali seperti semula. Santai-santai saja. Begitulah kehidupan di dunia. Setelah didapat vaksin semua akan seperti sediakala.

Akan tetapi! Ini perioda yang paling menyakitkan bagi kaum elite rohani. Mereka yang merasa bertanggungjawab atas kelangsungan fungsi bait suci. Sudah berbulan-bulan di situ suasananya sepi. Jemari yang memainkan tuts piano pun sudah tidak terdengar lagi. Seakan tanpa belas kasihan ditinggal pergi. Ini masa-masa bak umat tidak lagi peduli. Tinggallah bangunan indah gagah menjulang tinggi. Sendirian di tengah gempuran pandemi.

Bisa jadi! Ini era yang belum pernah daku dan dikau ketahui. Apalagi mengalami sendiri. Narasi yang kalau disampaikan tidak akan dipercayai. Wabah telah menggoyang sendi-sendi. Memdorong daku dan dikau bertanya dalam hati. Bagaimanakah mungkin hidup tanpa beribadah kepada Sang Ilahi? Umat percaya tentu tidak akan puas untuk berdiam diri.

Ini salah satu masa terpenting dalam sejarah. Riwayat perjalanan lika liku tentang ibadah. Sudah lebih dari 1700 tahun yang lalu itu tidak terlalu banyak berubah. Sejak kaisar Konstantin (285-337 Masehi) tampil dengan gagah. Sebagai pembela umat yang sebelumnya hidup dalam keadaan berdarah-darah. Dikejar-kejar sehingga harus sembunyi di bawah tanah.

Dalam era kaisar itulah mulai dikenal bangunan gereja. Tempat ibadah umat percaya. Itulah kali pertama. Umat percaya secara resmi memiliki tempat. Lokasi ekspresi iman bagian utama dari ibadat. Tampilan fisik tempat iman tertambat. Bangunan suci tempat semua ritual dilaksanakan dengan taat. Aturan-aturan yang kemudian menjadi pedoman sejagat.

Umat taat mengikuti yang sang kaisar buat. Dari turunan ke turunan sepanjang sejarah tercatat. Kebiasaan itu menjadi ritual yang sudah melekat. Dan itu sekitar 1.700 tahun sudah lewat. Waktu yang tidak singkat. Wajar itu telah tertanam dalam hati jemaat. Tidak bisa lagi dilepas begitu saja bak sudah berkarat. Sehingga gedung tempat ibadat sudah dianggap keramat. Yang berani mengganggu akan ditimpa kualat.

Pada tanggal 11 Mei di tahun 321 Masehi, kaisar Konstantin medeklarisasikan kota Konstantinopel (kelak berubah nama: Istanbul) sebagai ibu kota kerajaan. Beberapa abad kemudian. Tepatnya pada tahun 537 M, Hagia Sophia berdiri megah sebagai pusat kekristenan. Kekristenan Orthodox di kala itu. Dan sejak saat dulu. Seperti yang sudah lalu-lalu. Bangunan megah semacam Hagia Sophia tak pelak menjadi simbol kejayaan iman.

Demi bangunan nan megah seperti itu. Umat sepanjang zaman. Dari semua pemeluk agama keturunan Abraham. Rela berkorban apa saja. Membela agar tetap tegaknya bangunan. Walau itu berarti harus pertaruhkan nyawa. Karena itulah lambang cinta kepada yang Sang Kuasa. Mengasihi Tuhan sudah sama seperti membela rumah-Nya.

Apalagi teringat akan nyanyian syahdu. Dari masa-masa yang dulu-dulu. Era pemazmur yang ungkapkan hati yang rindu. Lebih baik menderita tinggal di pelataran bait-Mu. Daripada bersenang-senang namun jauh dari-Mu. Sejatinya, rumah Tuhan bak gunung batu. Tempat pengungsian yang aman bagi yang pilu. Dulu begitu. Sekarang pun seperti itu. Itu ada di hati jemaat selalu.

sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku,… Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik. (Mazmur 69:10; 84:3,11)

Hingga tibalah hari itu!

Ketika menjelang hari Paskah hari yang besar bagi umat dan penganut agama Yahudi. Sekitar 2.000 tahun yang lalu kala Mesias menginjakkan kaki. Melihat kanan kiri. DIA tertegun dan berguman sendiri. Begitu riuh rendah pedang di pelataran Bait Suci. Tidak ketinggalan kaunter penukar uang. Karena begitu berjubel penziarah dari luar Yerusalem datang.

Mesias tidak dapat lagi berpangku tangan. DIA gusar melihat rumah-Nya disalahgunakan. Memanfaatkan ketulusan. Kepolosan. Umat turut saja apa yang dikatan para imam. Itu semua diputarbalikkan. Menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Setiap inci pelataran menjadi ladang bisnis yang menjajnjikan.

Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yohanes 2:19)

Tidak perlu ditunggu lama-lama. Mesias bak jurus mabuk usir sini usir sana. Layaknya orang kalap menantang tokoh-tokoh agama. Tantangan ini tidak tanggung-tanggung. Membuat semua elite rohani jadi serba canggung.

Mungkinkah membangun Bait Suci dalam tiga hari?

Kristus membawa umat ke babak baru. Episode yang belum pernah terjadi di waktu yang lalu. Bait Suci megah berubah bentuk. Dari bentuk fisik menjadi a new buiding. Itu tempat ibadah baru yang berupa bangunan rohani. Dan untuk mendirikannya diperlukan hanya 3 hari.

Di tengah pandemi. Bangunan itu menjadi solusi. Tempat jemaat bertegor sapa dengan Sang Ilahi. Ini perubahan yang sangat berarti! Ayo ikut ibadah seturut a new building, bangunan rohani. Moga daku dan dikau dapat mengerti. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Mads Schmidt Rasmussen on Unsplash

Comments

comments