224. ‘Tragedi Hidup!’

Viewed : 746 views

Sudah hampir 6 bulan lewat. Setiap hari rasanya perginya lambat-lambat. Hati jadi resah nan penat. Belum juga ada tanda-tanda si Corona akan tamat. Setiap hari jumlah yang kena tajam meningkat. Kapankah itu sampai di puncak?

Di dunia sudah lebih dari 4.5 juta orang terinfeksi. Ratusan ribu sudah selama-lamanya pergi. Di Indonesia wabah masih liar belum terkendali. Dengan cepat mereka yang positif akan bertambah dari 10, 20, hingga mungkin 50 ribu akan segera dicapai. Di angka berapakah akhir dari semuanya ini?

Sejarah mencatat. Dunia dilanda paling tidak ada 5 wabah yang dahsyat. Sekitar tahun 541 kota Constantinopel (di Turki sekarang) luluhlantak dihajar wabah. Segera maut yang diakibatkan bakteri meluas ke Eropah. Akhirnya sampai juga ke Asia, Amerika, dan dunia. Tak tanggung-tanggung lebih dari 30 juta nyawa jadi korbannya. Dan yang tak kalah begisnya. Sekitar 100 tahun yang lalu flu Spanyol merajalela. Virus menelan korban yang tak kalah besarnya.

‘One death is a tragedy; a million is a statistic.’ (Joseph Stalin)

Aaahhh! Biarlah angka jutaan itu menjadi catatan dalam peradaban. Namun tidaklah demikian. Jika daku dan dikau dapat merasakan. Hidup dalam masa kesesakkan. Melalui saat-saat yang mencemaskan. Melawan makhluk virus yang tidak kelihatan. Apalagi jika ada Saudara sendiri yang jadi korban.

Wajar sekali bila daku dan dikau banyak pertanyaan.

“Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. (Ayub 1:18,19)

Maaf teman! Itu bukan berita kemarin sore di portal online abal-abalan. Warta buruk bencana angin topan. Puting beliung yang tidak kenal belas kasihan. Kaya ataupun miskin tidak dihiraukan. Percaya kepada Tuhan ataupun hidup asal-asalan. Semua bisa saja jadi korban.

Ayub kehilangan 7anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Belum lagi lembu sapi dan lain-lain. Bencana alam yang tidak membeda-bedakan. Tidak pandang rupa. Apalagi agama. Keluarga Ayub yang taatpun tidak dikecualikan.

Itu tertulis pula dengan tinta emas di Firman Tuhan. Seakan niat betul agar kisah itu diabadikan. Agar tidak akan dilupakan. Memastikan drama itu sampai kepada daku dan dikau bahkan hingga generasi kemudian. Betapa pahitnya kehilangan. Lenyapnya anak-anak dari aribaan.

Tragedy!

Itu kisah tragis yang menimpa orang yang amat sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Hidup takwa siang malam. Kalau itu tadi menimpa mereka yang jahanam. Mereka yang menyelewengkan kebenaran. Daku dan dikau pasti diam. Seraya berguman dalam hati: ’Iya, aku paham!’

Namun itu sungguh tidak masuk akal. Itu bertentangan dengan pandangan normal. Hidup 100 persen mengikuti petunjuk buku manual. Bagaimana mungkin yang sedemikian takwa juga ikut menjadi korban? Ataukah nasib sial dan takwa tidak ada hubungan?

Adakah hal lain lagi yang masih dapat diandalkan? Agar daku dan dikau terlepas dari bencana yang mengejutkan. Apakah bencana alam tidak dapat dielakkan? Siapa saja dapat menjadi sasaran. Ataukah semua hanya bergantung kepada takdir yang sudah ditetapkan?

Wajar sekali bila daku dan dikau banyak pertanyaan.

Perjalanan ini terasa menyenangkan. Kala abang adik bergandengan tangan. Dipandang mata sedap. Kelakuan mereka mantap! Orangtua mana yang tidak akan berdiri tegap? Melihat anak-anak harmonis seiring sejalan. Berdua rukun pula beribadah kepada Tuhan.

Namun apa lacur! Yang terlihat tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Nasib dan rejeki sering kali berlainan. Walau bersaudara kandung tidak menjadi jaminan. Sang abang ditimpa iri yang menyakitkan. Itu menjelma menjadi kebencian.

Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. (Kejadian 4:8)

Tragedy!

Ini kisah tragis! Kisah abang adik berakhir dengan pembunuhan. Adik yang takwa dan berkenan di hadirat Tuhan. Justru dia pulalah yang menjadi korban. Yang jahat dan pantas dapat hukuman. Malahan hidup panjang dengan segala kemewahan.

Tragis! Rasanya siapapun tidak ada yang dapat mengatur hati Saudaranya. Manalah Adinda tahu apa yang ada di hati Kakanda. Rencana jahat yang membara. Hingga tega-teganya menghabisi adik tercinta. Lalu? Bagaimana dong, agar terlepas dari tragedi seperti itu?

Aaahhh! Tidak paham akan hidup ini. Sepertinya Sang Kuasa tidak mengikuti. Membeo kepada prinsip ’sebab-akibat’ yang daku dan dikau pahami. Seakan semua berlawanan dengan norma-norma insani. Sang Kuasa punya aturan sendiri. Begitukah?

So, jika alam membara karena itu daku dan dikau celaka. Ataupun sikap orang yang tidak dapat diterka. Sebab itu dikau ditimpa petaka. Ataukah kesalahan pun itu kelalaian sesama? Sehingga si Corona akhirnya datang menyapa. Terima dengan lapang dada. Karena? Mungkinkah begitu pola hidup normal di luar Taman Sorga? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Comments

comments