Mazmur 43:5
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Ada berita menarik dalam sebuah media yang mengisahkan tentang bagaimana para binatang di kebun binatang mengalami kegelisahan akibat terlalu banyak pengunjung sepanjang liburan. Apa gejalanya dan bagaimana tanda-tandanya, tentulah ada orang yang lebih ahli untuk memikirkan dan mengamatinya.
Binatang juga rupanya dapat mengalami tekanan dan dapat depresi.
Sekarang mungkin binatang berkurang tingkat gelisahnya karena terjadi kebalikannya, jarang ada pengunjung ke kebun binatang; karena kebanyakan orang di rumah saja.
Kalau binatang saja bisa gelisah, apalagi manusia. Manusia lebih rentan terhadap stress karena manusia lebih banyak keinginannya dibandingkan binatang.
Stress sangat manusiawi sifatnya, tetapi perlu diperhatikan jangan sampai melebihi batas karena berbahaya.
Salah satu penyebab gelisah adalah terganggunya keseimbangan dalam aktivitas hidup, terutama keseimbangan dalam pola pikir.
Ketika seseorang memiliki keinginan tertentu dan bila tidak tercapai, akan dapat muncul perasaan kecewa dan merasa dirinya tidak berarti. Akhirnya stress. Terlebih kalau melihat orang lain justru sebaliknya; berhasil, maka akan bertambahlah stressnya.
Paling berbahaya adalah keinginan yang berlebihan dan tak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki apalagi bertentangan dengan kehendak Tuhan. Penyakit kejiwaan adalah salah satu akibat langsung dari stress.
Secara praktis yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa gelisah adalah dengan bersikap jujur terhadap diri sendiri, dimana kita mampu menerima apa adanya; baik kelebihan dan kekurangan kita dengan rasa syukur.
Soal keuangan juga dapat memicu stress, apalagi saat susah saat ini. Hal yang dapat menolong adalah: jelilah dan bijaksanalah membedakan apa arti kebutuhan dan keinginan.
Secara prinsip asalkan kebutuhan sudah terpenuhi, ya sudahlah, nikmati hal itu dengan sukacita dan PUJILAH TUHAN setiap saat dan dalam setiap hal.
Tentu kita dapat berupaya lebih untuk mencapai keinginan, tetapi tidak semua keinginan harus terpenuhi.
Mari kita berharap dan terus berharap kepada Tuhan. Pemeliharaan dan kasih sayang-Nya atas kita tetap sama; apakah keinginan kita telah, atau belum, atau tak tercapai sekalipun.
Tuhan memberkati dan Dia beserta kita. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Image by Gerd Altmann from Pixabay




