Hallo Sahabat! Tahun 2019 telah lewat. Tak terasa 12 bulan telah dilalui dengan selamat. Suka duka silih berganti begitu cepat. Akhirnya berlalulah tahun yang begitu penat. Terasa lega Saudara handaitolan semua sehat walafiat. Bersyukur dengan talisilaturahmi diantara kerabat. Namun tetap sabarlah walau sebagian tidak sehat. Hari-hari yang pahit getir akan dikenang hingga hidup tamat.
Selamat memasuki tahun baru. Hari bulan yang akan juga berlalu terburu-buru. Nikmati momen kehidupan yang akan diingat selalu. Siapakah yang tahu? Entah hidup akan dihiasi cuaca cerah. Ataukah udara yang membuat hidup gerah. Setiap saat terasa berharga sekaligus sia-sia. Kesuksesan bersanding dengan penderitaan. Kebanggaan justru karena kegagalan.
Begitulah hidup sejak purba, teman. Hari-hari yang akan datang juga akan berakhir, kawan. Ujungnya, saling mengucapkan: ‘Selamat jalan!’ Yang satu pergi. Yang lain segera mengikuti. Memasuki alam entah berantah yang tidak ada yang mengetahui. Gelap gulita tertutup kabut awan. Misteri di balik tirai kematian.
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16,17)
Itulah manuskrip pilihan. Daku dan dikau sudah tentukan. Narasi hidup setiap insan. Buah pengetahuan yang membawa kepada kematian. Nasib bagi mahkluk yang terlahir di dunia. Suratan yang tak dapat dielakkan manusia. Kodrat bagi semua keturunan manusia pertama. Naskah bagi sejarah peradaban sejak dulu kala.
Dan… Dengan sedih Dia mempersilakan. Daku dan dikau ikuti pilihan. Seraya Dia seakan mengucapkan. Kata perpisahan yang mengenaskan.
Selamat jalan kawan
Sampai bertemu teman
Telah cukup waktu kita bersama
Akhirnya tiba juga
Ketika hati bermuara
Kepada dua pribadi yang berbeda
Yang satu harus rela mengalah
Walau itu tidak mudah
Sang Cinta ikhlas menyerah
Cinta tidak harus berakhir indah
Selamat jalan kawan
Sampai jumpa teman
(inspired by ‘Adios Amigo,’ Jim Reeves)
Selamat jalan kawan! Sampai jumpa teman! Semoga selamat sampai tujuan. Akhirnya hidup akan berakhir juga dalam kekelaman. Dunia yang belum ada yang berpengalaman. Itulah the end setiap insan. Kematian yang menakutkan. Barangkali dikau sadari. Atupun daku ingkari. Sang Maut tidak peduli. Semua akan dijemput. Tidak ada yang tidak tunduk. Begitulah takdir bagi semua mahkluk.
Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. (Mazmur 18:5,6)
Itulah pengalaman hidup setiap insan. Tidak dapat lepas dari lilitan. Perangkap maut siap sedia menelan korban. Daku dan dikau serta semua insan jadi bulan-bulanan. Karena memakan pancingan. Mulut manis berujung maut yang mematikan. Dusta yang memabukkan. Itu realitas dari zaman ke zaman. Garis tangan yang tercatat dalam setiap lembaran. Naskah hidup dalam buku kematian.
Buku maut (The Book of Death) yang halaman demi halaman. Tersebar kabar yang menakutkan. Setiap kalimat mengerikan. Setiap bab mencekam. Kegelapan yang mengkhawatirkan. Isinya tidak jauh dari kematian. Kegelapan yang mencengkeram semua insan. Masing-masing tenggelam dalam gelapnya malam. Tidak dapat lihat apa-apa. Buta. Tidak ada harapan.
Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; (Yesaya 60:2)
The whole earth is wrapped in darkness, all people sunk in deep darkness, (The Message, terjemahan bebas: Seluruh bumi terperangkap dalam kegelapan. Semua insan tenggelam di dalam gelapnya malam.)
Mungkinkah melihat dalam kegelapan malam? Berjalan seorang diri di lembah yang kelam. Kanan kiri tidak ada teman. Kekayaan tidak bisa diharapkan. Pelayananpun tidak dapat menjadi andalan. Bahkan status hamba Tuhanpun tidak menjadi jaminan. Terhuyung-huyung merintih kesakitan. Teriak meronta tak ada yang menghiraukan. Sendiri melangkah ke tempat akhir kehidupan. Lembah kekelaman.
Selamat jalan kawan
Jangan menangis teman
Tetaplah jalan walau malam
Melangkah di lembah kelam
Kematian awal kehidupan
Sendiri berujung kesukaan
Moga tahun-tahun di depan
Manis menjadi kenangan
Daku yang tidak setia
DIA yang menderita
Selamat jalan kawan
Jangan menangis teman
(inspired by ‘Adios Amigo,’ Jim Reeves)
Gawat! Aku melangkah di jalan pilihan. Ikuti manuskrip dalam buku kematian. Walau sulit marilah terus jalan. Tidak ada kesukaan. Di bawah mentari hanya penderitaan. Tertawapun hati dapat merana. Jangan salah terka. Yang kelihatan senang gembira. Kaya dan gagah perkasa. Tak terkecuali miskin dan papa. Semuanya sama saja. Seturut naskah The Book of Death, daku dan dikau akan juga berakhir di rumah duka.
Celaka! Daku sekarat. Dikau mengidap penyakit yang tidak ada obat. Semuanya terperangkap dalam kegelapan. Ditelan dalam kelamnya malam. Teruslah jalan kawan! Jangan menangis teman! Bilakah pagi menjelang? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Robert Balog from Pixabay


