‘Allah adalah kasih,’ kata Alkitab. Pernyataan singkat nan begitu mantap. Jejaknya ditemukan di seluruh 66 kitab. Bacalah seluruh kitab. Dikau akan lihat. Dalam setiap kisah romantika. Ceritera pelik keluarga. Tragedi jatuh bangun kerajaan. Puisi dan perumpamaan. Tersirat Sang Khalik merindukan cinta. Cinta dari manusia yang Dia cipta.
’Mainly, He wants to be loved.’ (Philip Yanccey: Yang terutama sekali, Dia rindu dicintai.)
Wow wow wow. Allah begitu ‘haus’ dicintai umat-Nya. Cinta yang datang dari niat hati yang suci. Rela tanpa paksaan. Apalagi reka-rekaan. Cinta seperti itu yang Dia rindukan. Karena cintalah esensi Sang Ada. Dari semula. Sebelum ada apa-apa. Tritunggal Yang Maha Kudus. Saling mencinta. Saling memuliakan. Saling memberi. Dalam persekutuan, koinonia, yang satu menyatu tak terbagi-bagi (sila baca kembali seri ’Koinonia’).
’ Engkau [Sang Bapa] telah mengasihi Aku [Sang Anak] sebelum dunia dijadikan.’ (Yoh 17:24)
Untuk itu, Dia rela membatasi diri. Mengurung diri. Bagaimanakah ini dapat dimengerti? Sang Kuasa seperti tak berdaya. Sang Maha Tahu bak tutup mata. Membiarkan dikau dan aku. Walau ambil langkah seribu. Sekehendak hatimu. Dan rela ada kemungkinan dikau dan aku menolak cinta-Nya! Bisa jadi, dikau dan aku melawan kehendak-Nya.
’God has, so to speak, imprisoned Himself in His resolve.’ (Soren Kierkegaard: ‘Tuhan telah, dapat dikatakan, memenjarakan diri-Nya sendiri dalam ketetapan-Nya.’)
Wah wah wah. Ini tindakan berbahaya. Bak bisnis yang sangat berisiko. Resiko tinggi. Seolah-olah, ‘penciptaan manusia itu mempertaruhkan diri Allah sendiri!’ Kredibilitasnya diuji. Reputasi-Nya dipertaruhkan. Maaf! Nasib-Nya. Cinta-Nya. Dia gadaikan? Cinta tergadai, begitukah?
Bagaimana ini?
Gak masuk akal. Ini di luar nalar. Tak terselami. Namun hati, walau samar-samar, akui. Itulah fakta hidup sebagai manusia. Insan mandiri. Pegang kendali atas pilihan hati.
Ups! Itu kan dulu! Tidak! Di Taman Sorga begitu. Sekarangpun tetap berlaku. Pilihan ada di tanganmu! Dan akan begitu selalu.
Tapi? Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Kuasa ambil resiko sebesar itu? Memenjarakan diri demi cinta. Ini fakta. Ini realita. Sebagai manusia yang tercipta serupa dengan Dia. Dikau bukan figuran. Namun aktor utama yang dapat menentukan arah ceritera. Begitukah?
Aku berseru kepada langit! Teriak kepada angin. Seperti kuda, aku memekik. Seumpama anjing, aku menggonggong ke sana ke mari. Menjerit. Memanggil semua insan. Insan yang masih ada hati. Dengarkan nurani. Dengarkan suara hati. Hentilah sejenak. Perhatikanlah seruanku. Dengarkan curhat-Nya.
’Allah membiarkan ‘nasib’-Nya. Sukacita-Nya. Bergantung kepada dikau seorang diri!’
Betapa sulitnya dipahami. Ini luar biasa. Allah merelakan ‘kebahagian’-Nya ditentukan oleh sikap dikau dan aku! Ketenangan ‘bathin’-Nya Dia serahkan ditentukan oleh cintamu.
Aaahhh. Bener? Serius? Sang Pencipta gadaikan cinta-Nya kepada ku? Tidakkah itu dikau dapat rasakan?
Wah gawat. Aku celaka. Aku tak merasa apa apa. Sepertinya aman-aman saja. Business as usual. Semua kayaknya jalan seperti biasa saja. Memangnya ada apa?
Ups! Bisa jadi itu tanda-tanda. Gejala kronis. Penyakit bawaan. Penyakit ‘tell me’, tak nyambung. Signal bahaya. Kehilangan indra. Kehilangan rasa. Menjangkiti seluruh umat manusia. Tak ada terkecuali. Dikau dan aku telah kehilangan nurani. Sirnanya suara hati. Kehilangan yang paling hakiki.
hal itu memilukan hati-Nya. (Kejadian 6:6. The Message: it broke his heart./ itu menghancurkan hati-Nya.)
Gendang telah ditabuh. Gitar telah dipetik. Kidung telah dilantunkan. Kaki telah dihentakkan. Aku dan dikau telah hancurkan hati-Nya. Berkeping-keping. Hati-Nya pilu. Sakit. Cinta-Nya tergadai. Seumpama cinta yang dikhianati. Dikau selingkuh. Aku nyeleweng. Dia diam seribu bahasa. Dan mengeluh bak tak berdaya. Serta berkata:
apakah lagi yang dapat Kulakukan? (Yeremia 9:7. Versi NLT: What else can I do?)
Masyaallah! Masih adakah yang peka? Dengar bisik-Nya: ‘Aku harus bagaimana?’ Ya, Dia harus bagaimana lagi? Apalagi yang kurang? Mau-mu apa? Semoga nurani kembali. Suara hati terdengar lagi. Sadar diri. Mencintai Sang Ilahi. Cinta yang awal-awal sekali. Tulus nan murni. Semoga itu kembali! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |




