Gagasan bahwa Allah membatasi diri, zimsum, sulit dimengerti. Ide itu ada sebelum segala sesuatu terjadi. Bagaimana insan dapat memahami. Ini sulit sekali.
Bumi belum ada. Matahari dan alam semesta masih tiada. Malaikat dan dunia tak kasat mata belum tercipta. Yang ada hanya Sang Ada. Tritunggal Yang Maha Kudus. Megah. Mulia. Cukup dengan diriNya Sendiri. Dia berimajinasi. Dia ‘mengkhayal’. Memikirkan. Merencanakan.
Sebelum dikenal waktu. Dalam keabadian. Allah ada tak terbilang pilihan. Berbagai cara. Sejumlah alternatif untuk dikau dan aku dihadirkan.
Bayangkan! Dikau pasti bisa. Walau dikau lagi sibuk bekerja. Asal henti sejenak walau seketika. Bisa saja asal mau, ‘bertapa’ sambil bekerja. Ini semua terjadi di dunia imajinasi. Dunia maya.
Jika saja Dia menciptakan alam semesta yang sempurna. Dunia dan manusia yang tak ada cacat cela. Seantero manusia tunduk absolut kepada Sang Pencipta. Tak ada yang pura-pura. Seluruhnya seia sekata. Semua berjalan sempurna. Mutlak seturut dengan kehendak-Nya. Sepenuhnya mengikuti perintah-Nya. Tak ada kemungkinan secuilpun meronta. Semua otomatis mencinta.
Bayangkan! Bak senandung rindu John Lennon dalam lagu ‘Imagine.’
Tak ada sorga. Tak ada neraka. Tak butuh agama. Tak perlu Juru Selamat yang menderita. Seantero manusia bersukacita. Meraka saling mencinta. Tak ada derita. Jauh dari nestapa. Jauh dari lapar. Apalagi gusar. Tak ada batas negara. Tak ada rusuh pilkada. Manusia saling menyapa. Sekaliannya bersaudara. Tak ada dosa. Tak ada pahala. Semua sama rata. Segala mahkluk hidup mesra. Tak ada penjara. Di dunia terasa sorga. Siapa yang tak suka? Bukankah itu kerinduan kita semua?
Bisa jadi, alternatif itu telah terkilas dalam angan-anganNya. Barangkali, bagi Dia belum terwujudpun sudah nyata semua rincian apa yang akan terjadi. Hari-hari yang akan dilewati. Boleh jadi, alam sempurna seperti ‘Imagine’ tak memuaskanNya. Bukan cinta seperti itu yang dicari-Nya.
Itu satu peluang alam semesta diciptakan. Masih berlaksa-laksa probabilitas alam semesta yang lain dapat Dia ujudkan. Alternatif satu pergi. Ribuan lagi datang. Tetap tak memuaskan.
Bayangkan! Allah berdiskusi dengan diriNya sendiri. Tritunggal dalam sidang ilahi. Allah berdiri. (Mazmur 82:1). Dan mengkhayalkan seperti ini:
“Bagaimana kalau Aku menciptakan alam semesta yang bebas? Bahkan bebas dari diri-Ku? Bagaimana kalau Aku menyelubungi keilahianKu? Membatasi diri! Setiap insani ada kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri? Manusia bebas memilih jalannya sendiri. Mereka tak ditakuti karena kemahadirianKu. Tidak merasa tak berdaya karena kemahakuasaanKu. Tak ada paksaan. Semuanya sukarela. Sesuai dengan pilihan!
Mungkinkah insan yang bebas seperti itu akan mencintaiKu?Makhluk yang tidak Ku-program agar otomatis turut kehendak-Ku.
Mungkinkah cinta sejati nan murni timbul dari kebebasan? Malaikat senantiasa turut perintahKu karena mereka melihat Ku sepanjang waktu. Bagaimana kalau Ku-ciptakan makhluk yang segambar dan serupa dengan Sang Pencipta, akan tetapi bebas menentukan pilihan? Mungkinkah cinta tulus keluar dari insan yang bebas menentukan sikap?” (inspired by William Irwin Thompson).
Wah wah wah. Cinta yang muncul dari niat hati seperti ini yang Dia harapkan. Rela tanpa paksaan. Apalagi diiming-iming imbalan. Ini masih dalam lamunan. Semua belum dijadikan. Dia tersenyum. Dia puas. Dia putuskan! Dia rencanakan. Lalu, Dia ujudkan. Dan berguman sendiri:
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kejadian 1:31)
Berjibun alternatif. Tak terbilang pilihan. Beribu laksa kemungkinan. Satu yang Dia pilih. Satu yang sungguh amat baik! Tak ada duanya. Yang lain disingkirkan. Manusia bebas. Tentukan sendiri pilihan. Pilihan cinta ada di tangan! Tidakkah dikau rasakan?
Ups! Itu kan dulu. Tidak. Sekarangpun masih begitu.
Di Taman Kahayangan begitu. Itu juga berlaku untuk dikau dan aku. Mungkinkah dikau dan aku mencintai-Nya? Walau tak melihat-Nya. Dia begitu terasa jauh entah dimana. Ke mana harus bertanya? Setiap orang menjawab sekenanya.
Ya Allah! Mengapa Yang Maha Hadir sembunyi? Zimsum, membatasi diri. Membiarkan aku jalan sendiri. Menentukan pilihan sendiri. Semoga dari kebebasan ini, keluar cinta yang sejati! Semoga. (nsm).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |



