110. ’Semutpun Curiga’

Viewed : 1,235 views

Romantika ini bermula dari purbakala, jauh sebelum dikau ada. Ini tak meng-ada², senyatanya peristiwa ini terjadi di Taman Nirwana. Sebelum menjelma aksara apalagi sastra, telah terjadi ikatan asmara. Adegan ini terjadi selagi hati tak kenal benci dan nestapa. Drama cinta bergelora ketika kosakata ‘malu’ dan ‘iri’ belum merasuk sukma. Sejatinya, inilah maksud dan tujuan dikau ada. Ini rencana dari semula untuk dikau! Agar dikau tenggelam menikmati cinta membara dari Sang PENCIPTA. Walau gejolak asmara itu telah hilang ditelan masa, namun hingga kini denyut narasi kehangatan cinta-NYA masih terasa.

‘Dalam kasih IA telah menentukan kita dari semula…’ (Ef 1:5a)

Hari ke-6 baru saja usai, selesailah penciptaan (Kej 1:31). Sungguh hari yang panjang nan memuaskan, semuanya sesuai dengan yang DIA inginkan. Hasil karya cinta seringkali ‘beyond imagination’, menembus batas nalar. Khayalan, rencana, dan perwujudan semua DIA kerjakan dalam cinta. Bisa jadi api cinta-NYA terlalu dingin untuk dirasa, akan tetapi sejak semula dikau ada itu karena cinta-NYA yang me-nyala².

’And this gave HIM great pleasure.’ (NLT) ’What pleasure HE took in planning this!’ (the Message) Perwujudan rencana itu membuat DIA ber-bunga² dan riang gembira. (Ef 1:5b)

ALLAH tersenyum senang saat DIA memikirkan dan merencanakan kehadiranmu. DIA bukan sekedar senang, tapi senang sekali. ALLAH sukacita tak alang kepalang bak seperti pengalaman satu²nya dalam hidup seorang perjaka, kala ungkapan cinta pertamanya diterima gadis desa pilihannya. Dia pulang berjalan sambil lompat² kecil. Langkah terasa ringan, kaki terasa tak menyentuh tanah. Senyum² sendiri senang tak terkatakan. Walau setiap hari dia pulang lewat jalan yang sama, sore itu terasa beda. Terbang burung, daun melambai ditiup angin sepoi², dan pohon bambu me-liuk² ditiup angin senja, seperti turut riang. Bahkan bau selokan mampetpun tercium semerbak bak aroma parfum Chanel No.5.

’gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. (Yes 55:12)

Oops, jangan dikau tanya bagaimana mungkin bukit² semarak bersorak sorai! Apalagi pepohonan menari tepuk tangan turut ceria. Jangan! Cinta itu bukan untuk dimengerti, cinta itu untuk dialami. Cinta ada di dada, bukan harus seirama dengan logika. Terasa gaungnya, alam semesta turut serta larut dalam drama asmara Yang Mahakuasa.

bunyi langkah TUHAN ALLAH, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, (Kej 3:8)

Wow, taman nan indah, semua serasa meriah terbuai dalam irama cinta sonata nan megah. Bagi Sang CINTA, ke taman berarti bertamasya, melepas rindu bertemu dengan kekasih-NYA. Bercengkrama saling menggoda, mencintaimu artinya memilikimu. Kedipan matanya, mendebarkan hati-NYA (Kid 4:9). Kata²nya manis se-mata², segala sesuatu yang ada padanya manarik. Demikianlah dikau kekasih-NYA (Kid 5:16). Makin romantis aja tatkala angin sepoi² berhembus, hari jadi sejuk aduhai. Mata-NYA selalu tertuju kepada adinda. Maka saat dikau tak ada?

Malu [AKU] malu pada semut merah
Yang berbaris di dinding
Menatap[KU] curiga
Seakan penuh tanya ‘Sedang apa disini?‘
Menanti pacar jawab[KU] (lagu ‘Kisah Kasih di Sekolah’)

Rusa terkejut, beo geleng² kepala, namun hanya semut curiga dan berani bertanya, ‘kok Sang PENCIPTA rela menunggu demikan lama?’ Menunggu siapa? Menunggu dikau kekasih-NYA! DIA menantimu selamanya. DIA rela malu menunggu kepanasan. Mengapa ya ALLAH? Mengapa DIA rela dicurigai alias salah dimengerti? What an incredible love! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

 

Comments

comments