148. ’Tarian Duka’

Tarian Adam telah dimainkan. Adam telah tentukan pilihan. Jalan hidup setiap orang. Sejak lahir hingga nyawa melayang. Tak ada yang mampu mengelakkan. Tangan telah diayunkan. Kaki telah dihentakkan. Naskah telah dituliskan. Manuskrip telah dibukukan. Peran bagi setiap bani Adam. Entah engkau setuju. Ataupun ingkar melulu. Itu tetap berlaku. Dahulu kala begitu. Sekarangpun seperti itu. Tarian…

147. ’Paradoks Ilahi’

Gendang telah ditabuh. ‘Dung dung dung… kplaakk kplaakk kplaakk.’ Dawai telah dipetik. Tari telah dimainkan. Kaki telah dihentakkan. Tangan telah diayunkan. Ikuti ritme. Irama dendang ilahi. Tak ada yang luput. Semua ikut. Setiap insan turut. Adam di Taman Sorga begitu. Di abad ke 21-pun seperti itu. Tak ada yang bisa mengelak. Apalagi menghindar. Entah dikau…

146. ’Cinta Itu Kebebasan’

Dalam kesunyian. Sebelum ada segala sesuatu. Belum ada yang tercipta. Yang ada hanya Sang Pencipta. Sang Ada. Allah Yang Maha Esa. Tritunggal Yang Maha Kudus. Cukup dengan diri-Nya sendiri. Puas dengan diri-Nya sendiri. Mulia. Agung. Indah. Gemilang. Luhur. Maha Bijaksana. Suci Suci Suci. Sesungguhnyalah Dia tak memerlukan apapun di luar diri-Nya. Dia bebas sebebasnya. Mutlak….

145. Edesi Duka Lion Air: ’Keengganan Ilahi’

Hati duka. Jiwa lara. Hati siapa yang tak luluh melihat begitu banyak yang berc ucuran air mata? ‘Malang tak dapat ditolak.’ Tapi, apakah musibah kecelakaan dengan korban seratusan orang tak dapat dihindari? Satu dua orang mungkin terluput karena nasib ‘buruk’ terjebak kemacetan lalulintas sehingga tertinggal pesawat. Mengapa hanya satu dua oarang? Bukankah tidak terlalu sulit…

144. ’Keindahan Cinta’

Bagaimanakah insan fana ini dapat mengerti? Sulit sekali. Bagaimana dapat memahami. Apalagi untuk dimaklumi. Mengapa Dia sembunyi? Berdiam diri. Seolah-olah Dia menarik diri. Dan membiarkan dikau berjalan sendiri. Tentukan ritme hentakan kaki. Lantas? Dia pergi. Bukanah itu yang dirasakan hidup di bawah sengatan matahari? Setiap insan. Sepanjang zaman. Tak ada yang dikecualikan. Mau tak mau….

143. ’Tarian Cinta Ilahi’

Cinta memang sulit dianalisa. Tidak mengikuti logika. Sulit dicerna. Dia tak mengikuti norma. Cinta bukan untuk dimengerti. Bukan pula untuk dipahami. Tapi untuk dirasakan. Dinikmati. Dihidupi. God’s problem is not that God is not able to do certain things. God’s problem that Gos loves. Love complicates the life of God as it complicates every life….

142. ’Cinta Itu Misterius’

Cinta itu misterius. ‘Semua kejadian di alam ini dapat dibuatkan persamaan mathematisnya. Kecuali cinta!’ Cinta tak dapat diduga. Tak dapat diatur. Menolak untuk diarahkan. Apalagi dipaksakan. Dia bisa datang tiba-tiba bak dapat durian jatuh. Namun juga didapat dengan perjuangan darah dan air mata. Cinta itu dahsyat tak terkira. Si lunglai jadi raksasa. Sakit-sakitan jadi sehat…

141. Edisi Khusus: ’Duka Untuk Palu’

Hati siapa yang tak miris. Ngilu. Bak disayat sembilu. Menyaksikan gelombang laut bak moster sadis tak pandang bulu. Menelan apa saja yang ada di hadapannya. Bangunan beton kokoh, luluh lantak tak berkutik. Alam begitu kejam. Semua bertekuk lutut tak berdaya. Dasar bumi goyang. Bukit runtuh bagai lilin disambar api. Desa-desa hilang ditelan alam. Tak ada…

140. ’Rayuan Cinta’

Begitu indah Taman Sorga. Taman manusia pertama berada. Sejoli berkasih mesra. Dunia terasa milik berdua. Segala yang dikau butuhkan tersedia. Semuanya ada. Beratap langit. Berhiaskan pelangi. Berlampukan taburan bintang. Manusia harmonis dengan lingkungan. Tak ada penyakit. Tak ada serangga mengigit. Pagi merekah. Berkat melimpah. Mentari menyambut hangat. Siulan burung Nuri menyapa. Inilah sorga di dunia….

139. ’Cinta Liar’

Kisahnya hanya beberapa baris. Pasal-pasal pertama di kitab Genesis. Tentang sejoli yang romantis. Kisah bak sinetron selibritis. Siapa nyana? Ribuan buku ditulis. Tak terbilang terbit tesis. Uraian tak habis-habis. Debat panjang yang tak pernah finis. Sila kritis! Sayang! Tak sedikit yang menjadi apatis. Geram dan berkata: ‘Itu tidak logis!’ Akhirnya, cenderumg ke arah ateis. Dan,…

138. ’Pilihan Hati’

Sulit dimengerti. Tak dapat dipahami. Dia ciptakan manusia agar mencintai Sang Ilahi. Namun membiarkan dikau dan aku tentukan pilihan sendiri. Memenuhi semua kebutuhan mereka di taman Sorgawi. Lantas? Dia pergi! Seakan-akan Dia sembunyi. Berdiam diri. Menahan hati. Tak peduli? Ataukah ‘deg-degan’ menanti pilihan hati? Membiarkan pilihan cinta di tanganmu sendiri. Bagaimana ini? Cinta seperti itukah…

137. ’Resiko Cinta’

Hakekat Allah adalah kasih. Adam dan Hawa tercipta karena cinta. Saudara ada juga karena cinta-Nya. Tak ada sesuatupun yang ada di luar cinta-Nya. Segala sesuatu ada dari tiada. Karena cinta maka itu ada. Jadi, jauhlah dari kenyataan bahwa dikau tercipta karena kecelakaan. Tidaklah juga, dikau ada karena kebetulan. Bukan pula dikau ada tidak untuk apa-apa….