484. Cerai!

Viewed : 361 views

Keputusan YHWH menyerahkan umat manusia kepada hasrat hati mereka menjadi titik balik terputusnya relasi peradaban dengan Sang Pencipta. Seolah manusia tak lagi mampu menahan diri, ambisi membara untuk hidup lepas dari tuntunan-Nya pun meledak tak terhindari. Menara Babel pun menjelma menjadi icon deklarasi makhluk ciptaan yang memilih mandiri!

Peristiwa Babel dalam Perjanjian Lama dapat dimaknai sebagai keputusan ilahi yang sejalan dengan tindakan YHWH terhadap manusia dalam Roma 1:18–32. Roma 1 menggemakan kembali ketegasan YHWH atas obsesi hati manusia. Sikap serupa akan terus bergema sepanjang sejarah peradaban. Bila kehendak hati sudah berbicara, DIA pun seakan membiarkan semuanya mengalir tanpa suara.

Apa yang dapat diketahui manusia tentang Allah sudah jelas di dalam hati nurani manusia, sebab Allah sendiri sudah menyatakan itu kepada manusia. (Roma 1:19 BIS)

Jadi, persoalannya bukan sekadar tahu ada atau tiada, melainkan keputusan hati: mengakui atau mengabaikan-NYA. Di Babel, sama halnya dengan Roma 1, manusia lebih memilih menuruti hasrat hati sambil menyingkirkan keberadaan Sang Ilahi.

Beragam alasan, dari uraian panjang bernuansa nalar para pakar hingga ulasan dangkal yang kurang berdasar, dicari sebagai dalih logis bahwa DIA tidak ada. Segala cara ditempuh untuk merasionalisasi fakta demi mendukung hasrat hati: bahwa segala sesuatu hadir dengan sendirinya. Sosok supernatural pun dianggap tak perlu bagi terciptanya alam semesta.

Dalam relasi antara Sang Pencipta dan manusia, mungkin tak ada sikap yang lebih tegas daripada ketika DIA membiarkan manusia hidup menurut kehendak hati sendiri. Di momen Babel, YHWH murka, seolah kesabaran-NYA telah mencapai ubun-ubun! DIA pun menyerahkan manusia kepada nafsu dosa, menjadikan diri mereka tuhan atas semesta.

So God said, in effect, “If that’s what you want, that’s what you get.” It wasn’t long before they were living in a pigpen, smeared with filth, filthy inside and out. (Roma 1:24 M)

Seakan YHWH berkata, “Jika itulah kehendakmu, maka itulah yang AKU serahkan kepadamu.” Maka peradaban pun terjerumus ke dalam kehinaan—hidup dalam kenajisan, tercemar lahir dan batin. DIA pun undur dari sejarah kemanusiaan, dan sejak saat itu, peradaban melangkah mengikuti apa yang dianggap benar oleh tiap pribadi: “…sesat seperti domba, masing-masing … mengambil jalannya sendiri!” (Yesaya 53:6)

Dapat dikatakan, drama Babel menjadi titik puncak kemarahan YHWH. Seperti yang mereka dambakan, DIA pun undur dari tengah mereka. IA memutuskan hubungan dengan umat manusia! Seperti seorang tunangan—yang dalam tradisi Yahudi telah dianggap sah sebagai pasangan suami istri—YHWH menceraikan mereka. Manusia tak lagi menjadi bagian dari keluarga-NYA, terlepas dari wilayah otoritas kerajaan-NYA. YHWH gusar atas sikap hati mereka.

Peradaban menolak keberadaan Sang Pencipta, DIA pun meninggalkan mereka!

Ini bukan sekadar kisah dari era purba—jejaknya masih dapat Puan dan Tuan raba sepanjang masa. Lihatlah kampus-kampus ternama di dunia, perhatikan sikap para cendekia! Secara default, dunia akademik telah menyingkirkan-NYA. Unsur ilahi dianggap tak lagi relevan dengan arus perkembangan ilmu pengetahuan.

Pelan namun pasti, teknologi mulai menggeser peran yang dahulu dianggap eksklusif milik Sang Ilahi. Elemen adikodrati tak lagi dibutuhkan untuk menjelaskan alam semesta. Manusia merasa telah berhasil menguraikan asal-usulnya secara logis. Fenomena alam pun dijelaskan tanpa perlu menyentuh unsur ilahi. Apa pun yang melampaui nalar kini dianggap sekadar takhyul semata!

Nyatanya, dunia kampus justru lebih gentleman! Seperti hitam dan putih—jelas ke kiri atau ke kanan—mereka nyatakan sikap tanpa tedeng aling-aling. Dunia rohani justru sering bermain di wilayah abu-abu! Nama-NYA pun, dalam banyak segi, sering dicatut demi ambisi pribadi dan itu dapat juga menimpaku, tak ada yang terkecuali. Aaahhh…ngeri! (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments