479. Menggapai Langit!

Viewed : 307 views

Siapa yang tak kenal dengan kisah Menara Babel? Sejak di bangku Sekolah Minggu hingga dewasa, drama tentang menara ini tak asing di telinga umat. Bahkan mereka dari kalangan ateis pun mafhum akan cerita yang satu ini.

Berbeda dari pandangan umum yang berkisar pada proyek pembangunan fisik menara dan kekacauan bahasa, sejatinya episode Menara Babel adalah ‘jantung’ dari cara pandang Perjanjian Lama terhadap ritme detak kehidupan. Trailer Menara Babel menjadi pelengkap klimaks pemberontakan umat manusia terhadap YHWH.

Kisah ini secara singkat digoreskan dalam kitab Kejadian pasal 11 ayat 1–9. Drama tersebut menjadi kelanjutan dari kisah-kisah pemberontakan monumental manusia dan makhluk adikodrati dalam Kejadian 3 dan 6. Dapatlah dikatakan, narasi Kejadian 1–11 merupakan drama pembuka, semacam preambule menuju kisah a bigger picture dari keseluruhan isi Alkitab.

Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. (Kejadian 9:1)

Selepas air bah, peradaban pun bergerak maju dengan pesat. Setelah berlaksa masa, jumlah manusia bertambah berlipat kali ganda, namun mereka tetap serumpun dan berkumpul di tanah Sinear (ayat 3), lembah datar nan subur.

Apa pun maksud dari ayat 1, bolehlah dikatakan bahwa ketika manusia sepakat, seia sekata, dan sependapat, teknologi pun berkembang dengan cepat. Gagasan bermunculan, bahkan muncul pemikiran tentang bagaimana menghindari bencana besar yang dahulu pernah memusnahkan peradaban nenek moyang, agar tak terulang bagi generasi selanjutnya.

Apa hendak dikata, ternyata bukan itu saja cita-cita mereka!

Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” (Kejadian 9:4)

Mendirikan sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit! Puncaknya menjulang tinggi, seakan menembus langit dan menggapai alam ilahi! Alih-alih mengakui diri sebagai makhluk ciptaan, apa mau dikata, ego begitu besar hingga ingin menyamai Yang Maha Tinggi (Yesaya 14:13–14).

Menggapai alam surga demi mengendalikan Sang Kuasa! Peradaban Babel mencerminkan hasrat terdalam manusia sejak Taman Eden hingga peristiwa makhluk adikodrati yang keluar dari batas wilayahnya (Kejadian 6), demi membebaskan diri dari kendali Sang Ilahi. Jika merasa diri cukup mampu, megapakah harus bergantung pada Sang Maha Agung?

Konon secara arkeologis, Menara Babel kemungkinan besar adalah sebuah kuil zigurat di Babilonia—kuil yang menjulang tinggi seakan mencapai langit. Ia menjadi simbol penghubung antara langit dan bumi. Meski kini hanya tersisa puing-puing, namun deskripsi bangunannya memiliki kemiripan dengan penjelasan singkat dalam Kejadian 11.

Kuil zigurat diperuntukkan sebagai tempat ibadah bagi dewa-dewa, di mana puncaknya diyakini sebagai kediaman para dewa. Hanya para imam dan bangsawan yang diizinkan naik ke atas. Masyarakat Mesopotamia percaya bahwa semakin tinggi bangunan, semakin dekat dengan alam ilahi. Zigurat pun menjadi simbol relasi antara manusia dan dewa.

Zigurat dapat dianggap sebagai simbol untuk merumahkan para dewa, supaya dapat ditentukan kapan dan bagaimana ritual perjumpaan berlangsung. Dalam konteks Menara Babel, hal yang sama ingin diberlakukan pula terhadap YHWH!

Prinsip kuil zigurat terlihat juga di rumah-rumah ibadah di abad ke-21. Seolah DIA dipagari untuk berada di satu tempat saja, agar umat mudah menjumpai-NYA bila diperlukan. Seluruh ritual pemujaan kini terpusat di tempat suci modern itu—mengira DIA telah menetap dan menemukan rumah-NYA!

Mungkinkah itu sebabnya (tanpa sadar?), rumah-rumah ibadah juga dilengkapi menara yang menjulang tinggi ke langit? Sebagai lambang tempat itu menjadi penghubung antara alam duniawi dan rohani? Aku tak tahu! Kalau menurut Adinda, bagaimana? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments