471. Lupa Waktu

Viewed : 283 views

Entahlah, aku pun tidak tahu, mengapa begitu? Mengapa YHWH mau mengikatkan diri-NYA dengan manusia melalui sebuah janji? Apa manfaatnya bagi Sang Kuasa untuk berkomitmen kepada makhluk yang penuh dengan cacat cela? Sudah jelas manusia tidak dapat dipercaya—sebentar mengakui salah, lalu kembali berbuat gegabah.

Betul saja! Seiring bertambahnya anak-cucu Adam, bumi pun semakin kelam. Kejahatan merajalela, peradaban dipenuhi dengan kejahatan, dan keturunan Adam tidak dapat diharapkan. Kecenderungan hati manusia bejat, perilakunya jahat, hingga Sang Maha Pengasih dibuat kecewa berat (Kejadian 6:5-6).

Ini sulit aku pahami! Bagaimana mungkin Sang Maha Tahu dapat dibuat kecewa oleh keturunan Adam? YHWH bahkan menyesal karena telah menciptakan manusia (Kejadian 6:6). Ini bukan sekadar penyesalan biasa, melainkan kekecewaan yang begitu mendalam, hingga melukai hati Sang Maha Bijaksana!

YHWH merasa pilu! DIA berduka karena makhluk yang dicintai bermain mata dengan yang lainnya. Bukankah hanya seseorang yang begitu dicintai yang mampu merobek-robek hati ketika ia didapati tidak setia?

Ah, betapa pedihnya hati saat melihat kekasih selingkuh tepat di depan mata! Dunia seakan runtuh, tempat berpijak terasa goyah, dan pikiran bisa hilang kendali, mata gelap dalam amarah dan kepedihan! Betapa menyesalnya, “mengapa dulu harus bertemu?” Bukan perpisahan yang kutangisi, pertemuan yang kusesali.’ Begitulah ungkapan duka yang tercurah dalam sebuah lagu jadul.

Mungkinkah begitu maksud ungkapan ”…menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6:6)?

Dengan berat hati, YHWH mengakhiri peradaban dengan bencana air bah. Syukurlah, masih ada Nuh yang berkenan di hati-NYA. Walaupun tidak sempurna, Nuh adalah satu-satunya yang memahami isi hati-NYA (Kejadian 6:9). Seperti seorang sahabat, Nuh memiliki keakraban dengan YHWH, kadang-kadang ia sampai lupa waktu karena asyik berbincang panjang lebar dengan-NYA.

Nuh bergaul dengan YHWH! Noah walked with God (Kejadian 6:9, ESV). Bagaimanapun cara Anda memahami kata bergaul atau walked with God, yang jelas mengandung unsur keakraban, pertemanan, serta relasi yang erat, layaknya sahabat yang saling memahami.

Ketika dua sahabat akrab bertemu, mereka bisa ngobrol sepanjang hari hingga lupa waktu sudah larut malam. Setiap perjumpaan selalu penuh keceriaan, seolah sudah lama tak berjumpa dan senantiasa merindukan kebersamaan. Tak pernah kehabisan cerita, selalu ada topik menarik untuk dibahas. Begitulah hubungan dua sahabat, tanpa rahasia, saling mengerti isi hati.

Begitukah hubungan Nuh dengan YHWH?

Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, (Kejadian 9:8,9)

Ah, betapa lembutnya hati YHWH! Kepedihan hati-NYA seolah menemukan penghiburan dengan hadirnya Nuh dalam HIS-tory! Seakan-akan DIA melupakan luka hati-NYA, atau mungkin luka itu telah terobati oleh kehadiran seorang sahabat sejati? Seorang teman yang benar-benar memahami makna dari “sakit hati bak tersayat sembilu.”

DIA kembali mengambil inisiatif untuk mengikatkan diri-NYA dalam janji dengan Nuh dan keturunannya. Sebuah janji yang ditujukan untuk mengingatkan diri-NYA sendiri agar bumi tidak binasa seperti yang lalu. Siapa tahu, setelah berlaksa-laksa masa kejahatan manusia kembali merajalela di bumi.

Saat DIA melihat pelangi di cakrawala, DIA teringat pada satu masa, ada seorang teman ngobrol yang begitu asyik hingga lupa waktu. Karena teman inilah, YHWH berjanji: “…sejak saat ini, tidak ada lagi makhluk hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah, dan tidak akan ada air bah lagi untuk memusnahkan bumi.” (Kejadian 9:11, 13)

Masihkah DIA dapat menemukan teman sejati di era digital yang serba sibuk dan overload informasi ini? Seorang sahabat untuk saling berbagi cerita, saling memahami isi hati. Kawan berbincang yang membuat lupa waktu. Aku sendiri ragu! Bagaimana denganmu? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments