Kepuasan Yang Legitimate

Viewed : 337 views

Kita adalah korban dari dunia yang jatuh dalam dosa ini, tetapi juga sekaligus adalah seorang agen,yang menyebabkan terjadinya pembaharuan.

Sebagaimana manusia memiliki kerinduan dan rasa haus akan apa yang tidak pernah bisa disediakan oleh dunia ini, yang akhirnya kita semua menderita kekecewaaan. Kita telah disakiti oleh orang lain.

Kita adalah korban-korban, ketika setiap kali kita berbuat dosa atau setiap kali kita mengalami penderitaan, atau rasa sakit tanpa alasan di dalam berbagai situasi dan kondisi di dalam hidup kita.

Namun kita juga adalah agen-agen, yang memilih untuk memberikan respons terhadap kehidupan menurut pemahaman kita tentang apa yang paling baik.

Persoalan yang latennya adalah kita dengan bodoh memutuskan untuk mengatur kepuasan kita sendiri, kita menolak untuk mempercayai Tuhan dan mempercayakan kehidupan kita.

***

Secara rutin saya mengunjungi seorang sahabat, seorang barista amatir dan penikmat kopi sejati.

Dengan minimal dua atau tiga shot espresso, yang diseduh dengan alat kreasinya sendiri, kami bisa menikmati kopi yang legit, tidak over heat, dan mencercap cita rasa kopi asli dari varian kopi yang ada, dan tentunya sambil mendiskusikan banyak hal tentang kehidupan ini.

Percakapan dengan kawan tadi sore adalah seputar kehidupan modern, bagaimana manusia modern terjebak di dalam kehidupan yang (menurut istilah kawan tadi) “auto pilot”. Navigasi kehidupan tidak lagi didasarkan akan nilai-nilai yang sejati, tetapi justru mengejar keinginan manusiawi. Penuh gemerlap kemakmuran, tetapi tidak ada rasa cukup. Penuh ambisi, tetapi tidak ada cara memutuskan kemelekatannya. Ingin merdeka secara finansial, tetapi justru menjadi budak mamon.Atau disisi lain, sibuk dan penat mengejar kemakmuran, tetapi tagihan dan kewajiban keuangan selalu mengejarnya. Hidup menjadi tidak tenang, tetapi juga tidak punya kuasa untuk menghentikannya.

Ditengah ketidakpastian yang ada, manusia menjadi mati rasa atau “numb”; perasaan tertekan,kehilangan jati diri, dan mati rasa akibat tekanan dari lingkungan sekitar. Seperti halnya rat race, dan secara auto pilot mengikuti arus tanpa mempertanyakan tujuan sebenarnya.

Kita kehilangan kasih yang sejati, kita bahkan tidak mengasihi diri kita sendiri, kehilangan kasih kepada sesama dan tentunya akan Allah. Kita menjadi egois dan tanpa belas kasihan.

Banyak orang menjalani hidup dengan ritme yang cepat dan sibuk. Mereka bekerja keras, mengejar jabatan, memenuhi tuntutan sosial, dan terus bergerak tanpa henti. Namun, di balik kesibukan tersebut, banyak yang merasa kehilangan makna hidup. Fenomena ini sering disebut sebagai rat race, sebuah metafora yang menggambarkan manusia seperti tikus yang terus berlari dalam roda tanpa arah yang jelas. Dalam konteks ini, hidup dijalani secara auto-pilot—sekadar mengikuti alur tanpa mempertanyakan tujuan sebenarnya.Di usia kami yang telah menua, ya kami sadar usia kami sudah di atas 50 tahun, pertanyaan esensial tersebut menjadi penting di dalam diskusi kami sore tadi.

Sejauh mana sebenarnya kita sudah melewati perjalanan ini?

***

Konsep rat race berasal dari gambaran tikus laboratorium yang berlari di dalam roda pemutar tanpa pernah mencapai tujuan akhir. Dalam kehidupan nyata, ini terjadi ketika seseorang terjebak dalam rutinitas tanpa makna, bekerja hanya untuk bertahan hidup, dan mengejar kesuksesan material tanpa mempertimbangkan kebahagiaan sejati.

Hidup dalam mode auto-pilot berarti seseorang menjalani hari-hari dengan kebiasaan yang telah diprogram tanpa mempertanyakan pilihan mereka. Misalnya, seseorang bangun pagi, pergi ke kantor,bekerja seharian, pulang ke rumah, dan mengulangi siklus ini tanpa menyadari apakah mereka benar-benar menikmati hidup mereka atau tidak.

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang terperangkap dalam rat race dan hidup secara auto-pilot:

1. Budaya Konsumerisme – Gaya hidup modern sering kali menuntut seseorang untuk selalumembeli barang baru dan meningkatkan status sosialnya. Keinginan untuk memiliki lebih banyak membuat seseorang terus bekerja tanpa henti.

2. Tekanan Sosial dan Pendidikan – Dari kecil, banyak orang diajarkan bahwa kesuksesan berarti memiliki pendidikan tinggi, pekerjaan bergaji besar, dan status sosial yang tinggi.

3. Ketakutan Akan Ketertinggalan (FOMO) – Banyak individu merasa harus terus mengejar sesuatu agar tidak tertinggal dibandingkan orang lain.

4. Kurangnya Kesadaran Diri – Banyak yang tidak menyadari bahwa mereka menjalani hidup dalam pola otomatis, mengikuti arus tanpa mempertimbangkan apa yang benar-benar mereka inginkan dan yang bermakna.

Terjebak dalam rat race dapat berdampak buruk pada kesejahteraan mental, emosional, dan fisik seseorang, sehinggal hal ini menyebabkan dampak negatif, yang meliputi:

Stres dan Burnout – Tekanan pekerjaan yang konstan dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental.

Kehilangan Waktu untuk Diri Sendiri dan Keluarga – Seseorang bisa terlalu sibuk bekerja sehingga mengorbankan waktu bersama orang-orang terdekat.

Hidup Tanpa Makna – Seseorang merasa hidupnya kosong karena hanya bekerja dan tidak menikmati proses serta makna pengabdiannya.

Masalah Kesehatan – Stres yang tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, insomnia, dan kecemasan.

Meskipun rat race tampak seperti jebakan yang sulit dihindari, ada cara untuk keluar darinya dan mulai menjalani hidup yang lebih sadar dan bermakna:

1. Sadari bahwa Anda Terjebak – Langkah pertama adalah mengenali pola hidup yang berjalan tanpa disadari.

2. Redefinisi Kesuksesan – Ubah cara pandang tentang sukses; bukan hanya soal uang, tetapi juga sukacita, damai sejahtera dan hidup dengan rasa syukur.

3. Kurangi Konsumerisme Berlebihan – Fokus pada apa yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar mengejar gengsi, keinginan atau status sosial.

4. Fokus pada Sederhana Tetapi Penting – Luangkan waktu untuk istirahat/tidur, hobi, keluarga, dan kegiatan yang memberikan kepuasan batin.

5. Buat Keputusan Secara Sadar – Jangan hanya mengikuti arus. Ambil kendali atas hidup dengan memilih jalur yang sesuai dengan nilai dan tujuan pribadi.

Rat race adalah jebakan kehidupan modern di mana seseorang terjebak dalam rutinitas tanpa makna dan hidup dalam mode auto-pilot. Banyak orang yang merasa tidak punya pilihan selain mengikuti pola ini.

Satu pertanyaan refleksi yang muncul adalah, apakah saya, anda, kita merasa menjadi korban di dalam siklus kehidupan yang seperti ini?

***

Untuk mengukur kedalaman batin kita, maka pertanyaannya apakah kita mengalami contentment?

Contentment berarti kepuasan diri, yaitu keadaan merasa cukup, puas, dan tidak selalu menginginkan lebih, terlepas dari keadaan eksternal. Ini berbeda dari happiness (kebahagiaan), karena contentment lebih dalam—bukan hanya perasaan sesaat, tetapi sebuah sikap hati dan cara pandang hidup.

Seorang psikolog Kristen, Larry Crabb, menyebutkan ada kepuasan yang legitimate (legitimate satisfaction), yang sah. Ada kepuasan yang illegitimate, yang tidak sah. Kepuasan yang legitimate adalah kepuasan sejati yang berasal dari Tuhan, yang memberikan damai sejahtera dan kebahagiaan yang tidak tergantung pada keadaan eksternal. Sedangkan kepuasan yang illegitimate hanyalah kepuasan semu yang diperoleh dari dunia, tetapi cepat hilang dan sering kali membawa dampak negatif.

Kepuasan yang legitimate bersifat fullness, utuh dan berlimpah-limpah; tidak bergantung keadaan eksternal di sekitar kita.

Yohanes 7:38 (TB)

Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.

Ada cara yang berbeda di dalam memandang kehidupan, seperti yang Yesus ajarkan.

Matius 6: 32-33

32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Dan mari sejenak untuk merefleksikan perjalanan kita sampai saat ini, apakah kita sedang di jalur yang benar?

Roma 14:17
Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Hidup ini bukanlah soal makanan, minuman, dan pakaian (semua itu yang dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah), dan Allah tahu bahwa kita memerlukan  semua itu. Hal yang bermakna, legitimate, di dalam kehidupan kita adalah tentang kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita; karena kita terikat-erat, melekat di dalam persekutuan dengan Tuhan.

Apakah Anda masih berada dalam rat race yang auto pilot, atau sudah mulai mengambil kendali atas hidup Anda? Pilihan ada di tangan Anda.

Kita perlu mengubah posisi kita, sebagai korban di dalam perlombaan di dunia ini (yang bagaikan rate race dengan modus auto pilot), menjadi agen yang mengalami transformasi di dalam hidup kita, tetapi juga mentransformasi kehidupan di sekitar kita.

Kita perlu mengambil kontrol atas kehidupan kita, bukan sebagai korban, tetapi menjadi agen perubahan, secara proaktif, bertumbuh, memilih untuk berusaha dan bertanggung jawab atas kehidupannya.

Tuhan memberkati.

Teja Samadhi
Bandung, 2 Maret 2025

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Comments

comments