425. The Ultimate Megalomaniac

Viewed : 263 views

Alasan rasional penciptaan manusia terus akan diliputi misteri. Jika melihat kehidupan terkini di muka bumi, tentu seribu satu tanda tanya akan bermunculan di hati. Mengapa aku hidup di era seperti sekarang ini? Daku tidak pernah minta, dikaupun sama saja, tiba-tiba Adinda sudah ada di dunia!

Alkitab pun seperti senang menyimpan rahasia jawaban pertanyaan ‘mengapa’. Kitab Kejadian cenderung pelit memberikan respon terhadap gundah gulana jiwa manusia. Bagi Adinda yang sudah memiliki Alkitab lengkap, tetap saja misterinya belum juga tersingkap.

Bayangkanlah bila dikau hidup berabad-abad sebelum ada yang disebut kitab Perjanjian Baru! Konon 5 kitab pertama Perjanjian Lama yang dikenal sekarang, barulah lengkap dikompilasi setelah bangsa Yahudi kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 538 SM.

Bisa jadi pemahaman dikau yang hidup di era serba digital akan sangat berbeda dengan daku yang sezaman denga bangsa Israel purba, khususnya dalam memahami kitab Kejadian pasal pertama hingga yang ke tiga. Perbedaan ini dapat diterima secara logika. Bukankah pengertian terhadap suatu peristiwa sangat dipengaruhi oleh konteks budaya kala itu?

Bagi daku, yang hidup ratusan tahun sebelum ada kalender seperti sekarang, kisah penciptaan manusia dalam Kejadian 1:26 tidak ada hubungan dengan isu doktrin Tritunggal. Sebaliknya, DIA tengah membeberkan gagasan di hadapan anggota divine council (Dewan Musyawarah TUHAN, Yeremia 23:18).

Seakan-akan DIA berkata: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kejadian 1:26), kepada keluarga-NYA di alam supernatural. Kata ‘Kita’ kala itu dapatlah dimengerti sebagai keseluruhan anggota keluarga-NYA di alam yang tidak kasat mata. Itu kemungkinan besar tidak ada sangkut pautnya dengan konsep Tritunggal. Bukankah isu Tritunggal belum dikenal kala itu?

Dengan bahasa awam, dapatlah diduga DIA tengah membentangkan rencana-NYA kepada anggota keluarga-NYA di dunia sana bahwa DIA hendak menciptakan keluarga yang lain di dunia yang akan ada siang dan malam (Kejadian 1:5). Jika dibaca perlahan-lahan ayat-ayat berikutnya, terlihat DIA tidak menunggu persetujuan anggota dewan (Kejadian 1:27)!

DIA berinisiatif sendiri, menghadirkan keluarga-NYA di muka bumi. Kitab Ayub(38: 3-7) mengindikasikan bahwa keluarga-NYA di alam sana, sons of God, turut menyaksikan awal penciptaan alam siang-malam. Bukankah arti dari istilah anak-anak itu berhubungan dengan keluarga?

Keluarga-NYA berkembang meliputi ke dua alam, dunia material dan alam immaterial. Keluarga dari ke dua alam bersanding hamonis, terwujud nyata hadir bersama di Taman Eden. Mahluk sorgawi bertegor sapa dengan Adam Hawa. Dengan demikian sangat wajar, Hawa terasa mesra berbicara dengan si ular.

Aaahhh… ternyata ada satu anggota dewan yang tidak rela melihat Adam Hawa dan keturunannya diberi wewenang untuk menguasai dunia siang – malam (Kejadian 1:28). Menaklukkan bumi dengan meluaskan Eden hingga meliputi seluruh bumi.

Dari seribu kali beribu-ribu banyaknya makhluk alam maya (Daniel 7:10), siapa sangka ada satu anggota dewan, yang terhormat-si ular, yang kecewa. Isi hati terungkap, niat jahat membuat hati kalap. Suatu saat, tak guna berdebat, waktu akan menyatakan pendapat.

Siapa sangka setelah puluhan abad kemudian baru terbongkar niat terdalam di hati, mengapa trailer Taman Eden terjadi. Nafsu tak terbendung, bersedia serahkan segala sesuatu agar disanjung-sanjung!

“Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku” (Matius 4:9), ucapnya sambil memperlihatkan kemegahan dunia. Ambisi sejak awal, gairah tak tertahankan, impian yang membutakan, hasrat untuk dinomorsatukan, bahkan hingga disembah-sembah.

Dia paham, Yesus adalah YAHWEH dalam rupa manusia. Dia rela menyerahkan semua yang dia punya agar Yesus menyembahnya. Itulah puncak impiannya, the ultimate megalomaniac, disembah dan dipuja-puja!

Ini semacam penyakit kronis yang telah menginfiksi hati manusia. Keinginan menjadi nomor satu, yang utama, disanjung dan dipuja! Eling lan waspodo! DIA dapat tersingkir dari singsana cinta hati Adinda, bukan karena oleh hal-hal duniawi, namun justru oleh karena prestasi rohani! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments