Ini drama strategi perang, perebutan kawasan yang dari dulu hingga sekarang. Kawasan ini ceritanya rasa-rasanya tidak terlepas dari rebutan ‘secuil’ daerah, dari turunan satu ke genarsi berikutnya sejarahnya berdarah-darah.
Tidak terlalu jauh dari kawasan Gaza yang tengah bergejolak, ke arah Utara ada kota kuno Ramot-Gilead yang menjadi titik percekcokkan kerajaan Utara, Israel, dengan Kerajaan Siria/ Aram (1 Raja Raja 22:1-21). Sudah sekitar 3 tahun lamanya ada semacam cease fire antara ke dua kerajaan.
Kalau hanya dilihat dari sesi geo-politik, mungkin peseteruan ini bisa dianggap biasa-basa saja sebagai perkembangan suatu peradaban. Namun siapa sangka, narasi pertikaian untuk memperebutkan kota Ramot-Gilead sejatinya terlihat agak aneh! Drama yang disajikan terasa asing, jangankan daku para pakarpun dibuatnya pusing.
Setelah kejayaan dalam pemerintahan raja Salomo, apa daya generasi berikutnya ternyata muncul keturunan sontoloyo. Dengan cepat kerajaan terbelah dua, bagian Selatan terdiri suku yang masih setia kepada dinasti keturunan raja Daud. Sebaliknya, yang bagian Utara dikenal sebagai bangsa pembrontak, meninggalkan perjanjian-NYA.
Entahlah, tapi begitulah! Namanya juga masih bersaudara. Di suatu kesempatan, Yosafat, raja Yehuda anjangsono ke Selatan bertemu Ahad sang raja Israel. Raja Ahad dikatagorikan sebagai raja yang paling buruk kepemimpinannya dalam sejarah. Di eranya, rakyat meninggalkan YAHWE dan berbakti kepada allah bangsa-bangsa.
Siapa tahu apakah ini egoisme ataukah rasa nasionalisme? Timbul keinginan raja Ahab untuk merebut kembali kota Ramot-Gilead, yang memang termasuk daerah kerajaan Utara, dari tangan raja Siria. Dan dia mengajak raja Yosafat turut serta berperang.
Yosafat setuju, namun mendorong Ahab mencari nabi yang dapat memberi petunjuk YAHWE atas rencana ini. Dari sekitar 400 nabinya, semua konfirm untuk maju berperang. Namun sepertinya Yosafat ada feeling dan karenanya bertanya apa tidak ada nabi yang lain (1 Raja Raja 22: 6,7).
‘Ada,’ sahut Ahab cepat. Namun dia tidak dapat menyangkal akan kejengkelannya terhadap ucapan-ucapan nabi yang satu ini. Siapa yang tidak geram, kalau dari 400an nabi hanya nabi Mika, satu-satunya, yang ucapannya selalu berlawanan dengan keinginan hatinya.
Desakkan raja Yosafat agar juga diberi kesempatan bagi nabi Mika untuk bicara, membuka tabir misteri apa yang sedang terjadi di dunia sana. Dengan lantang Mika berkata akan apa yang sedang dia saksikan.
Lalu jawabnya: “Telah kulihat seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak punya tuan; baiklah masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat.” Kemudian raja Israel berkata kepada Yosafat: “Bukankah telah kukatakan kepadamu: Tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan hanya malapetaka?” (1 Raja Raja 22:17,18)
Singkatnya, Mika menasihati agar mengurungkan niat maju merebut kota Ramot-Gilead dari kerajaan Siria. Ini mengecewakan raja Ahab, yang ternyata lebih tergoda mengikuti mayoritas nasihat dari para nabinya.
Adegan semakin diliputi tabut mistik, diskusi di lain dimensi pun sedang terjadi. Nabi Mika menyaksikan dialog di Dewan Musyawarah Ilahi. Di atara bala tentara sorga, DIA duduk mendengarkan masukan agar keputusan yang DIA telah tetapkan dapat terjadi!
Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya. Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu. (1 Raja Raja 22:19,20).
Dalam kedaulatan-NYA, DIA telah memutuskan (predestinasi) suratan takdir akhir hidup raja Ahab sudah pasti di kota Ramon-Gilead. Namun, cara bagaimana hal ini terjadi, sepertinya diserahkan kepada kehendak bebas makhluk dari alam sana. Dan sedih, ternyata Ahab mengabaikan nasihat nabi Mika! Sehingga tewas di kota Ramot-Gilead persis seperti yang DIA sudah ketahui sebelumnya.
Seperti halnya akhir dari peradaban sudah dipastikan, namun bagaimana itu terjadi seakan-akan diserahkan kepada kehendak bebas Puan dan Tuan. Begitu juga terjadi di alam sana. Betapa DIA begitu menghargai peran Adinda dalam menyelesaikan rancangan-NYA bagi dunia! What you choose and do matters! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |

