389. Proxy War

Viewed : 335 views

Status Adam Hawa menjadi pembawa citra ilahi, menjadikan manusia sebagai makhluk unik tiada duanya di muka bumi. Peran dan fungsi insani tak tergantikan oleh makhluk bahkan dari lain dimensi.

Boleh-boleh saja menduga-duga suatu saat nanti ditemukan alien yang super cerdas, jauh lebih perkasa dan trengginas. Makhluk hidup dari alam entah berantah, tetap saja hanya keturunan Adam yang ada status sebagai God’s image, citra ilahi, di muka bumi.

Walau kemajuan teknologi Artificial Intelligence sudah di depan mata. Sudah terbayang, robot super canggih yang akan segera ambil alih tugas manusia. Bahkan sudah nyata, ada robot sebagai pengkhotbah menggantikan pekerjaan Pendeta. Tetap tidak bisa! Status pembawa citra ilahi tetaplah keturunan Adam Hawa.

Kalaupun daku terlahir kurang sempurna sebagaimana layaknya manusia. Tidak ada tangan ataupun kaki untuk berjalan. Umurku sudah dewasa, akan tetapi masih belum bisa bicara, apalagi untuk mengucapkan sepenggal doa.

Tidak dapat bergerak, begitu juga untuk duduk tegak. Hidup hanya terbaring, bisa sedikit saja tubuhku miring, itu sudah suatu pencapaian penting. Aku sepenuhnya bergantung kepada belas kasihan keluarga, yang tiada tara merawatku hingga dewasa.

Hampir pasti hidupku tidak berguna karena tidak dapat berbuat apa-apa. Untuk urusan yang paling mendasar pun, seperti buang hajat, tetap saja butuh bantuan kerabat. Singkatnya, daku hanya menjadi beban berat!

Dikau boleh geleng-geleng kepala, dan mungkin sulit untuk menerima fakta! Walau, maaf, anjing pun rasa-rasanya lebih berguna bagi sesama. Tetaplah statusku keturunan Adam Hawa, sebagai pembawa citra ilahi, daku tak tergantikan. Karena ini status bukan kualitas ataupun kemampuan.

Keturunan Adam menjadi satu-satunya makhluk pembawa citra ilahi di muka bumi. Dikau itu God’s image, lokasi rendevous antar dimensi. Alam adikodrati dan alam materi bertemu dalam kehidupan insani. Kefanaan dan kekekalan berjabat tangan dan duduk berdampingan di dalam diri.

Sejak ‘D-one’, hari pertama, Hawa bertegor sapa dengan si ular, sejak itulah hatimu diperebutkan. Status sebagai pembawa citra ilahi dipertaruhkan. Karena hidup ini adalah pilihan, keputusan diserahkan ke tangan Puan dan Tuan.

The end dari trailer Taman Eden, jaulah dari kenyataan akhir cerita drama Korea yang keren. Sejak itu pulalah daku dan dikau ada dalam peperangan alam metafisika yang tidak ada habis-habisnya (Kejadian 3:15). Pertarungan keturunan ilahi dengan bibit si ular, hingga menjalar ke seluruh penduduk bumi yang lebih dari 8 milyar.

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (Efesus 6:12)

Adinda melawan musuh yang tidak kelihatan, penghulu dunia yaitu roh-roh yang berusaha menguasai alam pikiran. Ingat! Seteru itu bukan sesama, terlepas dari apa agama ataupun keyakinannya. Apalagi memperebutkan lahan atau bangunan.

Sebagaimana sejak semula, begitulah seterusnya. Semua keturunan Adam adalah pembawa citra-NYA, walau citra yang telah ternoda. Sebagai halnya Hawa (dan Adam) tergoda, begitu juga cara merayunya (2 Korintus 11:3). Strateginya sama, tidak berbeda sepangjang masa, menarik hati Adinda untuk melawan rencana-NYA.

Daku dan dikau menjadi prajurit-NYA, seakan-akan Adinda menjadi wakil-NYA dalam perang semesta. Ini perang terselebung, proxy war, di dalam dirimu dan diriku. Laksana dua kekuatan saling beradu ‘otot’ di dalam jiwa, yang saling bertentangan dan tidak akur.

Yang satu gigih menuntut balas, yang lain lemah lembut nan senantiasa siap memaafkan. Sisi sini gigi ganti gigi, yang sana berikan lagi lagi dan lagi. Keinginan si ular agar manusia saling cabut nyawa (Yohanes 8:44). Sedangkan DIA rindu agar sesama saling peluk mesra (Mazmur 133). Dunia mengapresiasi prestasi, membuang yang terlambat berkembang. Sebaliknya, DIA sahabat yang cacat dan tidak dipandang.

Ini proxy war di dalam diri, antara roh ilahi vs roh oposisi. Layaknya di Taman Sorga, demikian pula kini. Sila dikau ambil sikap! Kemanakah gerangan tabiat Adinda berpihak? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments