375. Eden dan Adinda

Viewed : 522 views

Sedari dari Sekolah Minggu, hingga daku sudah dewasa, sejak dahulu pengertianku ya begitu-begitu. Episode kejatuhan Adam dan Hawa dalam Kejadian pasal 3, hanya menyangkut keberadaan nasib manusia.

Itu tentu wajar-wajar saja, bukankah adegan yang tak seberapa telah mengakibatkan peradaban tertimpa malapetaka? Sejak itu, duka nan nestapa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah manusia.

Lihat saja kiri kanan! Baca sejarah peradaban, dahulu sekarang bahkan di masa yang akan datang, bukankah jejak trailer Taman Sorga terlihat bahkan dialami dengan nyata? Isak tangis menggema, duka karena ditinggal kekasih ke alam baka terjadi di mana-mana. Dahulu seperti itu, sekarang pun begitu.

Oops..! Tunggu dulu.

Ada bayang-bayang samar dibalik adengan godaan, sehingga Adam dan Hawa memutuskan untuk memakan buah itu. Sosok antagonis yang tidak happy dengan kehadiran manusia. Sikap oposisi terhadap semua rencana-NYA bagi perluasan Taman Sorga hingga melingkupi seluruh benua.

Penulis Kejadian pasal 3 dengan cerdik menyampaikan kata sandi alias perlambang dengan menyebut sosok itu sebagai si ular. Bagi pembaca di era purba, sebelum ada kitab Perjanjian Baru, maklum kalau ini bukan bercerita tentang dunia hewan.

Tentu dunia baheula paham benar kalau manusia tidaklah dapat berbicara apalagi dirayu oleh si ular. Penulis memilih kata ular yang kemungkinan mempunyai makna ganda.

Sebagai kata benda kata itu berarti ular (Bilangan 21:6,9). Sebagai kata kerja berarti penyampai berita dari alam sana (Ulangan 18:10). Dan sebagai kata sifat berarti bersinar layaknya pantulan dari logam perunggu (1 Tawarikh 4:12, Ir-Nahas: city of bronze).

Mungkinkah ketiga makna itu simultan terjadi di Taman Sorga? Gambaran tentang makhluk adi kodrati yang bukan sembarangan.

Wacana kehadiran tokoh antagonis, makhluh supranatural, membuka pemahaman apa yang tengah terjadi di Taman Sorga. Tersirat Eden bukanlah sembarang taman, di era Perjanjian Lama (PL), Taman Eden dimaknai dalam bingkai transenden.

Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (Kejadian 3:8)

Jika saja daku atau pun dikau ada di era PL, ayat di atas menunjukkan bahwa taman itu sejatinya tempat kediaman YWH. Tempat manusia berbicara dengan Sang Pencipta. Ini tidak lain tidak bukan menyatakan bahwa Taman Allah sebagai gambaran tempat kediaman-NYA di bumi alias bait-NYA, rumah TUHAN.

Jika demikian, dapatkah dikatan bahwa Taman Eden itu sebagai an erathly archetype of the heavenly reality? Contoh bentuk atau pun gambaran pola dasar alam sorga di alam dunia. Eden sebagai analogi alam supranatural, the celestial archetype, di bumi.

Betapa krusial kedudukan Eden, sebagai awal rencana untuk menghadirkan kerajaan-NYA yang kelak meluas melingkupi seluruh bumi. Rencana besar, sayang itu bubar sebelum kelar, bahkan bak layu sebelum mekar.

The celestial archetype sebagai kerinduan-NYA yang seakan-akan tersembunyi dalam doa segala zaman, …di bumi seperti di sorga (Matius 6:10). Eden, taman yang menjalin kehadiran alam sana di alam dunia, alam maya dengan yang nyata bersatu di Taman Sorga.

Tidak perlu geleng-geleng kepala! Walau Eden telah hilang entah ke mana, DIA selalu ada cara untuk mewujudkan rencana-NYA di dunia. Sementara, DIA layaknya kalah tidak berjaya, sejatinya, DIA tengah bekerja mewujudkan kehendak-NYA.

Gak usah terperana, jika DIA menggunakan jurus pemungkas, yakni mempercayai Adinda sebagai Eden baru, a new celestial archetype. Rumah-NYA, tempat DIA berkenan hadir di dunia (Iberani 3:5,6). Melalui Adindalah, Eden akan melingkupi seluruh bedua! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments