363.Temporer!

Viewed : 526 views

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kata pepatah tentang rahasia kehidupan. Daku bisa saja menjerit-jerit bak kesurupan menolak atau pun menyangkal dengan berteriak-teriak. Namun fakta sudah dibuat, tersurat dengan bulat.

Daku, begitu juga dikau, dan semua insan yang hidup di bawah matahari. Terpelajar ataupun hanya mengecap Sekolah Dasar, kaya ataupun papa, terkenal atau pun hidup normal-normal. Semua akan menghadapi ajal.

Itu sudah suratan, jauh sebelum ada peradaban, leluhur telah menjatuhkan pilihan. Keputusan yang menyakitkan yang berujung kepada akhir perjalanan, kematian. Betapa fana semua yang kelihatan, tidak ada yang abadi, semua akan ditinggalkan.

Di sini terdengar tangisan, di sana mengerang karena kesakitan. Anak-anak harus rela melepas orangtua pulang ke negeri gelap gulita yang penuh tanda tanya. Begitu pula kekasih dipaksa melepas yang dicintai ke alam baka, walau cinta baru saja bersemi.

Bencana pun dapat datang tiba-tiba menimpa siapa saja, baik yang rajin beribadah maupun yang tidak peduli ada Allah. Korbannya dapat tak terkira, sekeluarga dapat tidak ada yang sisa, tewas sia-sia. Seakan-akan alam begitu bengis tidak kenal pilih kasih.

Isak dan tangis, duka nan nestapa, makanan sehari-hari manusia di dunia. Kebanggannya tidak lain tidak bukan adalah penderitaan yang tak berkesudahan. Daku dan dikau bak bayang-bayang lewat di tengah hari, tiba-tiba sudah pergi! Dan tidak kembali lagi.

Temporer! Sementara, fana, kemarin terlihat sekonyong-konyong sudah tidak ada di tempat. Urip mung mampir ngombe! Kata saudara-saudara dari Jawa. Hidup bak hanya numpang minum. Hanya sekilas, sekejab, lalu lenyap ke alam pekat gelap.

”Semua buah di taman ini boleh kaumakan, kecuali buah Pohon Pengetahuan karena buah pohon itu akan membukakan matamu tentang yang baik dan yang jahat. Kalau engkau makan buah pohon itu, engkau pasti mati.” (Kejadian 2:17 FAYH)

Peringatan sudah diberikan, sebab akibat dari makan buah itu sudah dijelaskan. Tidak ada yang disembunyikan. Manusia dihadapkan kepada pilihan, sejatinyanya, memang hidup ini pilihan. Dulu kala begitu, sekarang pun prinsipnya masih seperti itu.

Hati yang dahaga, jiwa yang haus, tidak akan merasa puas. Bagi daku, begitu juga tentunya bagi dikau, tidak akan berhenti bertanya. Mengapakah kisah yang sebegitu substansial bagi keberadaan daku dan milyaran nasib manusia kelak hanya dijelaskan dengan begitu super singkat?

Ataukah daku yang tidak lagi dapat melihat, apa yang tersurat apalagi yang tersirat? Mungkinkah daku sudah kehilangan benang merah atau pun gambar besar dari alur keseluruhan kisah? Entahlah!

“Itu tidak benar!” desis ular itu. “Engkau tidak akan mati! Allah tahu benar bahwa pada saat engkau memakan buah itu, engkau akan menjadi sama seperti Dia karena matamu akan terbuka — engkau akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat!” (Kejadian 3:4,5 FAYH)

Aaahhh! Siapakah tokoh yang begitu getol yang nafsunya tak terbendung untuk mencelakakan manusia? Semua strategi dipakai, taktik licik untuk membumihanguskan manusia dari Taman Sorga. Melenyapkan keberadaan manusia dari Taman Eden.

Dan dan dan Sang Tokoh berhasil..!

Ini mensisakan segudang tanda tanya. Dimanakah Sang Pencipta ketika Hawa digoda? Tahukah DIA bahwa manusia akan tergoda? Mengapa DIA rela rencana-NYA berantakan, bak layu sebelum berkembang? Mengapakah di hadapan manusia, DIA layaknya tidak berdaya?

Apapun awal dan akhir cerita, keabadian telah meninggalkan manusia. Taman Sorga telah lenyap sejak dulu kala. Daku dan dikau sejak itu hidup dalam dunia, alam sementara. Puan dan Tuan: selamat datang di alam fana! Inilah pilihan jalan hidup kita semua. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments