Tanpa disadari, sepertinya itu muncul sendiri, diterima sebagai hal yang sangat alami. Tidak ada paksaan, memang dari dalam diri setiap insan muncul yang demikian. Perasaan adanya orang-orang khusus yang dapat meraba dunia yang tidak kelihatan. Menerawang perkara apa yang akan terjadi di depan. Seakan-akan mereka mahkluk spesial yang dapat memahami tanda-tanda alam.
Dalam situasi tak menentu, ucapan mereka dianggap sebagai mantra yang jitu. Dalam kebingungan, petuah mereka dianggap sebagai petunjuk jalan. Dalam ketidakberdayaan, kehadiran mereka sangatlah diharapkan. Dari urusan kelahiran, masalah jodoh, hingga kematian pun mereka tidak bisa dilewatkan.
Mereka termasuk ke dalam katagori orang pinter. Kelompok yang berbeda dengan orang kebanyakan. Golongan yang layaknya dapat mengendus dengan indra ke enam. Walau teknologi sudah demikian maju, namun dalam hal-hal tertentu tetap saja nasihatnya ditunggu.
Sejarah iman umat percaya, sejatinya, tidak terlepas dari pola kaum istimewa. Elite rohani sebagai wakil Tuhan di dunia. Ini bermula dari purbakala, jauh sebelum nenek moyang suku Karo datang ke pulau Sumatera. Mungkin juga suku Jawa belum ada, ribuan tahun lalu di padang belantara.
Apabila berangkat, Kemah Suci harus dibongkar oleh orang Lewi, dan apabila berkemah, Kemah Suci harus dipasang oleh mereka; sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati. (Bilangan 1:51)
Sang Pencipta melalui Musa, mengkhususkan suku Lewi sebagai satu-satunya golongan yang kerjanya hanyalah yang berkaitan dengan ritual agama. Siang malam, setiap hari, 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, tak kenal henti, fokus hidup hanya menyangkut urusan ibadah di tempat suci.
Suku Lewi, kaum imam, wakil umat dalam menghadap Tuhan. Ini tanggungjawab yang bukan ringan. Karena itu mereka dibebastugaskan dari kewajiban mencari makan. Pemenuhan kebutuhan keseharaian hanya berharap kepada kemurahan Tuhan, melalui kewajiban jema’at memberi perpuluhan.
Sedangkan ke 11 suku lainnya, menangani urusan sandang pangan dan tentu saja menyandang pedang. Dalam hal spiritual, mereka awam. Kaum awam, mereka yang banting tulang mencari nafkah seharian. Tidak bekerja, tidak makan.
Kaum imam dan kaum awam, pembagian gaya hidup dalam keseharaian. Golongan yang satu spesialisasi mewakil umat di hadapan Tuhan, yang lain mencari nafkah seharian. Ke dua kelompok saling melengkapi, saling membutuhkan. Dua jenis pekerjaan harus dilakukan dengan habis-habisan.
Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” (Keluaran 19:6)
Sedari mula, Allah berkehendak semua umat menjadi imam, wakil Tuhan di dunia. Sebagai perantara sorga dan dunia. Gaya hidup bisa berbeda, namun tujuan keberadaan di dunia sama. Karena di tempat yang berbeda-beda itulah Kerajaan-NYA perlu dapat dirasa.
Jadi entah daku mengkhususkan diri sebagai ‘hamba Tuhan’. Atau dikau larut menggeluti dunia IT, lulusan perguruan tinggi. Atau mungkin hanya seorang pramu niaga. Pakar penyakit langka. Maupun sekadar ibu rumahtangga. Semuanya berperan sebagai imam dalam kehidupan nyata tepat di mana daku dan dikau berada.
Gaya hiduplah yang berbeda karena pekerjaan tidak sama. Apapun mata pencaharian, status di hadapan-NYA tetap sama. Di dalam perluasan Kerajaan-NYA, semua berharga, tidak ada yang tidak berguna. Bisa saja daku anggap diri sebagai pelayan Tuhan atau dikau merasa awam dengan perkara kerohanian, daku dan dikau itu setara, saudara bersaudara.
Namun, mengapakah ada rasa bersalah yang menahun? Tuduhan terus menerus berkesinambungan, terjerat dalam cara pandang sekuler vs rohani. Akhirnya memaksakan diri, terlibat kegiatan yang dianggap suci. Sungguh capek hidup seperti ini. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |
Photo by Nacho Arteaga on Unsplash




