Beberapa bulan terakhir ini manusia dipaksa untuk mandiri, kembali diajari mengatur diri sendiri. Jika datang penyakit, hampir-hampir tidak berguna menjerit. Kepada siapa minta tolong, jika tetangga pun was-was si virus bisa-bisa nyelonong. Begitu tragis era ini, seakan-akan kalau bisa pemakaman diri pun harus diurus sendiri.
Itu tidak terkecuali di dunia rohani. Masing-masing tentukan sendiri. Apa dan bagaimana nieh, sila itu sekarang sekehendak hati. Budaya, tradisi, dan kebiasaan ibadah sudah hampir setahun angkat kaki. Tidak ada lagi norma-norma yang selama ini mengawasi. Tuntutan tradisi yang jika tidak dituruti, timbul rasa bersalah di hati. Nilai-nilai budaya ini bak sudah tidak peduli. Masa-masa ini, tinggallah daku dan dikau sendiri.
Setiap umat, masing-masing jema’at, dipaksa pakai akal sehat. Jika kebiasaan yang belasan abad, itu tidak lagi mengikat, sila putuskan sendiri bagaimana caranya beribadat. Jangan tunggu keputusan para imam, bukankah semuanya secara rohani lagi demam? Kurang berguna, tengok kiri atau pun kanan. Bukankah semua juga lagi dalam ketidakpastian?
Bagaimanakah, kalau sejatinya, dikaulah si imam?
’We have no temples and no altars.’ (Minucius Felix, apolegetika Kristen abad ke tiga).
Bagaimanakah ibadah dilaksanakan tanpa bangunan? Bagaimana fungsi imam dijalankan, kalau tidak ada mimbar di depan? Siapakah yang akan memimpin doa syafaat, memanjatkan permohonan kesembuhan bagi jema’at yang tidak sehat?
Bagaimanakah prosesi ibadat diselenggarakan, jika sudah tidak ada lagi imam yang menyalakan kemenyan? Di kemanakan perpuluhan, kalau para imam dilarang memimpin kebaktian? Jika di hari yang dikeramatkan, tidak lagi diizinkan mengadakan kebaktian. Bukankah akan terjadi kebingungan karena fungsi para imam ditiadakan?
Bagaimanakah, kalau sejatinya, dikaulah si imam?
Iman dari Nasaret ini bermula dari jalanan. Itu terus berkembang di luar bangunan. Apakah saat-saat seperti sekarang ini, itu kembali menjadi kenyataan? Jema’at didorong sendiri-sendiri memikirkan kemungkinan ibadah tanpa imam di depan. Tanpa bangunan, tanpa urut-urutan, dan tanpa pengawasan.
Bagaimanakah, kalau sejatinya, dikaulah si imam?
Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya — dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, (Wahyu 1:6)
Begitulah iman tanpa bangunan. Tanpa ada altar di depan. Tanpa ada aturan-aturan penyembahan. Sesungguhnya daku dan dikau itu semua berfungsi sebagai imam. Perantara antara Bapa dengan sesama insan. Imam-imam yang langsung membakar kemenyan di hadapan Tuhan. Semuanya imam, tidak pandang apapun jenis pekerjaan.
Bisa jadi dari segi aturan pajak negara, daku digolongkan sebagai kelompok pekerja di bidang penasihat spiritual sehingga teranggap golongan pekerja kerohanian. Boleh-boleh saja dikelompokkan sebagai karyawan, karena dikau bekerja tak kenal siang malam untuk turut meringankan penderitaan mereka yang disapa si virus tidak kelihatan. Ataupun dirasa membosankan, karena dikau bekerja di dapur hanya terus menyiapkan makanan.
Bagaimanakah, kalau sejatinya, dikaulah si imam?
Tidak peduli apa yang dikerjakan, di hadapan Tuhan tidak ada perbedaan. Inilah iman jalanan. Iman tidak mengenal seolah-olah ada pekejaaan yang dinomorsatukan. Semuanya berfungsi sebagai imam. Perantara antara dunia fisik dengan dunia yang tidak kelihatan. Penghubung keputusasaan dengan adanya harapan.
Dengan demikian, maka para imam akan berada tepat di segala sisi kehidupan. Altar dan kebaktian, sekarang itu pas berada di tengah-tengah hiruk pikuknya hidup keseharian. Kalau begitu, maka hadirat-Nya dengan mudah dapat ditemui oleh mereka yang perlu. Segampang bertemu dengan puan dan tuan, karena semua telah menjadi imam. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Photo by EVERSON DE SOUZA on Unsplash




