Markus 10:43-44
Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
Kepemimpinan sering dikaitkan dengan power (kuasa). Pemimpin diidentikkan dengan orang yang memiliki otoritas untuk mengendalikan sesuatu.
Kuasa didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi. Hasil dari kekuasaan sering tak lebih dari ambisi untuk mengejar posisi.
Tuhan Yesus tidak pernah meniadakan kuasa bahkan Dia adalah Sumber Kuasa itu sendiri. Dialah Pemimpin yang sejati. Hanya saja, Yesus memutarbalikkan konsep dan aplikasi kuasa.
Tuhan Yesus menekankan bukan pada kuasa seorang pemimpin, tetapi kepada kualitas seorang pemimpin. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kerajaan-Nya terdiri dari orang-orang atau individu yang saling melayani satu sama lain (Galatia 5:13).
Seorang pemimpin adalah seorang pelayan. Alkitab menekankan arti seorang pemimpin sebagai pelayan atau hamba. Allah menyebut, “Musa, hambaKu”.
Pelayan berasal dari akar kata Yunani “doulos” yang artinya seseorang di bawah otoritas yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa seorang hamba rela mengambil tempat terendah dan bertahan mengalami kesulitan dan penderitaan karena pelayanannya.
Murid-murid Yesus pernah meributkan siapa yang terhebat diantara mereka. Namun Yesus berkata bahwa Dia hendak menuju ke jalan salib menyerahkan diri-Nya sebagai puncak pelayananNya! Dalam hal ini Yesus mengajarkan kepemimpinan yang sejati.
Bagi yang ingin di depan haruslah menjadi yang paling belakang.Yang ingin menjadi pemimpin, harus menjadi hamba dan di situlah letak kehormatan pemimpin.
Pemimpin berlandaskan Alkitab adalah seorang yang mengasihi dan memperhatikan sesama manusia, namun manusia bukan tuan kita… Kristuslah Tuan kita.
Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Kiana Bosman on Unsplash




