Kita Adalah Orang Berhutang

Viewed : 1,116 views

ROMA 8:12
Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.

Ada seorang yang memiliki utang sangat besar. Utang tersebut tidak dapat dibayar lagi. Sebab itu dia harus mempertanggungjawabkan utangnya lewat pengadilan.

Pengadilan memutuskan orang tersebut dihukum. Dia akan dibebaskan jika utangnya sudah lunas dibayar. Bila tidak diselesaikan, maka dia akan terus mendekam di lembaga pemasyarakatan..

Melihat utangnya yang begitu besar, tidak mungkin lagi rasanya dia akan dapat bebas. Akan tetapi ada seseorang entah dari mana yang bermurah hati rela menjual seluruh miliknya. Uang yang diperoleh dari penjualan hartanya akan dipakai melunasi utang orang yang ditahan di penjara itu.

Orang yang baik hati tersebut menghabiskan hartanya demi orang yang dihukum di penjara. Setelah diselesaikan utang piutang tersebut, orang itu dibebaskan.

Suatu hari orang yang telah melunasi utang itu mengunjungi orang yang telah dibebaskan tersebut. Kira-kira bagaimana seharusnya sikap orang yang telah keluar dari penjara terhadap sang dermawan yang baik hati itu?

Kisah di atas agaknya terlalu ekstrim. Rasanya tidak ada orang sebaik itu yang rela dari status kaya menjadi miskin demi seseorang berutang. Namun begitulah gambaran Kristus. Bahkan kisah itu terlalu sederhana dan terlalu kecil bila dibandingkan dengan pengorbanan Kristus bagi manusia.

Kristus yang adalah Allah Penguasa Surga turun ke dunia menjadi miskin demi kita. Yesus yang selayaknya dilayani para malaikat di Surga datang ke dunia menjadi pelayan. Yesus yang mulia menjadi miskin dan hina di dunia.

Yesus yang menjadi Raja di Surga datang ke dunia dan mati terhina di kayu salib. Yesus Kristus datang dari Surga turun ke dunia melewati jarak dan nilai yang tak berhingga jaraknya.. Dia menghampakan diri-Nya dari status memiliki segala sesuatu menjadi seolah tak punya apa-apa.

Semua yang Dia lakukan adalah demi kita. Karena itu, apa yang patut kita lakukan dan perbuat bagi-Nya?

Sesungguhnya tidak ada yang pantas yang dapat kita beri sebagai balasan kasih-Nya. Apapun yang kita lakukan terlalu kecil dan tak berati dibandingkan dengan apa yang telah Dia berikan.

Karena itu marilah kita jadikan Dia sebagai Raja untuk merajai hati kita. Jangan pernah merasa layak di hadapan-Nya. Itu artinya kita harus memiliki hati seorang hamba.

Perhambakanlah diri kita kepada Kristus yang telah terlebih dahulu memperhambakan diriNya untuk kita.

Selamat Hari Minggu.
Selamat beribadah.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Alice Pasqual on Unsplash

Comments

comments