309. Disrupsi

Viewed : 798 views

Satu tahun lagi sudah lewat, hidup laksana uap. Sekilas terlihat, lalu segera buru-buru lenyap. Semua juga akan ditinggal pergi, tidak ada yang langgeng di bawah matahari. Fakta pahit ini akan menimpa dikau dan daku, barangkali dikau siap ataupun daku ragu-ragu. Waktu terus laju, jarum arloji terus berputar tanpa dapat menunggu.

Entah mengapa, daku tidak tahu. Pas pula daku dan dikau ada di masa-masa yang belum pernah tercatat dalam sejarah. Apakah ini suatu keberuntungan ataukah itu nasib sial belaka? Hidup di era perubahan yang begitu dahsyat dalam peradaban. Menyaksikan dan mengalami sendiri, loncatan teknologi dan kebingungan di bidang rohani.

Masihkah ingat di awal-awal tahun 90an? Saat itu, betapa bangganya punya alamat email dan dapat terhubung ke dunia maya. Lalu, siapa yang bisa lupa? Ketika telpon genggam BlackBerry dan Nokia menguasai dunia. Mulailah bermunculan platform media sosial seperti YouTube dan sejenisnya.

Perkembangan tahap selanjut tidak tanggung-tanggung, dunia maya menjadi sumber pendapatan. Pernahkah dibayangkan perusahaan transportasi namun tidak punya kendaraan? Bisnis penginapan global, akan tetapi tidak memiliki aset 1 kamar hotel pun. Dapat menyediakan semua keperluan, mau beli apapun dapat disediakan, tetapi tidak punya barang. Bisnis besar ini hanya sejauh ujung jari!

Kemajuan tahap akhir mungkin yang paling mengerikan. Kemajuan teknologi robot dikombinasi dengan AI (Artificial Intelligence), serta puncak cara berkomunikasi dari 2 dimensi ke metaverse (3 dimensi). Lawan bicara seakan-akan nyata hadir secara fisik di hadapan.

Bahkan ada kemungkinan menggantikan peran hamba Tuhan dalam melaksanakan kebaktian mingguan ataupun sebagai imam dalam shalat jumat. Transhuman, manusia setengah robot yang dapat melaksanakan seluruh jenis ritual hingga dapat menghafal seluruh kitab suci agama. Piawai mengucapkan doa Bapa Kami sekaligus juga merdu melantunkan surah Al Fateha, doa bagi mereka yang telah tiada!

Dan selama 2 tahun ini si Corona memaksa masyarakat global untuk melek dunia maya. Sekarang seoalah-olah balita hingga dewasa, semua sudah mampu akses ke cyberspace. Bahkan yang tak terpikirkan menjadi kenyataan, ibadah pun dilakukan dengan bantuan teknologi virtual yang seakan-akan nyata namun maya.

Semua ini sudah dan sedang terjadi di depan mata. Disrupsi dalam dunia keagamaan yang belum pernah dialami sebelumnya. Pas pula dikau dan daku ada di masa-masa yang tiada duanya. Perubahan yang akan mengoncangkan kebiasaan, ritual, bahkan pemahaman doktrin yang selama ini diterima begitu saja.

Bisa jadi akan lunturnya sekat-sekat keagamaan. Dengan akses tak terbatas, siapapun dapat mempelajarai keyakinan dari agama lain dengan bebas. Tak dapat dihalangi, dikau dan daku dapat saja mempelajari bahkan isu doktrin yang selama ini tersembunyi, yang kemungkinan itu tidak diajarkan di jurusan teologi.

Dikau dapat saja ‘hadir’ dalam ibadah agama lain sekaligus mendengarkan ulasan keyakinan yang bersangkutan. Dan begitulah sebaliknya, ini betul-betul dunia yang tanpa aturan. Semua tersedia, pilih sesuai selera.

Ataupun suatu saat nanti, bisa saja dikau secara formal penganut agama F namun mengimani keyakinan X. Lain kali, tidak jelas penganut agama apa dan keyakinan yang mana. Ataukah akan bermunculan bentuk yang baru? Mungkinkah stigma sesat pada waktu itu karena tidak seagama, akan dianggap kelakar belaka?

Ini era disrupsi keyakinan, kegaduhan dalam menjalankan iman. Tidak ada pilihan lain, hadapi apa yang di depan. Perubahan memang kejam, yang bertahan dengan romatisme masa silam dipastikan akan tenggelam. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Photo by Eden Constantino on Unsplash

Comments

comments