Aaahhh, berlalu juga tahun kemalangan. Tahun malapeta yang belum pernah terjadi dalam peradaban. Annus horribilis, year of misfortune, tahun sialan! Tahun yang mengerikan. Kekacauan yang menimpa seluruh aspek kehidupan. Keganasan yang tak berprikemanusian. Gelombang bencana yang tidak mengenal belas kasihan. Wabah yang tidak hanya menimpa kawasan regional, akan tetapi juga global.
Di mana-mana terdengar isak tangis. Sesungguhnya tidak ada yang kebal, semua dapat ditusuk ‘si keris.’ Tetangga yang sebelah kiri demikian juga tak terkecuali yang kanan menjerit-jerit histeris. Tak memilah, liar, buas, semua dilibas tulah. Seakan-akan tidak puas-puas, semua dijangkiti hingga habis. Tahun sadis! Tadinya anggap itu tahun hoki, tidak tahunya dalam sekejab berubah menjadi minggu-minggu tragis!
Berharap masa-masa horribilis itu hanya di dalam mimpi. Bunga tidur yang segera akan sirna menjelang terbitnya mentari. Tidak ada yang menduga kengerian itu bertahan bak abadi. Bulan-bulan dalam tahun boleh dilewati. Apa daya, kesialan itu masih semangat terus menggandakan diri.
Daku tidak pernah membayangkan ada dalam masa horribilis ini. Dapat diduga, dikau pun tentu sama, tidak berharap hidup di era pandemi. Sejatinya, tidak ada seorang pun yang menginginkan berada tepat dalam kurun waktu kala kematian begitu nyata ada di depan mata. Itu bukan hanya ancaman belaka. Penggali kuburan pun sudah lelah, menyerah, tak sanggup lagi menguburkan korban si Corona.
Hidup di masa kenahasan bukanlah pilihan. Daku, dikau, dan bahkan sekitar 7,5 milyar yang lainnya di seluruh dunia tinggal menerima kenyataan. Semuanya ditimpa kemalangan. Tidak ada guna lagi untuk berdiskusi alternatif kemungkinan. Ataupun mengkhayalkan hidup di masa silam sebelum ada si virus yang menyesakkan. Karena bukan bagian kita untuk memutuskan untuk hidup di masa ketidakberuntungan.
Bagian kita adalah menentukan kaitan daku dan dikau dengan masa-masa ketidaknyamanan. Karena tidak semua generasi ada kesempatan mengalami era perubahan total kebiasaan. Sila dikau bersikap jika semua yang dulu-dulu itu sudah dianggap suatu kebenaran, namun sekarang dipertanyakan. Inilah hutang sejarah bagi dikau dan daku yang akan diwariskan ke generasi kemudian. Puluhan tahun yang akan datang, siapa tahu, sikapmu itu akan dipandang!
Tentu daku bukanlah superman yang bertanggungjawab merubah semua keyakinan. Cukuplah dikau putuskan apa yang dapat dilakukan. Tidak lebih tidak berlebihan, lakukan sesuai kemampuan. Jika ritual ibadah pun ditata ulang oleh si virus yang tidak kelihatan. Golongan elite rohaniwan saja gelagapan menghadapi perubahan. Maka, tentukanlah sikap sendiri dalam mengekpresikan iman.
Moga dengan begitu, generasi selanjutnya akan lebih jitu. Mereka akan lebih mudah terlepas dari beban yang sudah dianggap itu kebenaran sejak dari dahulu. Keharusan mengikuti aturan-aturan yang memberatkan. Beban berlebihan yang tidak ada hubungannya dengan asas dasar keyakinan. Semoga belenggu masa lalu, tidak diteruskan dengan tidak memandang bulu.
‘Apakah daku terpilih untuk hidup dalam bulan-bulan bencana?’ Kok ya ini terjadi pas dan tepat di masa-masa daku ada. Sepertinya itu direncanakan sedemikian rupa. Seolah-olah diatur-atur agar daku sudah cukup dewasa, barulah si Corona datang menyapa.
’Apakah dikau juga terpilih?’ Itu pertanyaan yang sahih, namun jawabannya sulit. Yang pasti, dikau ada bukan karena sukses berusaha. Tanpa dikau kerja apa-apa, tiba-tiba sadar sudah ada dalam bulan-bulan petaka. Begitu juga dengan 7,5 milyar yang lainnya. Tidak ada seorang pun yang menduga akan bernapas dengan menghirup udara yang bertebaran mara bahaya.
Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu. (Ester 4:14)
Singkatnya, daku dan dikau sudah terpilih. Bukankah tidak ada alternatif lain? Mungkinkah pengalaman hidupmulah yang membuat dikau ada di perioda di mana hati semua orang perih? Itu sebagaimana ratu Ester ribuan tahun lalu tiba-tiba ada di istana Ahasyweros dengan tugas yang bukan main-main. Bisa jadi, dikau pun sudah dianggap cukup bijak menghadapi perubahan di segala sisi, terutama memilah mana dasar iman yang esensi.
Dalam manifestasi iman, ayo kembali ke hal-hal fundamental. Hendaknya janganlah menghabiskan dana dan tenaga ke perkara yang tidak esensial. Apalagi jiwamu terperangkap ke aturan-aturan ritual. Marilah daku dan dikau kembali ke Buku Manual.
Dengan demikian, terlepaslah iman jalanan dari kurungan. Sang Tunawisma akhirnya dapat ditemukan oleh orang kebanyakan. Itulah keinginan-Nya dari zaman ke zaman. Mudah DIA ditemukan di sepanjang jalan. Terbuka lebarlah pintu peluang bagi semua insan, dari pemeluk semua keyakinan untuk bertemu DIA dari berbagai jalan. Maka journey mengenal Mesias ke depan akan jauh lebih mengasyikkan dan mendebarkan. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Image by Gerd Altmann from Pixabay




