Angin pitung beliung datang, semua ditendang. Ritual agama yang sudah puluhan abad pun ikut tumbang. Layaknya di permainan lego, balok-balok berantakan dilibas hingga terbang. Sekarang, itu berjatuhan tidak karuan di tempat sembarang. Pandemi tidak ada belas kasihan, semua diperlakukan sewenang-wenang. Akibatnya, bingunglah semua orang.
Jema’at Tuhan ada di persimpangan jalan. Ini perioda yang unik dalam sejarah kekristenan. Setiap orang dihadapkan kepada pilihan untuk kembali menyusun balok-balok itu menjadi bangunan. Tidak bermanfaat menoleh ke belakang, karena yang dudu-dulu sudah terbukti tidak bertahan.
Adalah suatu godaan untuk kembali kepada kenangan manis di masa silam. Masa-masa lalu yang indah memang sulit sekali dilupakan. Apalagi kalau waktu itu daku dan dikau ada peran yang digadang-gadang dan dielu-elukan umat Tuhan. Seakan-akan kehadiranmulah diyakini kondusif membuat jema’at bertumbuh dalam iman. Oleh sebab itulah kehadiranmu selalu dirindukan.
Apa daya, masa silam tinggal kenangan. Itu telah hilang ditelan si virus yang tidak kelihatan. Memang juga tidak ada yang melarang, jika daku dan dikau hendak berpaling ke kiri maupun ke kanan, meniru apa yang dilakukan kebanyakan orang. Namun, bukankah semua juga berada dalam kebingungan? Semua juga tengah mencoba-coba menyusun kembali balok yang berantakan.
Jika hal-hal yang di belakang sudah sudah tidak menjadi pilihan. Sedangkan yang di kiri dan kanan pun tidak dapat diharapkan. Mungkinkah maju ke depanlah tinggal satu-satunya jalan? Daku dan dikau melangkah maju melewati reruntuhan. Berjalanlah perlahan-lahan agar tidak tersandung balok yang lancip tajam. Kalau jalan gegabah dikau dapat saja menderita luka dalam. Karena itu waspada, janganlah terlena yang di kiri mau pun yang di kanan. Dan ini pilihan yang dikau akan rasa jalan sendirian.
Bulan tahun ke depan adalah perioda ketidakpastian. Era turbulensi dalam keyakinan. Masa depan yang tidak dapat diperkirakan.
Namun juga bisa sebaliknya. Mungkinkah masa-masa ini adalah waktu yang dinanti-nantikan? Tempo yang amat jarang terjadi dalam peradaban. Masa-masa kebangkitan iman. Karena tidak ada lagi yang dapat diharapkan, tidak ada lagi pilihan, selain kembali milihat Firman Tuhan.
Walau tidak mudah, namun setiap langkah ke depan akan sangat esensial. Dalam kehidupan setiap insan, ini pilihan yang sangat fundamental. Bagi daku dan dikau ini waktu yang krusial.
Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru…: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. (Yeremia 31:31,33)
Yes! Inilah waktunya. Walau tamu si Corona belum juga pulang-pulang, namun waktu itu sudah menjelang. A new horizon, fajar baru sudah datang. Babak baru dalam menyembah Tuhan. Perjanjian baru karena yang lama fungsinya sudah tidak lagi diperlukan.
Sahabat! Dalam perkara berelasi dengan Tuhan, sejatinya, itu menyangkut hati dan batin. Bukan lagi aturan, ketetapan, maupun ritual. Sang Pencipta mengikatkan diri-Nya dalam tataran hati dan jiwa. Itulah hubungan utuh dan menyeluruh.
Bukankah ada kecenderungan dengan yang lama? Pengalaman berelasi dengan DIA lebih terkesan sebagai kewajiban, tuntutan ketimbang merasa itu sebagai hak istimewa. Akibatnya, relasi semacam itu selalu terasa dituntut untuk berbuat lebi, lebih, dan lebih lagi.
Fajar baru! Moga hidup beriman jema’at bergairah kembali. Karena sadar, DIA tidak bisa terlepas lagi dari manusia. Lagak-lagaknya, DIA merasa sepi kalau engkau gak ada. Itulah hak istimewa. Namun, daku lebih sering cenderung ke yang lama! Moga dikau berbeda. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Photo by Dawid Zawiła on Unsplash




