Siapakah kelak akan percaya dengan pengalaman ini? Jika hidup sulit di era pandemi disampaikan ke generasi nanti, dapatkah mereka mengerti situasi ngeri yang dialami setiap hari? Kalau untuk bernapas pun orang berlomba mencari tabung oksigen ke sana ke mari, malahan untuk dikubur pun jenazah harus rela antri.
Awan kelam menaungi setiap insan, setiap orang harap-harap cemas menunggu giliran. Kekhawatiran menghantui setiap orang, semua dalam sikap siap-siap berperang. Musuh utama setiap individu, ya kegelisahan yang bercokol dalam kalbu dan musuh tak kelihatan yang gentayangan bak hantu.
Isak duka terdengar dari tetangga, akhirnya itu juga menghampiri keluarga. Teman akrab terlebih dulu sudah tiada, berita bertubi-tubi infokan bahwa handaitolan juga sudah menuju alam baka. Semua terjadi begitu saja, tanpa upacara, tidak ada suara duka, apalagi khotbah bapak Pendeta. Seakan-akan tidak percaya bahwa kawan sudah tiada, namun semua terjadi di depan mata.
Angkat topi, bagi garda terdepan dalam peperangan ini. Tenaga kesehatan yang berkorban jiwa raga, menolong sesama yang disapa si Corona. Rumah sakit penuh, penderita mengeluh, dan tenaga medis sudah hampir jenuh. Mereka kelelahan, penderita tak henti-henti berdatangan. Obat pun hilang dari pasaran.
Walau maut begitu nyata, ada di mana-mana, sohib sudah ada yang ditimpa. Namun, ada juga sebagian yang masih tidak percaya, kalau si virus itu benar-benar ada. Merasa itu hanya desas-desus persengkokolan, konspirasi bisnis agar laku dagangan. Bagi daku dan mungkin juga dikau, kaum awam, situasi ini membingungkan.
Ini kisah khayalankah atau fakta di lapangan?
Yang pasti, entah dikau menerima wabah ini sebagai pandemi ataupun plandemi, baik dikau cendia nan kaya ataupun dari golongan masyarakat sederhana yang biasa-biasa saja, si Corona tidak peduli. Si virus merubah segala-galanya, khususnya bagaimana umat menjalankan agamanya.
Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir. (Keluaran 12:41)
Serupa umat pilihan di tanah Mesir. Ratusan tahun berada dalam penindasan, tidak ada kebebasan. Sebagai budak, tunduk patuh kepada aturan kerajaan. Tiba-tiba setelah lebih dari 400 tahun, mereka bebas merdeka dari aturan Firaun. Ketakutan akan ancaman, seketika hilang dari kehidupan. Musa dengan gagah perkasa memimpin di depan, memasuki masa depan cerah terbentang luas di hadapan.
Kebalikkannya! Di masa Covid-19 menggila, justru pemerintahlah yang melepaskan jema’at dari ritual kebiasaan. Sirna seketika, aturan yang telah mengekang umat selama sekitar 1700 tahunan. Kelaziman dalam menyembah Tuhan yang sudah begitu lama, sekarang itu dilupakan.
Bedanya! Tidak ada lagi tokoh sekaliber Musa yang tampil di muka. Baik elite roahni maupun jema’at biasa, semuanya sama saja, bingung tidak tahu harus bagaimana. Tidak siap menghadapi era bebas merdeka dalam menyembah Tuhan.
Spiritual journey, perjalanan rohani ini terbentang luas di depan. Walau terjadi secara global, menimpa sendi-sendi keyakinan yang fundamental, namun keputusan diserahkan kepada individual. Tidak ada lagi yang dapat dijadikan panutan, ini perjalanan spiritual perorangan.
Walau si Corona belum genap tampil 2 tahun, namun perjalanan ini sudah terasa panjang. Terasa gamang, berjalan di era bebas merdeka tidak ada patokan. Semua kebiasaan peribadatan telah hilang, bentuk yang baru belum juga datang.
Bagaimanakah menuturkan apa yang terjadi, agar keturunan berikutnya dapat mengerti? Bahwa ini bukanlah perkara pandemi ataupun plandemi, apalagi suatu konspirasi. Bagi daku dan dikau, ini suatu perjalanan rohani.
Sebagaimana umat pilihan di Mesir, jema’at secara global diusir, untuk tinggalkan belenggu kelaziman ritual dalam menyembah Tuhan. Moga kelak ada yang dapat, menangkap maksud hidup di era yang penat. (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Image by CCXpistiavos from Pixabay




