Sebelumnya! Banyak yang mengira-ngira. Tahun 2020 akan menjadi tahun penuh berkah. Bisnis optimis akan melimpah. Bak dalam pertanian, itu tahun subur. Mengkhayal itu akan menjadi bulan-bulan makmur. Angka ‘hoki’ berharap akan dapat limpahan nasib mujur. Jujur! Banyak merasa itu akan menjadi tahun penuh emas, kemenyan, dan mur. Akibatnya banyak yang terlanjur.
Cincin emas sudah melingkar di jari tangan. Undangan siap dikirim kepada handaitolan. Tiket sudah di beli untuk jalan-jalan. ’Business planning’ yang sangat menjanjikan. Promosi jabatan yang dinanti-nantikan. Gaji di depan mata segera akan dinaikkan. Akad kridit rumah segera akan menjadi kenyataan. Dan segudang impian.
Apa lacur. Semua khayalan hancur lebur! Mimpi indah sirna terkubur. Rasa sesaknya bak bernapas dalam lumpur. Cita-cita semuanya hilang kabur. Bulan-bulan suram. Masa depan buram. Semua harapan karam. Tenggelam. Semua terdiam. Merenungkan nasib dalam-dalam.
Semua lapisan masyarakat terkena dampak. Dari lapisan mujair hingga kelas kakap. Masyarakat global tersedak-sedak. Untuk bisa tetap bertahan. Pola hidup harus segera disesuaikan. Walau itu tidak nyaman. Tak rela dilakukan. Namun, tidak bisa menolak karena diharuskan. Untuk tunduk ikut lenggang lenggok menari seritme keinginan. Si wabah yang mematikan.
Mungkinkah memang ada kebiasaan? Rutinitas yang harus disesuaikan. Ataupun kepercayaan yang kembali harus dipertanyakan. Dan ini berlaku bagi setiap insan. Dari dikau yang beriman. Hingga mereka yang tidak percaya ada Tuhan. Tidak ada yang dikecualikan. Semua didesak berpikir ulang tentang kehidupan? Tafakur menemukan arti keberadaan.
Mungkinkah Sang Kuasa tengah ingin bicara? Berkomunikasi lewat peristiwa-peristiwa. Melalui tanda-tanda alam yang begitu nyata. Rindu tegor sapa. Dengan dikau kekasih-Nya. Sudah begitu lama tidak duduk berdua. Saling curhat suka duka. Bercengkrama. Bak sahabat duduk bicara muka dengan muka. Layaknya teman yang sudah lama tidak jumpa.
Sudah begitu lama Adinda tidak peduli. DIA merasa tidak dianggap lagi. DIA sering salah dimengerti. Diperlakukan sesuka hati. Itu sakit sekali.
Cinta daku dan dikau itu ibarat datang dan pergi. Romantika yang bergantung kepada situasi. Jatuh bangun ikuti emosi. Suasana hati yang tidak pasti. Jauh dari tulus nan murni. Fokus diri sendiri. Egois sekali.
Haruslah diakui. Daku dan dikau itu sepenuhnya lebih sering bersandar kepada insting insani. Berjalan seturut kemauan sendiri. Belok kanan atau kiri. Sesuai dengan keinginan badani. Hidup yang mandiri. Hingga datang si Corona ini. Baru sadar tidak dapat jalan sendiri.
Aaahhh! Sang Cinta yang senantiasi mengasihi. Tidaklah DIA sampai hati. Membiarkan Adinda jalan sendiri. Di jalan berkrikil tajam nan berduri. Melewati masa-masa yang tidak pasti. Mungkinkah Dia ingin menawarkan diri? Mendampingi. Dalam perjalanan yang tidak tahu kapan akan berhenti.
Si wabah telah memaksa setiap orang. Ikut suatu journey, perjalanan panjang. Seluruh umat manusia tengah menjadi petualang. Bak di labyrinth ikut rute berputar-putar. Setiap tikungan ada jebakan pintar. Perangkap yang terus lapar. Melahap korban yang kesasar. Daku dan dikau tidak tahu jalan keluar. Berapa lama lagikah semua ini akan kelar? Semua angkat tangan termasuk para pakar.
When God wants to change us, He often takes us on a journey. (Rich Stearns)
Sang Cinta rindu mengubah hati Adinda. Keinginan yang tiada henti-hentinya. Melebihi berkat yang telah disiapkan di sorga (Efesus 1:3). Ataupun agar terlepas dari wabah. Yaitu biar daku dan dikau diubah. Transformasi dari manusia batiniah. Menjadi serupa dengan the Messiah (Roma 8:29).
Mungkinkah itu sebabnya? Daku dan dikau melalui lintasan berliku tak terduga. Ikuti pengalaman yang tiada dua. Perjalanan panjang di bawah ancaman si Corona. Bukankah yang diandalkan selama ini jadi porakporanda. Jaminan masa depan hilang begitu saja. Agar Adinda bertanya-tanya. DIA ada di mana.
Ataukah memang hanya sekelas petualangan labirin? Dan tiada pilihan yang lain. Yang dapat membuat Adinda terdiam. Di jalan diliputi kabut kelam. Bak perjalanan malam-malam. Gelap mencekam. Tidak ada lagi yang dapat diandalkan. Pengalaman pun sudah tidak dapat diharapkan.
Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.” (Bilangan 21:5)
Uuuhhh! Jangan mengeluh. Apalagi jenuh. Kuatkan hati dengan semangat penuh. Perjalanan ini masih jauh. Wajar kalau Adinda gemetar bercucuran peluh. Maut bisa saja akan menyentuh. Ini perjalanan sukar. Cap cai pun terasa tawar. Hidup hambar. Mari jalani dengan sabar.
Bisa jadi lebih berguna. Tidak perlu bertanya. Mengapa datang si Corona. Jalani sambil bertapa. Adakah DIA sedang menyapa. Dengarkan dengan seksama. Moga daku dan dikau menjalani labirin ini tidak sia-sia. Hati peka. Menangkap maksud-Nya untuk Adinda. Semoga! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM |
Image by Gordon Johnson from Pixabay


