Setiap agama ada kebiasaan unik yang merupakan ciri khas dari penganutnya. Umat Kristen sudah terbiasa ibadah di gereja sejak dulu kala. Demikian juga bagi Islam, setiap hari Jumat berduyun-duyunlah umat sholat di masjid ataupun mushola.
Begitu juga dengan semua agama, ada hari-hari istimewa sebagai hari raya. Hari yang dari turun-temurun dikenang sebagi simbol agama, entah itu disambut dengan suasana gembira ataupun duka. Di nusantara, pemerintah pun turut menyambut dengan menetapkan itu sebagai hari libur nasional alias dibebaskan dari keharusan bekerja.
Di setiap agama, ada golongan elite rohani yang bertanggungjawab mengembalakan umat percaya. Untuk sampai termasuk golongan sekelas ahli Taurat ataupun kelompok yang ada hak untuk mengendalikan jama’at, kaum awam harus menaiki beberapa anak tangga yang cukup berat. Ini bak kompetisi jenjang karier rohani antar umat.
Golongan dengan posisi anak tangga tertinggi, mereka seakan berperan sebagai wakil ilahi. Tidak ubahnya sebagai polisi, mereka memastikan jema’at mengikuti semua kebiasaan urutan ibadah sesuai dengan ketetapan liturgi.
Dan tanpa disadari, berlangsung dari generasi ke genarasi, jenjang anak tangga rohani dianggap sebagai tingkat penyerahan hidup kepada Sang Ilahi. Semakin tinggi anak tangga, kaum awam menganggap itu tanda semakin besar pengabdian yang bersangkutan hingga anak tangga tertinggi, sekelas ‘dewa’.
Dan jangan heran, jika ada lingkaran ‘kemuliaan’ pada kepala di lukisan klasik dari mereka yang termasuk kelas dewa. Itu lambang tingkat kekudusan, tingkat pengabdian. Bermunculanlah nama-nama tokoh iman setingkat dewa dalam sejarah. Itu menjadi contoh dan teladan umat mengikut Allah.
Pola kehidupan tokoh itu menjadi rujukan jema’at untuk bertumbuh dalam iman. Kapan mereka berdoa, metoda membaca dan menghafal firman Tuhan, hingga pola diet memberi inspirasi yang berkelanjutan. Oleh generasi berikutnya ternyata itu dapat dirasakan, terbukti bahwa itu dapat memberi pertumbuhan iman. Lantas, pola itu dengan antusias diteruskan ke generasi kemudian.
Hingga sampai pada suatu saat, itu telah berubah menjadi hukum Taurat! Yang melanggar dianggap sesat. Gawat!
Tradition is the living faith of the dead; traditionalism is the dead faith of the living. ( Jaroslav Pelikan)
Kebiasaan dari nama-nama besar dalam deretan tokoh iman di masing-masing denominasi maupun organisasi, patut disyukuri. Cara mereka berdoa hingga taat sampai mati, itu sungguh patut diteladani. Pola liturgi dan pemuridan yang diwariskan, dari dahulu hingga kini, dengan itu sudah banyak umat terberkati.
Tradisi yang ditinggalkan, menjadi panduan jema’at dalam mengikut Tuhan. Ini yang dikatakan, walau mereka sudah tiada, namun iman mereka masih berbicara. Teladan hidup mereka memberi inspirasi bagi setiap generasi umat percaya. Pola kehidupan mereka selalu menjadi sumber kreatifitas dalam mengikut Tuhan.
Sebaliknya, jika kebiasaan mereka dijadikan keharusan. Liturgi menjadi aturan yang dipaksakan. Pola kehidupan mereka menjadi hukum yang diwajibkan. Itu semua sebagai syarat untuk bertumbuh dalam iman. Umat dipaksa untuk mengikuti ekspresi iman seperti mereka lakukan.
Itu artinya, tradisi telah berubah menjadi aturan, traditionalism. Iman yang mati dari umat yang masih hidup. Umat percaya menjadi budak aturan. Aturan yang menjadi kewajiban. Bak hukum Taurat baru yang tidak berubah sepanjang zaman. Bahkan, jema’atlah yang dipaksa menyesuaikan diri dengan kebiasaan tokoh iman.
Masihkah ada umat yang berani mempertanyakan? Apakah kebiasaan itu masih layak dipertahankan? Ataukah semuanya perlu direnovasi habis-habisan? Sila dipertimbangkan terhadap semua kebiasaan yang selama ini sudah dianggap suatu keharusan!
Si virus yang tidak kelihatan, rupa-rupanya cukup jelas mempertontonkan, mana-mana yang perlu disesuaikan. Walau tidak nyaman, moga dikau dan daku jeli melihat semua perkembangan di era ketidakpastian. Semoga! (nsm).
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Wisnu Widjojo on Unsplash




