278. Anak Tangga

Viewed : 539 views

Dalam menjalankan keyakinan, ada aturan yang menjadi pedoman. Setiap keyakinan, ada pantangan yang harus dihindarkan, dan kewajiban yang harus dilakukan. Abai mentaatinya, dianggap membuat gusar Sang Kuasa. Sukses mengikutinya, tersenyumlah Sang Maha Esa.

Aturan tersebut terpelihara dari zaman ke zaman, dan di ujung sana itu dianggap suatu keharusan yang sudahlah demikian. Kewajiban maupun larangan, setelah sekian lama tidak ada lagi yang cuckup lantang mempertanyakan. Umat menerima begitu saja, itu dianggap suatu kebenaran.

Tokoh-tokoh agama-lah yang paling peka melihat itu semuanya. Mata mereka begitu liar, melirik ke kanan ke kiri, hanya untuk memastikan apakah akidah sudah dilakukan umat, dan tidak membiarkan begitu saja jika ada pelanggaran yang dilakukan jema’at.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Lukas 5:30)

Bagi elite rohaniawan, bukan saja bagaimana prosesi sebelum makan (Markus 7: 2), dengan siapa makan pun tak luput dari perhatian. Dan mereka gelisah karena aturan-aturan menjaga kesucian diri, pelan tapi pasti satu-satu dikebiri. Dan Kristus dan murid-murid seolah tidak peduli.

Dalam pandangan keagamaan, sekelas Rabbi, wajar untuk menjauhkan diri dari mereka yang dianggap tidak suci. Walau tidak disebutkan namun diakui, bahwa tingkat religiusitas seseorang dilihat dari siapa teman sehari-hari. Sehingga wajar sekali timbul pertanyaan: ’Mengapa..?’

Tingkat kerohanian seseorang bergantung kesediaan memenuhi tuntutan aturan. Semakin taat melakukan akidah, semakin naik pulalah tingkat kerohanian. Layaknya setiap kemampuan memenuhi kewajiban, tambah lagi satu tingkat naik dalam kedekatan dengan Tuhan.

Bak cara pandang anak tangga. Setiap berhasil melakukan kewajiban, naik lagi satu anak tangga dalam jenjang karier kerohanian. Semakin banyak anak tangga yang dilalui, semakin tinggi posisinya di hadapan Tuhan. Dan kaum tokoh agama dipandang sebagai mereka yang sudah cukup tinggi kedudukan. Wajar mereka punya jabatan dalam persekutuan ataupun peran penting dalam kebaktian.

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. (Matius 23:2,4)

Kaum awam alias jema’at biasa dipandang sebagai mereka yang ada di anak tangga di level bawahan. Dari bawah memandang yang di atas dengan rasa minder tak terucapkan, sementara yang di atas merasa segala ucapannya sama dengan aturan.

Cara pandang ini telah ada di jema’at dari belasan abad yang silam, hingga datangnya si Corona yang mencekam. Semua akidah dibabat habis, sistem anak tangga sirna dikikis. Kewajiban yang sudah dianggap sebagai kebenaran, ramai-ramai jema’at abaikan. Dan mereka di level tinggi tingkat kerohanian jadi gelagapan, jema’at dimerdekakan dari begitu berat beban.

Agama tidak dapat lepas dari berbagai larangan dan kewajiban. Mulai dari keharusan setiap hari baca Firman Tuhan sekaligus dihafalkan, hingga tidak boleh bolong dalam persepuluhan. Walau itu baik dijadikan kebiasaan, namun Kristus lebih tertarik bicara tentang kehidupan.

Dari pada sibuk terus mengamat-amati siapa yang tidak mengikuti aturan. Mendorong sumber daya terkuras hanya memikirkan kebaktian. Membiarkan kaum awam lebih terlibat dalam mengurus kegiatan. Dan akhirnya menjerat umat dalam kotak anak tangga kerohanian.

Lebih berguna bicara kehidupan. Menyapa teman-teman yang berkemalangan. Makan minum dengan handaitolan yang beda keyakinan. Hal-hal itulah yang Kristus lakukan, dan itu membuat gusar elite rohaniawan. Moga daku dan dikau berhikmat tentukan pilihan di era ketidakpastian. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Ricardo Gomez Angel on Unsplash

Comments

comments