128. ’Cinta Semu’

on
Viewed : 968 views

Walau narasinya terasa ‘aneh’, tapi ini bukan legenda. Lakonnya seperti dongeng. Ceriteranya bisa saja tidak logis. Apalagi romantis. Sejatinya, ini kisah nyata. Sejarah asal mula. Semua berawal di Taman Sorga. Selagi belum menjelma Hawa. Ketika Adam sendiri. Saat dia seorang diri. Sepi. Sunyi. Dan, dan, ya dan Allah mengakui! Ada yang ’tidak baik’ dengan hasil ciptaan-Nya (Kejadian 2:18).

Maaf, Allah seakan-akan bangga menunjukkan ada yang tak beres dengan Adam! ’Kesendiriannya.’ Begitukah?

Yes, yes yes! Dia berkata kepada diri-Nya sendiri, ada yang ’tidak baik.’ Dia tahu apa yang kurang. Mengerti hati yang berlobang. Maklum akan kebutuhan hakiki setiap orang. Baik dahulu maupun sekarang.

Namun, Dia diam. Berpangku tangan. Membiarkan Adam sendiri kesepian. Tiada kawan tiada teman. Ditemani hewan. Itupun tak memuaskan. Tetap kesepian.

Manusia itu [Adam] memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia [Adam] tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. (Kejadian 2:20)

’Tidak baik,’ itu Desain Cinta bagi setiap insani. Tanda Cinta yang terpatri di sanubari. Ikatan Cinta bak cincin tunangan dari Sang Ilahi. Itu anugerah yang direncanakan sejak bumi belum jadi. Hingga kini. Selama-lamanya abadi. Akan ada selalu yang ‘tidak baik’ dalam setiap diri.

Sejak halaman-halaman pertama Alkitab. Dari introduksi ceritera. Dari kisah pembuka. Sudah kodratnya. Refleks, serta-merta. Otomatis, spontan. Manusia mencari solusi bagi yang ’tidak baik’ dalam diri.

Adam sibuk memberi. Julukan setiap hewani. Semoga itu sanggup menutup lobang di hati. Aaahhh, ternyata itu cinta semu. Cinta yang tak cukup berarti. Adam butuh cinta sejati. Cinta Ilahi. Cinta yang sanggup menutup lobang di hati.

Demikianlah kisah usaha mencari cinta sejati. Penutup kesepian tak terpri. Itu ceritera di Taman Sorgawi. Begitupun kini. Itulah kodrat manusiawi. Tak ada yang terkecuali. Cinta sejati diganti dengan cinta semu. Cinta palsu. Cinta gadungan. Cinta akal-akalan. Hati tetap kosong tak terisi.

‘The main obstacle to love for God is service for God’ (Henri Nouwen: ’Kendala utama mencintai Tuhan adalah melayani-Nya.’)

Ups! Aaahhh, bingung. Maksudnya?

Sahabat. Bisa jadi, kepakaran dalam teologi sebagai pengganti cinta sejati. Begitu mencintai kitab suci melebihi Allah sendiri. Sedemikian tergila-gila kepada ekpresi ibadah pujian dan penyembahan melebihi keterpersonaan kepada Allah. Bisa begitu semangat, berdebat (berapologetika) demi membela Tuhan. Jerih payah melayani Tuhan. Berkhotbah menceriterakan Tuhan. Menulis tentang Tuhan. Belajar dan sekolah tinggi untuk belajar tentang Tuhan. Ada kemungkinan semangat itu melebihi cinta kita kepada Sang Khalik.

Wah, celaka aku!

Begitu di Taman Eden. Itupun terjadi di kekinian. Adam tak kenal lelah beri nama setiap hewan. Aku begitu larut dalam pelayanan. Cinta sejati diganti cinta akal-akalan. Cinta kepada Sang Ilahi tersingkirkan.

Cinta semu, cinta khayalan. Cinta imitasi, cinta tiruan. Berpatok kepada usaha sendirian. Walaupun itu berujud dalam istilah ‘ini pelayanan!’ Apalagi kalau sudah dikatagorikan ke dalam golong kaum rohaniawan. Semua jadinya berantakan.

Sampai kapan sandiwara ini akan diteruskan?

Hingga sadar pasrah diri! Seperti Adam, begitupun kini. Setiap orang, tak terkecuali. Tinggalkanlah usaha sendiri. Walaupun itu pakar dalam teologi. Terhitung ke dalam kaum elite rohani. Apalagi semangat dalam melayani. Setiap insan, semoga cepat sampai di sini. Mengaku: ”Aku sendiri! Aku tak temui!” Salam (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Comments

comments