Sahabat. Perjalanan spiritual ini tidak biasa. Namun kalau mau, siapapun bisa. Tak perlu jebolan perguruan tinggi. Tak butuh kwalifikasi dari sekolah teologi. Apalagi piawai dalam kitab suci. Ini masalah niat hati. Perjalanan hati. Kesediaan intropeksi diri. Setiap langkah terasa asing. Jalan bersama, tapi kita masing-masing. Mari ikut menyaksikan apa yang terjadi di Taman Sorgawi. Ketika Adam tercipta. Dan belum ada Hawa.
Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia [Adam] tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. (Kejadian 2:20)
Berapa lama Adam seorang diri? Bekerja tiada henti. Tak kenal cuti. Sebab hari Sabat belum jadi. Sibuk memberi nama setiap hewani. Apakah dia sibuk ke sana ke mari? Ataukah setiap hewan datang sendiri menghampiri? Alkitab tak merinci. Bisa jadi itu bukan bagian inti. Abaikan yang tak esensi. Jangan terjebak debat yang tak saripati. Yang pasti! Dia hanya berteman sejenis biri-biri. Menoleh ke kanan hanya kelinci. Berpaling ke kiri. Semua jenis hewani.
Bagaimanakah rasanya hidup hanya ditemani punai? Cakapkah Sahabat berimajinasi? Bayangkan suasana hati? Barangkali, lagu ’Sendiri Lagi’ yang dipopulerkan Chrisye klop sebagai ilustrasi.
Tinggallah kusendiri
Dalam sepi ini
Tiada temanku lagi
Tak sanggup hati ini
Sendiri begini
Tanpa dirimu kasih
Tiada arti diriku
Bila kau tak disisiku
Adam sendiri! Sahabat, Adam seorang diri! Ini terjadi selagi belum ada iri. Apalagi dosa dalam hati. Pernahkah Sahabat alami. Merasa sendiri? Sunyi? Sepi? Rasanya ingin mati? Bathin sakit. Meratap sambil kertakan gigi? Dalam keramaianpun, terasa sepi. Kesibukan bekerjapun tak dapat sebagai pengganti. Lapar, makan tak selera. Haus, lihat airpun mual. Gelap, rindukan siang. Terang, tanya bulan dimana. Tidur gelisah. Semua serba salah.
Boleh jadi! Siapa tahu? Adam merasa seperti itu. ’Sendiri!’
Perhatikan pernyataan misterius ini: ’Ia [Adam] tidak menjumpai.’
Wah, tampaknya Adam berjerih payah tak henti. Berusaha sekuat tenaga mencari pengganti. Pengisi hati nan sepi. Setulusnya mengoreksi sendiri. Sebisanya yang ’tidak baik’ itu diperbaiki. Entah berapa lama dia mencoba. Barangkali semua upaya telah diusahakan. Semampunya berjuang memenuhi sendiri. Apa daya, semua itu tak cukup berarti.
Berapa lama Adam berikhtiar? Upaya apa saja yang telah dilakukan? Sampai akhirnya pasrah. Mengapa Allah biarkan? Menunggu dia sadar? Apakah itu yang Dia nantikan? Dia dambakan?
Sudah dari ’sono’, melekat dalam setiap jiwa. Ada yang ’tidak baik.’ Begitulah ’Desain Cinta.’ Desain bahwa manusia tidak ’auto pilot.’ Muskil memenuhi kebutuhan diri sendiri. Apa lagi jalan sendiri. Inheren, manusia itu tidak sempurna. Dia bergantung kepada sesuatu di luar diri. Dia kurang. Butuh. Perlu. Dia tidak cukup dengan dirinya sendiri.
‘Tidak baik,’ memang demikian manusia diciptakan. Itu bukan kutukan. Tapi sebagai tanda cinta ilahi dalam setiap insani. Terpatri dalam nurani. Itu ikatan cinta antara manusia dan Sang Pencipta. Perjanjian cinta yang termaterai di setiap sanubari.
Ada bagian jiwa yang ‘kosong’. Hanya ‘Hawa’ yang mampu menolong. Dibiarkan, hati melompong. Sama dengan bohong. Hidup bolong.
Demikianlah di Taman Sorgawi. Begitupun kini. Itulah esensi manusiawi. Tak ada yang terkecuali.
Hati ada yang bolong. Sering kali ‘Hawa’ dicoba diganti dengan biri-biri. Tergeser oleh punai. Boleh jadi, itu prestasi akademi. Emas perak harta duniawi. Karier melejit bak mimpi. Jabatan di organisasi missi. Terlebih status sebagai kaum elite rohani.
Sampai kapan kebohongan ini akan terus terjadi? Hingga sadar pasrah diri? Semoga kita cepat sampai di sini. Mengaku: “Aku sendiri! Aku tak temui!” Salam (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. |



