129. ’Ini Namanya Cinta’

Viewed : 1,274 views

Sahabat! Hentilah sejenak walau hanya sekelebat. Tinggalkan kesibukan kendati sesaat. Pekerjaan takkan pernah tamat. Hidup ini memang berat. Ingat, Sahabat butuh istirahat. Lihat! Apa yang terjadi di awal kisah manusia. Pada pasal-pasal pertama. Adam hidup sendiri di Taman Sorga. Berapa lama? ‘Aku tak tahu!’ Dalam menunggu, waktu terasa lama berlalu. Ini yang membuat terpaku!

Allah bangga mengakui ada yang ‘tidak baik’. Mengapa Dia tidak kagum dengan kehebatan Adam? Tak terkesima dengan daya tahannya dalam memberi nama binatang? Tak terpesona dengan semangat kerjanya yang tak kenal padam? Tak terpukau dengan talentanya yang tak terbilang? Bukankah semua ini yang didambakan orang?

Mengapa Allah biarkan ‘tidak baik’ itu berkembang? Maaf, itu ‘kan dulu. Tidak. Itu juga sekarang.

Masya Allah! Bukan kehebatan. Bukan kesempurnaan. Tapi kelemahan. Kekurangan dalam setiap insan. Itukah yang ingin Dia tunjukkan? Itukah yang Ia banggakan? Terus terang ya. Kalau aku, itu aib. Memalukan. Disembunyikan. Pura-pura diabaikan. Agar tak diketahui orang.

Ini sulit. Tak dapat dimengerti. Berseberangan dengan niat hati. Seperti siuman dalam mimpi. Tak terselami. Bagaimana sanggup memahami? Terlalu rumit.

Ups! Sejak di Taman Sorgawi. Begitupan kini.

Adam cakap bekerja. Piawai mainkan logika. Berpikir sistimatis bak proses algorithma. Untuk setiap hewan tersedia nama. Ide selalu ada. Tak perlu server penyimpan data. Takkan ada nama yang ganda. Ingat, semua itu ada di ingatan. Kemampuan hafalnya tak diragukan. Semua kerumitan teruraikan. Tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan. Dia tak perlu bantuan. Dikerjakan sendirian. Sempurna! Lulus dengan predikat Summa Cum Laude (lulus dengan kehormatan/ pujian tertinggi). Itu dambaan setiap generasi.

Ups! Sejak di Taman Sorgawi. Begitupan kini.

Allah diam, seperti membiarkan. Kecerdikan dan kemampuan menjadi ‘tuan’ yang diidolakan. Sayang itu tak pernah dapat memuaskan. Hati yang berlobang tetap kesepian. Dan Allah diam. Sampai berapa lama Dia ‘berpangku tangan’?

Sampai Sahabat dan saya tiba pada: ’Aku sendiri. Aku tak temui! Kesadaran tertinggi. Mengakui keterbatasan diri. Ini penyangkalan diri. Bisa jadi, harus menanggung sakit hati tak terpri untuk sampai disini. Sejatinya, setiap insan tak bisa memuaskan hati dengan kemampuan sendiri.

“You’re blessed when you’re at the end of your rope. With less of you there is more of God and his rule. (Matius 5:3, The Message, pengertian yang sepadan: Diberkatilah engkau jika menemui jalan buntu, karena hanya tinggal satu jalan. Lihat ke atas!)

Jika Sahabat sampai di jalan buntu, ujung tali. Tak ada teman berbagi. Tak ada yang mengerti. Sendiri. Sepi. Sunyi. Tak ada harapan lagi. Berbahagialah! Semakin ‘tidak baik’. Semakin lemah. Tak berdaya. Semakin besar kesadaran untuk mengakui ’Aku Sendiri. Aku tak temui!’

Ini namanya cinta. Berdiam diri hingga Sahabat sadar sendiri. Begitulah cinta-Nya.

Wow wow wow, Cinta Ilahi. Cinta tak memanipulasi, sebaliknya tulus dan murni. Tak memaksa, tapi membiarkan. Tak mewajibkan, namun kerelaan. Tak menuntut, melainkan membebaskan. Tak mengikat, melainkan melepaskan.

Itu dulu. Begitupun kini.

Ini namanya Cinta Ilahi. Menunggu! Sampai kapan? Hingga Sahabat dan aku sadar diri. Mengaku ’Aku sendiri. Aku tak temui!’ Aku di jalan buntu!

Namun, siapa yang peduli! Semua teman lari. Tak ada yang empati. Aku sendiri lagi. Tak ada teman yang nemani. Tak terobati. Sakit hati. ‘Sakitnya tuh disini! Di hulu hati.’ Aku di ujung tali!

Ups! Jangan kecil hati. Di ujung tali? Ingat! Sabda Sang Ilahi: ‘Sahabat diberkati!’ Sahabat dikasihi. Sahabat tak seorang diri. Aku juga mengalami. Semoga dapat mencicipi cinta sejati. Begitulah cara kerja Cinta Ilahi. Salam, Tuhan memberkati. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.

Comments

comments