525. Pembangkan Semesta

Viewed : 8 views

”Sejarah peradaban tidak lain adalah riwayat insani yang gemar menggempur takhta ILAHI. Saat titah agung ditampik demi mendaulat ego hati, tampaklah bukti: manusia memang sepenuhnya merdeka untuk memilih jalannya sendiri.”

Peradaban boleh saja silang pendapat perihal diri-NYA. Mulai dari mereka yang memeluk keyakinan beralaskan iman semata bahwa DIA ada, hingga yang kukuh meyakini 100%—merasa ditopang bukti sains termutakhir—bahwa DIA sejatinya tiada! Bagi mereka, semesta ini mewujud akibat kebetulan belaka; jagat raya tak membutuhkan kehadiran Sang PENCIPTA untuk ada.

Pandangan kaum teolog dari pelbagai ranah iman boleh-boleh saja beraneka rupa. Mulai dari yang paling ekstrim membela bahwa DIA adalah Esa titik hingga yang meyakini sejatinya ada berlaksa-laksa keberadaan seperti ‘DIA’ di semesta. Bahkan, ada pula yang memandang hidup ini bak perputaran roda tanpa jeda. Berbahagialah jiwa yang mampu meloloskan diri dari ‘lingkaran’ reinkarnasi menuju nirvana!

Jangankan silang iman antar-agama, di dalam satu rahim keyakinan pun bertunas pelbagai denominasi. Daku—dan boleh jadi juga dikau yang awam—bisa dibuat bingung oleh riuhnya pandangan para teolog. Kian maju peradaban, kian berwarna-warni bentang tafsir para pakar menatap Sang ADA!

Mulai dari denominasi yang bersandar kepada pandangan bahwa nasib insan jauh sebelumnya sudah ditentukan. Kelompok yang menghendaki laku hidup umatnya senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus. Golongan yang dengan lantang menjunjung tinggi otoritas Alkitab. Hingga kaum yang menguduskan hari tertentu sebagai tanda pengenal umatnya.

Apa pun tafsir peradaban perihal diri-NYA, dan bagaimana pun insan memaknai siapa DIA, satu hal yang mutlak nyata: DIA menganugerahkan kemerdekaan bagi jiwa untuk memilih jalan! Sila Puan dan Tuan melangkah ke kiri atau mengayun ke kanan. Pilihan sepenuhnya ada di tangan!

Dalam drama The First Rebellion, insan menjatuhkan pilihannya pada rayuan maut sang ular. Baik insan maupun sang lawan menerima cawan hidup selaras pilihan, seturut apa yang diinginkan. Semua berjalan tunduk pada aturan main yang telah ditetapkan.

Narasi The Second Rebellion bermula di ranah tak kasatmata. Makhluk dari dimensi yang tak kelihatan mengambil keputusan untuk melompati batas tabu yang telah ditetapkan, lalu berasimilasi dengan insan. Lahirlah generasi hybrid—para Nephilim, kaum raksasa di bumi—sebagai buah dari pilihan.

⁴Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” (Kejadian 11)

Namun dalam kisah The Third Rebellion, peradaban secara terang-terangan dan bulat tekad menggugat The Original Plan! Mandat mulia untuk memenuhi bumi ditampik mentah-mentah lewat pilihan untuk menolak tersebar. Perlawanan semesta ini diwujudkan melalui pembangunan Menara Babel—sebuah monumen pembangkangan peradaban.

Inilah pemberontakan semesta—tatkala seluruh insan di era itu bersepakat menyingkirkan rencana-NYA demi gagasan sendiri! Entah bagaimana peradaban sampai pada mufakat bulat untuk mendaulat diri, semuanya demi memahat kemasyhuran nama insani.

Prahara Babel purba itu, mungkinkah kini tengah menemukan cermin pantulnya pada apa yang sedang bergolak di parlemen Kanada akhir-akhir ini?

Belum lama ini, pengesahan RUU C-9 di sana mendadak jadi hot news yang mengguncang batin. Regulasi ini memicu kegemparan karena terindikasi kuat bakal menuduh nilai-nilai Alkitab—terutama perihal keluhuran pernikahan, seksualitas, dan hakikat dosa—ke dalam kategori “hate speech”!

RUU ini dirancang untuk membendung kebencian terhadap mereka yang memiliki orientasi seksual berbeda dari mainstream— kaum yang memandang laku hidup tersebut sebagai sebuah dosa. Peradaban kini tengah menuju kedaulatan pilihannya sendiri, menggariskan timbangan baru untuk menentukan apa yang dianggap ‘normal’ dan apa yang tidak.

Aaahhh… pilihan sepenuhnya kini berada di tangan Puan dan Tuan. Hendak larut dalam pembangkangan semesta, atau memilih setia kepada-NYA—sekalipun itu berarti harus tegap menerjang derasnya arus peradaban. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments