519. The Reconciliation

Viewed : 22 views

“Maut adalah putusnya relasi. Akan tetapi, hidup yang fana menjadi berkat baka saat Anda rela membentangkan diri; menjadi jembatan untuk sang pengembara pulang menyambung tali rindu dengan Sang ILAHI.”

Daku sulit memahami fakta ini! Semakin diselami, semakin sadar akan keterbatasan nalar. Walau logika mendesak untuk mengurai cerita, akhirnya tiba juga di titik pasrah diri. Jika alur kisah buntu bagi rasio, biarlah hati ambil komando. Sebab, acap kali sesuatu itu gelap bagi nalar, namun berbinar-binar bagi hati.

Di luar Sang PENCIPTA, segala sesuatu hanyalah ciptaan. Makhluk yang bermula dari tiada menjadi ada, memiliki titik awal. Seluruh eksistensinya bergantung mutlak pada Sang Sumber Hidup. Sebab, terlepas dari Sang HIDUP, pupuslah keberadaannya—lenyap dalam dekapan mati.

Narasi Kejadian 3 —the first rebellion— menyingkap pilihan manusia untuk terlepas dari Sang PENCIPTA. Maut pun menjadi konsekuensi logis saat Adam-Hawa memilih memutus diri dari Sumber HIDUP (Kejadian 3:3).

Lantas, apa artinya bagi daku yang hidup beribu-ribu laksa masa kemudian?

Eeemmm… Kematian!

Adam-Hawa terusir dari rumah BAPA—Taman Eden. Setiap generasi dan keturunan setelahnya, hingga sampai ke ambang pintuku, terikat erat dengan fakta ini. Maka, the first rebellion itu menjadi semacam ‘gerbang’ yang ternganga bagi maut untuk merambah masuk ke ranah dimensi bumi (Roma 5:12)

Terputus dari Sang Sumber HIDUP sejatinya adalah hakikat dari kematian. Mati, dalam makna paling purba, berarti tercerai dari akar kehidupan. Keadaan ini sering digambarkan sebagai tempat yang mengerikan—neraka!

Sementara itu, narasi the second rebellion dalam Kejadian 6 mengisahkan makar makhluk dimensi seberang. Mereka melintasi tapal batas, berasimilasi dengan insan hingga melahirkan keturunan anomali. Pelanggaran tabu ini membuahkan trah sungsang yang secara fisik terus menghantui garis keturunan Nuh, mengintai bangsa Israel di gerbang Tanah Perjanjian (Bilangan 13:33), bahkan hingga di era raja Daud (1 Samuel 17:4).

Tafsir purba—yang umumnya dipahami umat pada era The Second Temple seperti dari sumber kitab extra-biblical— menyingkap bahwa arwah dari keturunan sungsang itu menjadi roh-roh jahat. Mereka gentayangan, menjadi seteru yang tiada henti melawan umat TUHAN (Kitab Enok 15:8-12). Kelak, rasul Paulus pun menggemakan fakta ini sebagai pengingat bagi jemaat di Efesus tentang medan laga yang tidak kasat mata (Efesus 6:11-12).

Bolehlah dikata, jika narasi Kejadian 3 membuka ‘pintu maut’ bagi kesemantaraan hidup di bumi, maka pasal 6 menyingkap fakta di luar hukum alam. Ada roh-roh jahat di udara yang senantiasa menyusup, memengaruhi denyut peradaban melalui pusaran sosial-politik, tatanan kuasa, hingga kemajuan ilmu pengetahuan.

Sang BAPA—seperti hati yang remuk dalam kisah Anak Hilang—senantiasa merindu kepulangan daku, sang pengembara. Sementara itu, sang ular beserta antek-anteknya, roh-roh jahat di udara, justru mengerahkan segala muslihat demi mencegah langkah pulang itu! Inilah ketegangan kosmik yang tiada ujung; medan tempur hidup-mati yang berkecamuk selama hayat masih di kandung badan.

Jadi, ini bukanlah isu agama, doktrin, apalagi ritual lahiriah! Isu utamanya adalah pemulihan relasi dengan Sang Sumber HIDUP. Pertempuran sesungguhnya berlangsung di medan rekonsiliasi dengan Sang ILAHI dan sesama manusia. Namun, si jahat begitu lihai membius peradaban, menghasut insan untuk bermusuhan dan saling menghunus pedang bahkan demi membela agama.

Kelak di penghujung masa, Sang SAUDARA (Ibrani 2:11) dengan tangan berlubang paku, kembali merangkul sang pengembara. Ia membentangkan jalan agar daku beroleh damai dengan Sang BAPA! Fakta ini menyingkap misteri terdalam: mengapa rasul Paulus menyebut seluruh ikhtiarnya sebagai sebuah the misitry of reconciliation— sebuah upaya pemulihan hubungan (2 Korintus 5:18-19).

Di tengah bara konflik perang global, hingga riuh rendahnya seteru doktrin di jagat maya—bahkan di tengah tajamnya gesekan SARA di tanah air—semoga kehadiran Puan dan Tuan membawa kesejukan bagi hati yang rindu pulang ke rumah BAPA (Matius 5:9). Semoga! (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments