502. Communion

Viewed : 468 views

“Sedari Eden, kerinduan-NYA ‘curhat’ dari hati ke hati. Bukan hubungan kaku melalui ritual baku. Communion yang tak mengenal sekat dan perantara, di mana hidup kekal berarti terus mengenal Sang Kekasih SEJATI.”

Bagaimana jika di balik berbagai agama, keyakinan, dan aneka isme/ paham yang bertebaran di abad ke-21, sesungguhnya tidak lahir dari benih ide murni manusia? Ada bayang kelam tak kasat mata, sosok samar di balik layar, yang menggoda peradaban dengan tipu daya deepfake yang licik! Itulah siasat alam kegelapan, jerat halus yang merayu peradaban untuk berselingkuh dari Sang Kekasih SEJATI (2 Korintus 11:3).

Bagaimana jika di balik lahirnya gagasan tentang bangunan megah—rumah ibadah, kuil, altar korban, dan ritual—terendus bau tak sedap dari sang aktor utama dalam drama pemberontakan purba manusia? Akal bulus yang mengarahkan manusia menyusun aturan sendiri untuk menjangkau alam adi-kodrati, seakan menempatkan diri sejajar dengan Sang Pencipta. Bahkan berani memaksa Sang Maha Kuasa tunduk pada tarian permainan buatan manusia (Matius 15:8–9).

Ini bukan sekadar sejarah lampau. Bukan pula dongeng Mesopotamia kuno. Bukan! Sesungguhnya, ini adalah bagian dari kisah hidupku dan hidupmu. Realitas yang nyata, yang akan terus juga dihadapi generasi selanjutnya. Walau narasinya berakar sejak purba, kini pun hati Adinda tetap menjadi medan perebutan antara Sang Sosok dan Sang Kekasih SEJATI.

Inilah narasi pencarian umat manusia, kerinduan yang terpatri, built in, di relung hati setiap insan sejak lahir ke dunia (Pengkhotbah 3:11). Upaya habis-habisan untuk kembali menghadirkan bayangan Taman Eden, namun tanpa DIA di bumi fana. Usaha menembus alam ilahi dengan kekuatan sendiri. Maka lahirlah aneka agama yang menjanjikan jalan menuju surga.

Bagaimana jika pada mulanya tidak ada agama?

Maka tak dikenal bangunan suci sebagai rumah ibadah, tak ada altar korban, apalagi ritual dengan tata cara yang baku. Waktu dan hari istimewa belum dikenal yang seakan hanya di saat itulah DIA berkenan dijumpai. Gagasan-gagasan yang sesungguhnya hanyalah hasil rekayasa pikiran manusia—usaha memastikan kehadiran-Nya tepat di lokasi dan di saat yang diinginkan.

Di Taman Eden, agama adalah istilah asing, tak pernah tercatat dalam agenda rencana-NYA sejak semula. Tak diperlukan perantara dari golongan elite rohaniawan sebagai wakil umat untuk menggelar ritual demi mengundang hadirnya alam ilahi. Tak dikenal pula sekat yang memisahkan pekerjaan rohani dari pekerjaan duniawi—segala gerak hidup menyatu dalam hadirat-NYA.

Bagaimana jika pada mulanya hanyalah relasi, communion, persekutuan akrab bak dua sahabat?

Lihatlah! Adam dan Hawa bercakap-cakap dengan Sang Pencipta, muka berhadapan muka, tanpa tabir rahasia—segala sesuatu terbuka. Di Taman Eden, mereka tak perlu mencari TUHAN, sebab bagaikan udara surgawi yang segar, hadirat-NYA meresapi segala ruang.

Tak dibutuhkan bangunan ibadah, sebab bait itu melekat di hati (Matius 15:8; 1 Korintus 3:16). Tak dikenal waktu atau hari khusus, sebab relasi berlangsung dalam denyut hidup sehari-hari, bukan dalam program atau kegiatan (Roma 12:1–2). Tak diperlukan kasta rohaniawan, sebab setiap insan adalah imam (1 Petrus 2:9). Tak dikenal pula dikotomi duniawi dan rohani, sebab bagi Adam, memberi nama segala binatang adalah jalan bergaul dengan TUHAN (Kejadian 2:20,21).

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

Sejak semula, rencana-NYA tak pernah bertalian dengan agama, melainkan dengan relasi, dengan Communion. Dalam persekutuan itu ada proses saling mengenal seiring berjalannya waktu pengenalan semakin maju. Walau kelak daku dan dikau akan berjumpa muka dengan muka dengan DIA (1 Yohanes 3:2; 1 Korintus 13:12), namun diperlukan keabadian untuk mengenal Sang Kekasih SEJATI.

Sejak dari Taman Eden, kini, hingga menembus dimensi keabadian, YHWH merindu dikenal insan sebagai kekasih hati-NYA. Sebuah proses panjang tanpa ujung, berlanjut bahkan hingga melintasi seberang kehidupan. Itulah rencana-NYA sejak semula: agar daku dan dikau mengenal-NYA! Tidak lebih, tidak kurang.

Aaahhh…relasi inipun satu pilihan dan itu ada di tangan Puan dan Tuan. Bak jatuh cinta, DIA rela bertepuk sebelah tangan. Relasi murni nan sejati baru terjadi jika Adinda bersedia dan dilakukan dengan suka hati! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments