491. Jeritan Batin

Viewed : 328 views

Misteri Babel telah menancap dalam di jantung peradaban. Ke mana harus berlari, jalan mana harus ditapaki, jika batin terus memberontak, ingin pulang ke rumah BAPA? Maksud hati memalingkan wajah dari Sang Pencipta, namun jeritan batin tak sejalan dengan logika: ada kerinduan yang tak bisa dibungkam!

Sudah kodratnya: manusia diciptakan menurut gambar dan rupa-NYA (Kejadian 1:26). Jejak guratan ilahi itu tak dapat disangkal, apalagi dibuang. Kerinduan untuk pulang ke rumah BAPA menjadi nyala yang tak padam—pencarian peradaban sepanjang zaman.

Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. (Pengkhotbah 3:11)

Ziggurat—kompleks kuil dari Mesopotamia kuno—berdiri sebagai monumen abadi atas kerinduan manusia untuk kembali bertegur sapa dengan Sang Kuasa. Di antara batu dan tangga yang menjulang, tersimpan nyala batin yang tak padam—sebuah bisikan purba untuk menemukan kembali jalan pulang.

Kegelisahan peradaban melahirkan beragam ikhtiar insani—sebuah ungkapan kerinduan untuk kembali bertemu dengan YHWH yang telah mereka kesampingkan. Manusia pun mereka-reka tata cara demi mencari wajah-NYA. Tata cara itu, kelak, menjelma menjadi ritual baku: gerak tubuh, nyanyian, dan persembahan yang ditujukan kepada Sang Pencipta.

Abang-adik, Kain dan Habil, mengambil inisiatif bak trial and error—mencoba mempersembahkan sesuatu yang mungkin berkenan di hadapan-NYA (Kejadian 4:2–5). Mereka mengorbankan apa yang mereka punya, lalu membakarnya. Asap pun naik ke langit, membawa harap dan gentar sebagai ekspresi nyala batin untuk mencari wajah-NYA.

Sebagai petani, wajar bila Kain mempersembahkan beragam hasil bumi—tumbuh-tumbuhan dari keringatnya sendiri. Demikian pula Habil, sang gembala, mempersembahkan anak sulung dari kawanan biri-biri.

Kemungkinan besar, Kain dan Habil hanya mengikuti naluri—tuntunan hati untuk mengorbankan yang terbaik dari yang dimiliki. Kelak, bentuk korban ini menjadi ciri khas ritual seluruh keyakinan di muka bumi: usaha menyenangkan hati sang dewa, bahkan menjadi bagian dari prosesi penolak bala.

Peristiwa Menara Babel dapat disebut sebagai bentuk agama terorganisir pertama yang tercatat dalam Alkitab. Para imam, sebagai wakil surga, bertanggung jawab melaksanakan ritual demi mengundang kehadiran para dewa. Sementara umat kebanyakan—kaum awam—hanya menjadi peserta pasif dalam prosesi sakral. Para dewa berkomunikasi dengan golongan elite rohaniawan, menyampaikan pesan-pesan ilahi, sedangkan kaum awam hanya bisa menganga, menanti asupan dari para imam yang bertindak sebagai wakil dewa di bumi.

Spirit Babel menjelma secara rohani menjadi fondasi bagi ritual semua agama. Kaum rohaniawan dipandang sebagai wakil Tuhan, sementara sisanya disebut kaum awam—mereka yang bergelut dengan perkara duniawi. Golongan imam dianggap bekerja di ranah rohani, sedangkan kaum awam hanya menyentuh yang jasmani.

Tak terkecuali, roh Babel telah meresap ke dalam tiga agama samawi—dan terus berdenyut hingga kini. Dikotomi antara pekerjaan sekuler dan spiritual telah merasuk ke dada umat, membelah hidup menjadi dua ranah yang tak lagi menyatu.

”Munculnya peran golongan imam lebih parah merusak otoritas Perjanjian Baru dibandingkan dengan bidat!” Demikian ucap James D.G. Dunn, teolog Perjanjian Baru yang disegani.Padahal semua umat percaya—tak satu pun terkecuali—dipanggil menjadi bagian dari imamat yang rajani (1 Petrus 2:9). Namun peran itu sirna, dikebiri oleh kaum imam yang menjelma sebagai pemegang agen tunggal penyampai suara surga.

Umumnya umat menganggap pekerjaan rohani terbatas pada perkara-perkara ritual yang dianggap suci. Tanpa disadari, tak terhitung jumlah kaum awam merasa terhakimi— guilty feeling—karena dari pagi hingga petang hanya bergelut untuk mencari sesuap nasi.

Siapakah yang dapat melepaskan daku dari rasa bersalah ini?

Aaahhh…! YHWH memilih untuk diam—membiarkan manusia bertindak menurut pilihan hati.

Surga tak lagi bersuara, hanya sunyi yang menggema. Dan dalam sunyi itu, daku berdiri: menanti suara yang bukan berasal dari mimbar, melainkan dari jeritan batin ordinary people yang dianggap hanya larut dengan pekerjaan duniawi. Sekarang bagian Anda -kaum awam- untuk bersuara. Silahkan! (nsm).

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments